Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pelanggan sedang melihat-lihat buah dan sayuran di kios penjual sayur, di pasar Kirkgate di Leeds, Inggris utara pada 6 Januari 2021, di hari kedua karantina nasional Inggris untuk memerangi penyebaran Covid-19. ( Foto: Oli Scarff / AFP )

Pelanggan sedang melihat-lihat buah dan sayuran di kios penjual sayur, di pasar Kirkgate di Leeds, Inggris utara pada 6 Januari 2021, di hari kedua karantina nasional Inggris untuk memerangi penyebaran Covid-19. ( Foto: Oli Scarff / AFP )

Pemulihan Ekonomi Inggris Sangat Lambat

Sabtu, 11 September 2021 | 06:54 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id – Laju pemulihan ekonomi Inggris dilaporkan melambat tajam pada Juli dikarenakan naiknya kasus Covid-19, dan kekurangan pasokan untuk mengimbangi pencabutan aturan pembatasan lebih lanjut. Demikian menurut data yang dirilis Kantor Statistik Nasional (ONS), Jumat (10/9).

Kantor Statistik Nasional menyampaikan, produk domestik bruto (PDB) mencapai 0,1% dalam sebulan dibandingkan dengan PDB 1,0% pada Juni. Namun demikian, itu adalah bulan keenam laju pertumbuhan berturut-turut.

“Peningkatan PDB yang sangat sedikit pada Juli menunjukkan, bahwa di tengah meningkatnya kasus Covid-19 dan meluasnya kekurangan produk/tenaga kerja, pemulihan ekonomi terhenti. Bukti yang lebih tepat waktunya menunjukkan, laju pada Agustus mungkin tidak jauh lebih baik,” ujar Paul Dales, kepala ekonom Inggris di kelompok riset Capital Economics, yang dikutip AFP.

Dunia pun telah melihat kebangkitan kasus virus corona karena varian delta yang menyebar degan cepat. Hal ini pada gilirannya bakal sangat mengganggu rantai pasokan global, sekaligus memperparah kondisi di Inggris yang baru-baru ini berpisah dari Uni Eropa (UE).

Menurut laporan, banyak toko di Inggris yang tidak mendapatkan pengiriman barang-barang, termasuk kebutuhan pokok seperti susu, akibat aturan pasca-Brexit yang mempersulit perekrutan warga negara Uni Eropa sehingga membuat perusahaan pengangkutan kekurangan sopir truk secara drastis.

Sedangkan data resmi yang dirilis terpisah pada Jumat, menunjukkan laju impor barang Uni Eropa ke Inggris turun pada Juli.

Masalah lebih lanjut juga terbentang di depan mengingat skema cuti Pemerintah Inggris yang ditujukan membantu jutaan pekerja sektor swasta selama pandemi, hampir berakhir. Langkah ini berbuntut pada risiko lonjakan pengangguran.

Para ekonom sendiri tidak memperkirakan sektor-sektor yang terdampak serius oleh kondisi kekurangan staf karena wabah virus dan Brexit – termasuk industri perhotelan dan restoran – ternyata perlu mendapat manfaat dari kelompok pekerja yang lebih besar yang tersedia setelah periode cuti berakhir pada 30 September.

Sebagai informasi, Inggris masih memiliki lebih dari satu juta lowongan pekerjaan meskipun skema cuti membantu pekerjaan dengan biaya hampir 70 miliar poundsterling (US$ 97 miliar, 82 miliar euro).

Menkeu Inggris Optimistis

ONS pada Jumat menambahkan bahwa total produksi ekonomi Inggris tetap 2,1%di bawah tingkat pra-pandemi pada Februari tahun lalu.

Namun Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris, Rishi Sunak menyatakan optimistis atas pemulihan tersebut. “Saya yakin bahwa kita akan terus pulih dari pandemi, kita akan melihat lebih banyak lapangan pekerjaan baru, dan kita akan membangun kembali dengan lebih baik,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Menurut laporan, ekonomi Inggris telah pulih 4,8% pada Kuartal II atau atau tiga bulan hingga akhir Juni, seiring strategi pemerintah untuk mulai melonggarkan pembatasan karantina (lockdown). Sementara itu, catatan Juli melihat semua pembatasan karantina dicabut di Inggris, sehingga memungkinkan masyarakay mengunjungi toko-toko dan perhotelan tanpa harus memakai masker.

Dampak Inflasi

“Setelah berbulan-bulan di mana ekonomi tumbuh kuat, usai mengalami kerugian akibat pandemi, tampaknya baru ada sedikit pertumbuhan secara keseluruhan pada Juli. Minyak dan gas memberikan dorongan terkuat, karena sebagian besar bangkit kembali setelah pemeliharaan musim panas. Produksi mobil juga terus pulih dari masalah kekurangan komponen baru-baru ini,” ujar ahli statistik ONS Jonathan Athow, Jumat.

Dia menambahkan, sektor jasa belum memperlihatkan pertumbuhan secara keseluruhan pada Juli, sementara kenaikan biaya dan kekurangan bahan baku terus menyusutkan hasil konstruksi.

Di sisi lain, para ahli khawatir bahwa lonjakan inflasi global akan memukul pemulihan ekonomi. Pasalnya di Inggris, biaya akan terus melonjak pada tahun ini karena pandemi yang terus-menerus. Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey pada pekan ini memperkirakan, bahwa inflasi tahunan Inggris untuk sementara melonjak menjadi 4,0% di Kuartal IV, dua kali lipat dari tingkat saat ini.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN