Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )

Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )

PBB Minta Bantuan US$ 826 Juta untuk Myanmar

Rabu, 2 Februari 2022 | 08:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (1/2) meminta US$ 826 juta sebagai dana bantuan kemanusiaan bagi 6,2 juta orang di Myanmar pada 2022. Pihaknya mengatakan negara itu telah mengalami situasi sulit yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejak kudeta tahun lalu.

Tepat setahun sejak pengambilalihan militer pada 1 Februari 2021, PBB mengatakan kekacauan ekonomi setelah kudeta telah membuat banyak orang tidak dapat memberi makan keluarga mereka.

PBB memperkirakan bahwa dari 54 juta orang di Myanmar, sebanyak 25 juta hidup dalam kemiskinan. Sebanyak 14,4 juta membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk lima juta anak-anak.

Baca juga: Indonesia – Singapura Dorong Implementasi 5 Butir Konsensus Asean untuk Myanmar

Dengan demikian, PBB berharap dapat membantu 6,2 juta orang yang paling membutuhkan. Jumlah ini melebihi nilai bantuan yang pernah diberikan kepada Myanmar, atau lebih dari dua kali lipat dana yang diminta tahun lalu.

“Gejolak ekonomi dan politik 2021, dikombinasikan dengan dampak buruk Covid-19, telah mendorong separuh populasi ke dalam kemiskinan. Banyak yang tidak mampu lagi memberi makan keluarga mereka karena kehilangan pekerjaan dan pendapatan, ditambah kenaikan harga,” kata juru bicara badan kemanusiaan PBB Jens Laerke mengatakan kepada wartawan di Jenewa, Selasa.

Militer merebut kekuasaan satu tahun lalu, menggulingkan pemerintah sipil, dan menangkap pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. Kantor Hak Asasi Manusia (UNHCR) PBB mengatakan bahwa sejak kudeta, setidaknya 1.500 orang telah dibunuh oleh militer dalam upaya brutal untuk menghancurkan perbedaan pendapat.

Baca juga: Ketua Asean: Ada Kemungkinan Perang Sipil di Myanmar 

Sementara ribuan orang lainnya bisa terbunuh dalam konflik bersenjata dan kekerasan yang lebih luas. Laerke mengatakan lebih dari 400.000 orang telah mengungsi sejak kudeta.

“Ribuan orang terlantar hidup dalam kondisi yang mengerikan. Banyak di kamp-kamp dan lokasi pengungsian, yang lain dengan komunitas penampung. Dan beberapa orang melintasi perbatasan dengan Thailand dan India atau mencari perlindungan di hutan tanpa makanan, tempat tinggal, sanitasi, perlindungan, atau perawatan medis yang memadai,” jelas Laerke.(afp/sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com