Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pertemuan G-7. Foto: antaranews.com

Pertemuan G-7. Foto: antaranews.com

Presidensi G-7 Jerman Fokus pada Pemulihan Ekonomi dan iklim

Senin, 3 Januari 2022 | 08:44 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BERLIN, investor.id – Pemerintah Jerman menyatakan keinginan untuk memanfaatkan statusnya sebagai presidensi kelompok G-7 untuk mendukung pemulihan perekonomian dari pandemi Covid-19. Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan, G-7 juga harus memperkuat upaya meningkatkan perlindungan iklim.

Jerman telah mengambil alih kepresidenan G-7 untuk 2022. Negara-negara kelompok G-7 didirikan guna mendukung kebebasan, demokrasi, dan kemajuan. Dengan pemikiran ini, kita harus mengatasi pandemi dan mendorong pemulihan ekonomi global,” demikian cuitan Lindner pada akun Twittter Sabtu (1/1), yang dilansir Reuters.

Dia mengungkapkan ingin mengemukakan pertanyaan tentang digitalisasi dan netralitas iklim sebagai prioritas agenda menteri keuangan dan gubernur bank sentral selama pertemuan G-7.

Sebagai informasi, Lindner adalah pemimpin Partai liberal Demokrat Bebas (Free Democrats/FDP), mitra junior dalam koalisi tiga partai yang dipimpin Kanselir Olaf Scholz.

Ia baru-baru ini menggantikan Kanselir Olaf Scholz di Kementerian Keuangan Jerman. Dari tiga partai dalam koalisi yang berkuasa, FDP Lindner adalah yang paling diandalkan secara fiskal.

Sebagai menteri keuangan, Lindner berharap dapat memprioritaskan digitalisasi dan netralitas iklim. Tidak hanya di Jerman, tetapi juga di negara-negara anggota G-7 ketika ia bertemu dengan menteri keuangan dan gubernur bank sentral lainnya.

Selama masa presidensinya, Pemerintah Jerman berencana fokus pada isu-isu utama dengan kebijakan iklim sebagai prioritas utama. Isu pandemi Covid-19, Pemerintah Rusia dan Tiongkok pun dipastikan menjadi agenda G-7.

Tepat sebelum perayaan Natal 2021,  Juru bicara Pemerintah Jerman Steffen Hebestreit meluncurkan logo baru G-7 untuk 2022, “G-7 Germany 2022” tertulis di bawah logo.

“Desain dengan fokus pada esensi ini dimaksudkan untuk mewakili program kerja terfokus yang telah kami tetapkan untuk kepresidenan ini,” kata Hebestreit.

Melanjutkan Kepemimpinan Inggris

Banyak hal telah dibahas dan dinegosiasikan di bawah kepresidenan G-7 Inggris pada 2021, yang harus dilanjutkan ketika Jerman mengambil alih presidensi. Perjuangan melawan pandemi Covid-19 pun tetap menjadi perhatian utama. Ini mengingat pandemic selama dua tahun tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pertemuan terakhir para menteri kesehatan kelompok G-7 terjadi pada pada akhir November 2021. Dan pertemuan puncaknya digelar di London, Inggris pada Juni di mana para pemimpin G-7 sepakat mendistribusikan 2,3 miliar dosis vaksin ke negara-negara berkembang pada akhir 2022.

Sehubungan dengan ini, Jerman adalah donor terbesar kedua dalam aliansi vaksinasi COVAX.

Isu kebijakan iklim juga bakal menjadi topik sentral kepresidenan G-7 Jerman. Menurut laporan, pada pertemuan para menteri luar negeri (menlu) G-7 di Liverpool pada Desember 2021, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock dari Partai Hijau menekankan bahwa krisis iklim berimplikasi pada perdamaian dan keamanan. Tidak hanya bagi Eropa, tetapi terutama bagi negara-negara berkembang dan pasar berkembang.

“Kita bisa berada di bawah ilusi bahwa Barat adalah sebuah pulau, tetapi bahkan di sini air akan terus naik tanpa dapat dielakkan jika kita tidak bertindak sekarang. Itulah mengapa kami akan menjadikan krisis iklim sebagai salah satu prioritas presidensi G-7 kami,” ungkap Baerbock, yang dikutip DW.

Meski demikian lanjut dia, tanpa Tiongkok G-7 tidak akan mampu mengerem pemanasan global.

“Tiongkok adalah mitra bagi kami, bagi G-7. Banyak masalah global yang hanya bisa kita selesaikan bersama,” tambah Baerbock, merujuk pada lebih dari sekadar perlindungan iklim.

Dalam pidato pertama sebagai kanselir Jerman di parlemen pada Desember 2021. Scholz menyampaikan bahwa harus menyesuaikan pendekatannya terhadap Tiongkok dengan kenyataan, tetapi situasi kritis hak asasi manusia (HAM) dan pelanggaran standar universal tidak boleh diabaikan.

“Itu tidak mengubah fakta bahwa ukuran dan sejarah Tiongkok me- miliki tempat sentral dalam konser internasional negara-negara,” ujar dia.

Selama menjadi presidensi G-7 tahun ini, akan terlihat jelas bahwa pemerintahan baru Jerman ingin membentuk lebih dari sekadar kebijakan luar negeri lewat dialog konstruktif. Pemerintah Jerman juga ingin melihat Pemerintah Amerika Serikat (AS) memainkan peran penting.

“Saya bersatu dengan Presiden AS Joe Biden dalam keyakinan bahwa demokrasi liberal dunia harus membuktikan bahwa mereka dapat memberikan jawaban yang lebih baik, lebih adil, dan lebih setara untuk tantangan abad ke-21,” kata Scholz.

Dia berjanji bahwa Pemerintah Jerman akan selalu membela kerja sama multilateral dan lembaga internasional. Terkait isu Rusia, G-7 telah mengancam konsekuensi besar jika terjadi serangan ke Ukraina. Hal ini terutama mengacu pada tindakan ekonomi yang bersifat menghukum.

“Setiap pelanggaran integritas territorial akan memiliki harga tinggi. Dan kami akan berdiri bersama dengan mitra Eropa dan sekutu transatlantic dan berbicara dengan satu suara,” ujar Scholz.

Pada saat yang sama, Scholz sendiri ingin terus menekan negosiasi. “Dengan latar belakang sejarahnya dalam dua perang dunia maka Jerman harus bersiap untuk lebih sering berusaha mencapai pemahaman untuk keluar dari spiral eskalasi,” tambahnya. (sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN