Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan botol vaksin Covid-19 buatan berbagai negara yang berada di pusat vaksinasi Beograd di Serbia, (kiri-kanan): Sinopharm Group Co., Sputnik V buatan Rusia, Pfizer Inc. dan BioNTech SE, serta Oxford-AstraZeneca (Covishield India). ( Foto: OLIVER BUNIC / AFP )

Deretan botol vaksin Covid-19 buatan berbagai negara yang berada di pusat vaksinasi Beograd di Serbia, (kiri-kanan): Sinopharm Group Co., Sputnik V buatan Rusia, Pfizer Inc. dan BioNTech SE, serta Oxford-AstraZeneca (Covishield India). ( Foto: OLIVER BUNIC / AFP )

Dua Vaksin Efektif Lawan Varian India

Selasa, 25 Mei 2021 | 06:43 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Sebuah studi baru telah menemukan bahwa dua dosis vaksin buatan Pfizer-BioNTech atau AstraZeneca-University of Oxford dapat memberikan perlindungan yang efektif terhadap varian baru virus corona Covid yang pertama kali ditemukan di India. Namun vaksin ini baru efektif ketika diberikan dalam dua dosis, dan kurang efektif jika hanya satu kali suntik.

Studi yang dipimpin oleh Kesehatan Masyarakat Inggris atau Public Health England (PHE) juga menemukan, bahwa dua dosis dari vaksin tersebut sama efektifnya dalam melindungi varian baru Covid-19 yang pertama kali muncul di Inggris dan sejak itu menjadi jenis yang dominan ada di Barat.

Menurut CEO Badan Keamanan Kesehatan (Health Security Agency) Inggris kepada BBC, Dr Jenny Harries, hasil penelitian tersebut memberikan bukti pertama di dunia nyata tentang keefektifan vaksin terhadap varian yang pertama kali diidentifikasi di India.

Penelitian yang dilakukan antara April dan Mei menemukan, bahwa vaksin Pfizer-BioNTech 88% efektif melawan gejala penyakit dari varian Covid B.1.617.2 dua pekan setelah memperoleh dosis kedua. B.1.617.2 merupakan sub-tipe dari varian yang muncul di India pada musim gugur lalu, yang telah menyebar ke Eropa.

Vaksin Pfizer-BioNTech juga 93% efektif melawan varian B.1.1.7 – yang pertama kali ditemukan di Inggris pada musim gugur lalu – dua pekan setelah mendapat dosis kedua

Sedangkan dua dosis vaksin AstraZeneca disebut 60% efektif melawan gejala penyakit varian B.1.617.2 dari India. Angka ini lebih rendah dibandingkan 66% efektivitasna melawan varian Covid dari Inggris.

“Efektivitas vaksin terhadap gejala penyakit dari varian B.1.617.2 serupa setelah diberikan 2 dosis, dibandingkan dengan varian B.1.1.7 (Kent) yang dominan di Inggris. Kami berharap dapat melihat tingkat efektivitas yang lebih tinggi terhadap pasien yang dirawat inap dan terhadap angka kematian,” demikian catatan para penulis penelitian, yang dikutip CNBC.

Meskipun hasil penelitian telah diterbitkan secara pra-cetak pada Sabtu (22/5), belum memperoleh tunjauan dari rekan-rekan sejawatnya.

Menurut PHE perbedaan efektivitas antara vaksin setelah dua dosis dapat dijelaskan oleh fakta, yakni karena peluncuran dosis kedua AstraZeneca yang lebih lambat daripada vaksin Pfizer-BioNTech. Dan data lain pada profil antibodi yang menunjukkan, bahwa dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai efektivitas maksimum dengan vaksin AstraZeneca.

Namun, kedua vaksin itu hanya efektif 33% melawan gejala penyakit dari varian Covid B.1.617.2 tiga pekan setelah dosis pertama. Dalam jangka waktu yang sama, vaksin ini juga diketahui 50% efektif melawan varian B.1.1.7.

Varian Mengkhawatirkan

Sebagai informasi, varian baru Covid-19 yang pertama kali ditemukan di India dituding sebagai penyebab kemunculan gelombang ketiga kasus infeksi yang dramatis dari di negara itu, sehingga membebani rumah sakit dan menyebabkan ribuan jiwa meninggal dunia pada musim semi ini.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa vaksin-vaksin Covid dapat dianggap kurang efektif melawan varian tersebut sehingga diperlukan data terbaru yang bakal membantu menghilangkan kekhawatiran tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa saat ini varian India telah terdeteksi di banyak negara lain. WHO menjulukinya sebagai varian yang menjadi perhatian, pada awal Mei.

Studi PHE menganalisis data 1.054 orang, dari semua kelompok umur dan beberapa etnis, yang dikonfirmasi memiliki varian B.1.617.2 melalui pengurutan genom. Data ini dikumpulkan mulai 5 April, dan karenanya mencakup periode sejak varian B.1.617.2 (salah satu dari tiga tipe sub-varian yang ditemukan di India) muncul di beberapa bagian Inggris Raya.

“Seperti varian lainnya, tingkat keefektifan yang lebih tinggi diharapkan dialami oleh para pasien rawat inap dan kasus kematian. Saat ini terdapat kasus dan periode tindak lanjut yang tidak mencukupi untuk memperkirakan efektivitas vaksin terhadap hasil yang parah dari varian B.1.617.2. PHE akan terus mengevaluasinya selama beberapa minggu mendatang,” demikian tambahan penulis studi tersebut.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock menggambarkan temuan tersebut sebagai sebuah terobosan sekaligus membuktikan betapa berharganya program vaksinasi Covid-19 yang dijalankan oleh Inggris.

Data pemerintah menunjukkan, Inggris telah memberikan lebih dari 22 juta orang dua dosis vaksin Covid, sementara 72% dari populasi (atau hampir 40 juta orang) yang sudah mendapatkan satu kali suntikan.

Hancock mengatakan, data terbaru menekankan betapa pentingnya dosis kedua untuk mengamankan perlindungan sekuat mungkin terhadap Covid-19 dan variannya.

Analisis PHE terpisah pun menunjukkan, bahwa program vaksinasi Covid-19 di negara itu sejauh ini telah mencegah 13.000 kematian dan sekitar 39.100 rawat inap pada orang tua di Inggris, hingga 9 Mei.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN