Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Harga Minyak Dunia Terendah dalam 2 Bulan

Sabtu, 27 November 2021 | 06:29 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Harga minyak dunia dilaporkan turun lebih dari 5% pada Jumat (26/11). Harga minyak dunia mencapai level terendah dalam dua bulan menyusul isu varian baru Covid-19 yang membuat para investor khawatir, dan memperparah kecemasan bahwa surplus pasokan dapat membengkak di Kuartal I.

Harga minyak mentah acuan Brent pada pukul 10.35 GMT dilaporkan turun US$ 4,68 atau 5,6% menjadi US$ 77,45 per barel. Sedangkan harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun US$ 5,20 atau 6,6% menjadi US$ 73,19 per barel, pascaliburan perayaan Hari Thanksgiving, pada Kamis (25/11) di Amerika Serikat.

Harga minyak dunia tersebut merosot bersamaan dengan pasar saham global di tengah kekhawatiran varian baru Covid-19. Menurut otoritas Inggris dari catatan para ilmuwan, temuan varian baru itu merupakan yang paling signifikan hingga saat ini karena dapat membatasi perjalanan, mengurangi pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Di sisi lain, para investor juga mengamati respons Tiongkok terhadap pelepasan jutaan barel minyak Amerika Serikat (AS) dari cadangan strategisnya melalui koordinasi dengan negara-negara konsumen besar lainnya. Langkah ini meripakan bagian dari upaya untuk meredam kenaikan harga.

“Pelepasan semacam itu kemungkinan bakal membengkakkan pasokan dalam beberapa bulan mendatang,” kata sumber di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), berdasarkan temuan panel ahli yang memberi nasihat kepada para menteri anggota OPEC, yang dilansir Reuters.

Sumber OPEC menambahkan bahwa Dewan Komisi Ekonomi memperkirakan surplus 400.000 barel per hari (bph) pada Desember naik menjadi 2,3 juta bph pada Januari, dan 3,7 juta bph pada Februari - jika negara-negara konsumen melanjutkan pelepasan cadangan minyak.

Prakiraan tersebut mengaburkan prospek pertemuan OPEC dan sekutunya, yang dikenal dengan OPEC+, pada 2 Desember mendatang. Yakni pada saat OPEC+ membahas apakah akan menyesuaikan rencananya untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 bph pada Januari tahun depan dan seterusnya.

“Penilaian awal OPEC tentang pelepasan (penimbunan) terkoordinasi, dan kemunculan tiba-tiba varian baru virus corona menimbulkan kekhawatiran serius tentang pertumbuhan ekonomi serta keseimbangan minyak dalam beberapa bulan mendatang,” ujar analis PVM Tamas Varga.

Produksi minyak Iran juga menjadi fokus, menyusul pembicaraan tidak langsung yang akan dilanjutkan pada Senin (29/11) antara Iran dan Amerika Serikat guna menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015. Yang mana dapat mengarah pada pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

“Namun, kegagalan Iran dan Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk mencapai kesepakatan sederhana tentang pemantauan fasilitas nuklir di Teheran pada pekan ini menjadi pertanda buruk bagi pembicaraan pekan depan,” kata Analis Eurasia, Henry Rome.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN