Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala ekonom Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Laurence Boone. ( Foto: AFP via Getty Images )

Kepala ekonom Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Laurence Boone. ( Foto: AFP via Getty Images )

OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Global

Kamis, 2 Desember 2021 | 06:55 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau Organisation for Economic Co-operation anda Development (OECD) memperingatkan pada Rabu (1/12) bahwa varian baru virus corona Covid-19, Omicron bakal mengancam pemulihan ekonomi global. Kondisi ini mendorong OECD menurunkan prospek pertumbuhan 2021 dan meminta peluncuran vaksin Covid yang lebih cepat.

Laporan proyeksi terbaru OECD menunjukkan, perekonomian global tahun ini diperkirakan berkembang sebesar 5,6% atau turun dari prediksi sebelumnya 5,7%. Sedangkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2022 tidak mengalami perubahan, yakni di kisaran 4,5%, mengingat tetapi laporan baru dirilis beberapa hari setelah Omicron terdeteksi.

Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa wilayah-wilayah yang rendah vaksinasi dapat menjadi “tempat berkembang biak mutasi virus yang lebih mematikan.

“Kami khawatir varian baru Omicron semakin menambah tingkat ketidakpastian dan risiko yang sudah tinggi, di mana ini bisa menjadi ancaman bagi pemulihan,” ujar Kepala Ekonom OECD, Laurence Boone saat memberikan keterangan pers, yang dilansir AFP.

Laporan OECD yang bermarkas di Paris, Prancis menyebutkan bahwa pemulihan global terus berlanjut. Tetapi mereka memperingatkan, pemulihan telah kehilangan momentum dan menjadi semakin tidak seimbang.

Kendati OECD sangat optimistis soal pemulihan, peringatan soal isu-isu kesehatan, inflasi yang tinggi, rantai pasokan yang mandek, dan kebijakan yang berpotensi salah langkah telah menjadi kekhawatiran utama.

“Prioritas kebijakan utama tetap perlu memastikan bahwa vaksin diproduksi dan digunakan secepat mungkin di seluruh dunia, termasuk dosis booster. Pemulihan akan tetap genting, dan tidak pasti di semua negara hingga tercapai target yang divaksinasi,” demikian laporan OECD.

Varian Lebih Mematikan

Dalam skenario yang ringan, wabah dapat terus mendorong pembatasan pergerakan orang, serta dapat memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap pasar tenaga kerja, kapasitas produksi, dan harga.

“Skenario paling berat adalah, kantong-kantong yang divaksinasi lebih rendah dan berakhir sebagai tempat berkembang biak bagi jenis virus yang lebih mematikan, yang terus merusak kehidupan, juga mata pencaharian,” kata Boone.

Akan tetapi, laporan OECD yang dirilis kali ini belum memperhitungkan kemungkinan dampak dari varian Omicron.

Menurut para analis di Oxford Economics, kemunculan varian baru virus corona dapat mengurangi 0,25 poin persentase dari pertumbuhan global tahun depan jika efek yang ditimbulkan ringan. Tetapi bakal menelan biaya dua poin persentase jika efeknya lebih berbahaya, dan sebagian besar populasi global terpaksa memberlakukan karantina (lockdown).

Sebagai informasi, varian Omicron telah terlihat di seluruh dunia sejak para ahli di Afrika Selatan mendeteksinya, dan mendorong aturan pembatasan perjalanan baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mempercayai bahwa jumlah mutasi yang tinggi pada varian ini membuatnya jadi lebih mudah menular atau kebal terhadap vaksin

Tertinggal Di Belakang

Seiring mengatasi kekhawatiran utama lainnya pada ekonomi dunia, OECD memperkirakan laju inflasi akan mencapai puncaknya pada pergantian tahun, sebelum surut secara bertahap di 38 negara anggota OECD – yang mencakup negara-negara maju dan berkembang.

Lonjakan inflasi telah menyebabkan kegaduhan di pasar karena investor khawatir bahwa bank-bank sentral akan menaikkan tingkat suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan gna meredam harga yang tidak terkendali.

OECD sendiri telah mendesak para pembuat kebijakan moneter untuk berkomunikasi dengan jelas, mengenai seberapa jauh akan menolerir inflasi melebihi target mereka.

Di sisi lain, kendala dan kekurangan di sisi penawaran akan menyusut secara bertahap hingga 2022-2023. Ini karena tingkat permintaan menjadi normal, kapasitas produksi telah tumbuh dan lebih banyak orang kembali ke angkatan kerja.

OECD juga menyoroti perbedaan yang mencolok dalam pemulihan negara-negara di seluruh dunia.

“Sebagian dari ekonomi global pulih dengan cepat . Tetapi yang lain berisiko tertinggal, terutama negara-negara berpenghasilan rendah di mana tingkat vaksinasinya tergolong rendah, dan perusahaan serta karyawan di sektor yang memerlukan kontak intensif belum pulih sepenuhnya,” katanya.

Dalam perkiraan di antara masing-masing wilayah, OECD mengatakan ekonomi AS tahun ini akan tumbuh sebesar 5,6%. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang telah dipangkas untuk negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia itu.

Prospek pertumbuhan di zona euro pun sedikit diturunkan menjadi 5,2%. Sedangkan prospek pertumbuhan Tiongkok tahun ini diturunkan menjadi 8,1% dan 5,1% untuk 2022. Tampaknya, krisis utang yang melilit raksasa properti Evergrande telah menimbulkan kekhawatiran tentang dampak potensialnya terhadap ekonomi Tiongkok. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN