Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi energi terbarukan. ( Foto: solarquotes.com.au )

Ilustrasi energi terbarukan. ( Foto: solarquotes.com.au )

Lambat, Transisi Dunia Menuju Energi Bersih

Selasa, 12 Oktober 2021 | 06:44 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

PARIS, investor.id - Transisi menuju energi yang lebih bersih telah mengalami kemajuan, tetapi tidak cukup cepat untuk membatasi pemanasan global dengan baik di bawah 2 derajat celcius, sebagaimana disepakati dalam kesepakatan iklim Paris 2015.

Sementara pandemi Covid-19 pada awalnya menyebabkan penurunan emisi gas rumah kaca ketika kegiatan ekonomi turun, pandemi mungkin tidak mempercepat peralihan ke energi terbarukan.

Energi terbarukan kini menjadi sumber listrik nomor dua di dunia dengan pangsa 26% pada 2019, di belakang batu bara, tetapi di depan gas alam dan nuklir.

Tenaga angin dan matahari telah tumbuh pada tingkat tahunan masing-masing 22% dan 36%, karena harganya jatuh sejak 1990.

Bahkan selama pandemi, kapasitas 26 gigawatt (GW) ditambahkan tahun lalu, membuat rekor baru. Demikian menurut Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), yang dikutip AFP.

Tetapi penggunaan bahan bakar fosil dalam konsumsi akhir (listrik, bahan bakar transportasi, pemanas, dan produksi pabrik) tetap stabil.

Penggunaan jenis bahan bakar ini masih pada level 80,3% pada 2009 dan pada level 80,2% pada 2019. Pasalnya, konsumsi energi secara keseluruhan meningkat akibat pertumbuhan penduduk serta peningkatan pendapatan di Asia.

Sementara itu, didorong oleh peraturan polusi yang lebih ketat, produsen mobil terkemuka berambisi untuk meniadakan penggunaan mesin pembakaran internal dalam dekade berikutnya. Atau pihaknya akan memotong tajam produksi mereka saat beralih ke masa depan yang digerakkan tenaga listrik.

Jalanan masih ramai dengan mobil berpolusi. Kendaraan listrik hanya mencapai 5% dari unit baru yang terjual. Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, konsumen terus memilih SUV besar yang mencemari daripada model yang lebih kecil. Penjualan SUV saat ini menyumbang 42% dari total penjualan pada 2020.

Dari Australia, Tiongkok, hingga Uni Eropa (UE), semakin banyak negara yang menetapkan target mereka pada hidrogen hijau untuk digunakan pada truk dan pabrik.

Sementara membakar hidrogen sebagai bahan bakar hanya mengeluarkan air, sebagian besar gas dibuat dalam proses yang menghasilkan emisi berbahaya.

Menemukan cara yang hemat biaya untuk memproduksi hidrogen secara bersih dan mengembangkan infrastruktur untuk penggunaannya akan membutuhkan lebih banyak upaya. IEA mendesak empat kali lipat investasi di sektor ini.

Pada pertengahan 2020, sekitar 44 negara dan 31 kota yang menyumbang 60% dari output ekonomi global memiliki skema penetapan harga karbon (pajak atau kuota), menurut lembaga pemikir I4CE.

Harga karbon bertujuan untuk membuat pencemar membayar sebagian dari biaya sosial emisi, seperti biaya perawatan kesehatan karena kualitas udara yang buruk dan kerusakan tanaman akibat perubahan iklim.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN