Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi emisi karbon dioksida (CO2). ( Foto; geographical.co.uk )

Ilustrasi emisi karbon dioksida (CO2). ( Foto; geographical.co.uk )

Pemulihan Ekonomi Global Berdampak ke Emisi CO2

Rabu, 21 April 2021 | 06:34 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) pada Selasa (20/4) mengingatkan bahwa emisi gas karbondioksida (CO2), yang berdampak pada berubahnya kondisi iklim, tahun ini akan melonjak ke level terbesar kedua dalam sejarah. Sementara penyebabnya adalah pulihnya ekonomi global dari dampak-dampak pandemi virus corona Covid-19.

Hal ini disampaikan IEA, selang beberapa hari menjelang pertemuan puncak tentang perubahan iklim yang akan dipimpin Amerika Serikat (AS). Dalam laporan tahunan Kajian Energi Global (Global Energy Review), IEA memperkirakan bahwa emisi CO2 pada tahun ini akan meningkat hampir 5% menjadi 33 miliar ton. Catatan ini membalikkan sebagian besar penurunan yang dicatat tahun lalu akibat pandemi menggerogoti ekonomi global.

Meskipun emisi CO2 diproyeksikan tetap di bawah level 2019, IEA memprediksi permintaan energi global melampaui level 2019. Di mana gas dan batu bara naik di atas level pra-pandemi.

“Emisi karbon global akan melonjak 1,5 miliar ton tahun ini karena didorong oleh kebangkitan kembali penggunaan batu bara di sektor listrik. Ini adalah peringatan mengerikan, bahwa pemulihan ekonomi dari krisis Covid saat ini sama sekali tidak berkelanjutan bagi iklim kita,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam pernyataan yang dikutip AFP.

Dia menyebut, pertempuan puncak para pemimpin dunia tentang iklim yang akan diselenggarakan oleh Presiden AS Joe Biden pada 22-23 April 2021, sebagai momen penting bagi negara-negara untuk berjanji melakukan tindakan segera sebelum Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ditetapkan pada November 2021 di Glasgow, Skotlandia.

“Kecuali pemerintah di seluruh dunia bergerak cepat untuk mulai mengurangi emisi, kita kemungkinan besar akan menghadapi situasi yang lebih buruk pada tahun 2022,” tambah Birol.

IEA sendiri telah menyaksikan lonjakan permintaan batu bara 4,5%, melampaui level 2019 dan mendekati puncaknya sepanjang masa dari 2014. Hal ini menjadi alasan terbesar di balik kenaikan emisi CO2.

Bahkan, sektor kelistrikan diklaim menyumbang tiga perempat dari kenaikan ini. Selain itu, lebih dari 4/5 dari kenaikan permintaan batu bara berasal dari Asia, yang dipimpin oleh Tiongkok. Walau sebenarnya permintaan batu bara Amerika Serikat (AS) dan Eropa juga diperkirakan mengalami peningkatan.

Padahal peningkatan penggunaan batu bara akan mengerdilkan energi terbarukan. Tapi pembangkit listrik dari sumber terbarukan diperkirakan masih akan melonjak lebih dari 8% pada tahun ini. Menurut perkiraan IEA, baik energi matahari maupun angin akan mencatat kenaikan tahunan terbesar mereka, yakni sekitar 17%.

Diperkirakan energi terbarukan akan menyediakan 30% pembangkit listrik di seluruh dunia pada 2021, bagian terbesar mereka yang pernah dan naik dari kurang dari 27% pada 2019. Tiongkok diperkirakan menyumbang hampir setengah dari kenaikan itu. Sementara permintaan minyak pulih dengan kuat, IEA memperkirakan levelnya tetap di bawah tingkat pra-pandemi karena sektor penerbangan masih berjuang untuk pulih akibat peluncuran vaksin yang lambat dan tidak merata.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN