Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.  ( Foto: STEFAN ROUSSEAU / POOL / AFP )

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. ( Foto: STEFAN ROUSSEAU / POOL / AFP )

Layanan Kesehatan Inggris di Bawah Tekanan

Minggu, 16 Mei 2021 | 13:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Layanan Kesehatan Nasional (NHS) – lembaga nasional yang didanai oleh perpajakan dan menyediakan perawatan kesehatan gratis – berada di bawah tekanan yang parah. Bahkan kondisi ini terjadi sebelum krisis kesehatan global melanda.

“NHS baru saja menyelesaikan musim dingin yang paling sulit. Kami terlambat melakukan perawatan, pada semua metrik,” ujar Stuart Tuckwood, seorang perawat dari serikat sektor publik Unison.

Pada April tahun lalu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dokter dan perawat yang telah menyelamatkan nyawanya, setelah dia berada dalam perawatan intensif di rumah sakit karena terpapar virus corona Covid-19.

Bahkan dalam pidato emosionalnya yang ditayangkan di televisi, dia menjanjikan semua dana yang diperlukan untuk Layanan Kesehatan Nasional (NHS) – yang dikelola negara sekaligus merupakan perusahaan terbesar di Eropa.

Namun kenyataan di lapangan, 12 bulan kemudian para tenaga kesehatan yang berada di garis depan mengatakan, janjinya ibarat tong kosong berbunyi nyaring, dan merasa telah dikhianati. Para ahli pun memperingatkan sistem itu kolaps karena minim investasi.

Rumah sakit-rumah sakit harus mengatasi dua gelombang Covid-19 yang menghancurkan. Yang membuat staf mencapai batasnya dan menempatkan kapasitas pada titik puncaknya. Sejak wabah di Inggris dimulai, lebih dari 127.000 jiwa meninggal dunia setelah dinyatakan positif mengidap Covid-19. Angka ini adalah salah satu jumlah kematian terburuk di dunia.

“Staf mengalami kelelahan secara fisik dan mental. Indikasi bahwa pemerintah akan menawarkan kenaikan satu persen untuk pekerja NHS, rasanya seperti pengkhianatan besar-besaran,” kata Tuckwood kepada AFP.

Kenaikan gaji yang diusulkan telah menyebabkan kemarahan besar, dan mendorong seruan dari oposisi utama partai Buruh - yang mendirikan NHS pada 1948 - untuk memberikan penghargaan yang jauh lebih besar.

Bahkan bintang pop Dua Lipa, yang ikut serta dalam acara Brit Awards pekan ini, mengatakan para pekerja garis depan harus diberi kenaikan gaji yang adil.

Mengundurkan Diri

Survei Asosiasi Medis Inggris terhadap 2.100 staf menunjukkan, bahwa lebih dari satu dari lima berencana untuk mundur dari NHS dan berganti karier, karena stres dan kelelahan terkait Covid.

Perawat sudah sejak lama dibayar rendah. Sementara itu para pembantu dan staf lain berpenghasilan lebih rendah, serta banyak dari mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Royal College of Nursing menginginkan kenaikan gaji 12,5%. Sedangkan Unison meminta bonus satu kali sebesar 2.000 poundsterling (US$ 2.809, 2.325 euro) per orang untuk tahun itu.

Franco Sassi, profesor ekonomi dan kebijakan kesehatan internasional di Imperial College, mengaku prihatin tentang kurangnya dana struktural tambahan untuk NHS, di luar komitmen belanja untuk menghadapi keadaan darurat pandemi.

“Anggaran belanja kesehatan di Inggris 43% lebih rendah daripada di Jerman, dan 15% lebih sedikit daripada di Prancis sebelum krisis,” demikian tulisnya dalam sebuah catatan di situs laman universitas.

Sementara itu, jumlah dokter – yang mencapai 2,8 per 1.000 orang – juga diklaim jauh di bawah rata-rata Uni Eropa (UE). Inggris pun disebut-sebut memiliki jumlah tempat tidur rumah sakit terendah kedua di Eropa.

“Jika akumulasi ini tidak diatasi, NHS akan gagal memenuhi kebutuhan dan harapan pasien di dunia pasca pandemi. Ini akan menempatkan tuntutan tambahan pada keuangan publik, yang sudah berada di bawah tekanan yang signifikan. Tetapi risiko yang timbul jika NHS kekurangan dana terlalu besar,” tutur Sassi.

Pemerintah Konservatif Johnson – yang kerap dituduh ingin memprivatisasi NHS – telah mempertahankan penghargaan gaji yang diusulkan. Namun Departemen Kesehatan menunjukkan, bahwa kenaikan gaji sektor publik telah ditangguhkan karena situasi ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN