Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan botol vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech disimpan dalam lemari pendingin sebelum dikemas untuk dikirim ke AGEPS (Agence Generale des Equipements et Produits de Sante - Badan Umum Peralatan dan Produk Kesehatan), sebuah gudang rumah sakit umum di pinggiran kota Paris, pada 30 Maret 2021. ( Foto:  JOEL SAGET / AFP )

Deretan botol vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech disimpan dalam lemari pendingin sebelum dikemas untuk dikirim ke AGEPS (Agence Generale des Equipements et Produits de Sante - Badan Umum Peralatan dan Produk Kesehatan), sebuah gudang rumah sakit umum di pinggiran kota Paris, pada 30 Maret 2021. ( Foto: JOEL SAGET / AFP )

UE, Inggris, Jepang Semakin Ragu dengan Pembebasan Paten Vaksin

Rabu, 2 Juni 2021 | 06:52 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Uni Eropa (UE), Inggris, dan Jepang terus menyuarakan keraguan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terhadap usulan pembebasan paten atau hak kekayaan intelektual (HAKI) produk-produk yang berkaitan dengan Covid-19, seperti vaksin.

Seorang pejabat di WTO mengatakan, usulan untuk memulai diskusi berbasis teks tentang pembebasan haki telah menuai ketertarikan – daripada membahas yang lebih umum – di pertemuan informal dewan Perjanjian WTO mengenai Aspek-aspek Hak Kekayaan Intelektual Terkait Perdagangan (Trade-Related Aspects of IP Rights/TRIPS).

“Amerika Serikat (AS), Tiongkok, Ukraina, dan Selandia Baru telah mendukung upaya-upaya untuk mengesampingkan syarat-syarat TRIPS tertentu yang berkaitan dengan pencegahan medis, penahanan atau alat-alat pengobatan yang diperlukan untuk memerangi Covid-19. Namun, beberapa anggota terus menyatakan keraguan tentang kenyamanan memulai negosiasi dan meminta lebih banyak waktu untuk menganalisis proposal tersebut,” ujar pejabat itu, yang dikutip AFP, pada Selasa (1/6).

Ada pun beberapa anggota WTO yang dimaksud, termasuk Uni Eropa, Australia, Brazil, Inggris, Jepang, Norwegia, Singapura, Korea Selatan, Swiss dan Taiwan.

Sebegai informasi, perjanjian-perjanjian di WTO memerlukan dukungan konsensus dari 164 negara anggota. Sementara itu, India dan Afrika Selatan yang mengajukan ide awal pada Oktober, telah mengajukan proposal yang direvisi, yang saat ini mendapat dukungan dari 63 anggota WTO.

Naskah proposal baru – yang mereka dan pendukung lainnya – yang telah diedarkan menyebut, bahwa pengesampingan harus berlaku tidak hanya untuk vaksin, tetapi juga untuk perawatan, diagnostik, perangkat medis dan peralatan pelindung, sekaligus bahan-baku dan komponen yang diperlukan untuk memproduksinya.

Usulan itu juga mengungkapkan, bahwa pengabaian harus berlangsung selama setidaknya tiga tahun sejak tanggal diberlakukan. Selanjutnya Dewan Umum WTO harus menentukan apakah pembebasan haki harus diperpanjang.

Pentingnya HAKI

Pejabat perdagangan itu mengatakan, masalah perbedaan berlanjut pada pertanyaan apakah, dan sejauh mana, perlindungan HAKI bakal menahan tujuan mengalahkan pandemi, juga mengenai penggunaan dan potensi peningkatan fleksibilitas yang ada dalam persyaratan TRIPS.

“Pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan, di antaranya soal durasi dan penghentian pembebasan yang diusulkan,” kata pejabat itu.

Di sisi lain, lanjut pejabat itu, Amerika Serikat menyatakan terbuka untuk melakukan pembicaraan berbasis naskah proposal apa pun yang dapat mengatasi kebutuhan mendesak guna meningkatkan produksi, dan distribusi vaksin,

“Tiongkok mengatakan, karena proposal awal telah ditetapkan pada bulan Oktober, sudah waktunya untuk pindah ke tahap berikutnya. Pakistan, Argentina, Bangladesh, Mesir, Indonesia, dan Kenya termasuk di antara negara-negara yang menyatakan perlunya memulai negosiasi,” tambah pejabat itu.

Menurut hitungan AFP, lebih dari 1,9 miliar dosis vaksin Covid-19 telah disuntikkan di setidaknya 213 wilayah di seluruh dunia. Baru 0,3% vaksin Covid-19 yang diberikan di 29 negara berpenghasilan terendah, rumah bagi 9% dari populasi dunia.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN