Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: JOHN THYS / AFP )

Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: JOHN THYS / AFP )

Yellen: Tiongkok Tidak Perlu Ikut Disanksi

Sabtu, 26 Maret 2022 | 12:19 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Keuangan (Menku) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen pada Jumat (25/3) berpendapat AS tidak seharusnya menjatuhkan sanksi-sanksi kepada Tiongkok, gara-gara hubungannya dengan Rusia. Negeri Beruang Merah saat ini dijatuhi sanksi-sanksi ekonomi oleh Barat atas tindakannya menginvasi Ukraina sejak 24 Februari 2022.

“Saya pikir itu tidak perlu atau pun patut. Para pejabat senior pemerintahan sudah berbicara secara privat dan diam-diam dengan Tiongkok, untuk memastikan mereka memahami posisi kita,” tutur Yellen kepada CNBC.

Baca juga: Janet Yellen Ingatkan Dampak Global dari Rencana Sanksi pada Rusia

Pernyataan Yellen itu keluar pada saat para pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO meningkatkan peringatannya kepada Tiongkok untuk tidak membiarkan Rusia terus menyerang Ukraina.

“Kami akan sangat khawatir jika sampai mereka memasok senjata ke Rusia, atau berusaha menghindari sanksi-sanksi yang sudah dijatuhkan kepada bank sentral dan sistem finansial Rusia. Menurut kami tidak seperti itu untuk saat ini keadaannya,” tambah Yellen.

Tiongkok sudah beberapa pekan terakhir diingatkan oleh AS dan sekutu-sekutunya. Negeri Panda ini diingatkan akan menerima konsekuensi-konsekuensi terburuk jika membantu Rusia dengan menyediakan persenjataan, menawarkan rute-rute alternatif untuk perdagangan, atau membuat kampanye-kampanye disinformasi.

Baca juga: Yellen: Omicron Tidak Menggagalkan Pertumbuhan Ekonomi AS

Tiongkok tidak sepenuhnya mengecam serangan Rusia ke Ukraina. Sebagaimana Presiden Rusia Vladimir Putin, Tiongkok juga sudah mengeluhkan ekspansi NATO. Para pejabat AS juga mengatakan, Rusia telah meminta bantuan ekonomi dan militer kepada Tiongkok. Namun baik Rusia maupun Tiongkok membantah hal tersebut.

Presiden AS Joe Biden berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dari tempat perlindungan kepresidenan di Camp David, Maryland, pada 12 Februari 2022. Presiden Biden memperingatkan Presiden Putin melalui telepon bahwa AS akan menanggapi dengan tegas dan membebankan sanksi cepat dan berat pada Rusia jika melancarkan serangan ke Ukraina Foto: Investor Daily/WHITE HOUSE/AFP
Presiden AS Joe Biden berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dari tempat perlindungan kepresidenan di Camp David, Maryland, pada 12 Februari 2022. Presiden Biden memperingatkan Presiden Putin melalui telepon bahwa AS akan menanggapi dengan tegas dan membebankan sanksi cepat dan berat pada Rusia jika melancarkan serangan ke Ukraina Foto: Investor Daily/WHITE HOUSE/AFP

Presiden AS Joe Biden pekan lalu mengancam Presiden Tiongkok Xi Jinping akan dijatuhi konsekuensi-konsekuensi tertentu jika Tiongkok mendukung Rusia, dalam upayanya merebut ibukota Kyiv.

Belum diketahui bagaimana AS akan menghukum Tiongkok. Kemungkinan permintaan kepada Depkeu AS untuk memperluas sanksi-sanksi ekonomi terhadap Rusia. Dalam wawancaranya itu, Yellen juga menyinggung invasi Rusia ke Ukraina dan pandemi Covid-19 menegaskan perlunya mengamankan rantai pasokan.

Baca juga: Yellen: Inflasi Bulanan akan kembali ke 0,2%-0,3% pada Semester II-2022

“Barangkali pebisnis Amerika sudah fokus pada efisiensi dan mengatur rantai pasokan yang berdampak pada penurunan biaya tapi mengorbankan ketahanan. Dan ketahanan dalam rantai pasokan adalah prioritas tinggi pemerintah. Perang Ukraina dan masalah rantai pasokan global telah mengguncang beberapa macam komoditas di pasar komoditas. Termasuk minyak mentah dan gandum. Harga minyak mentah WTI sempat menembus angka US$ 130 per barel pada awal Maret 2022, setlah posisinya pada Januari 2022 adalah di US$ 90 per barel.

Lonjakan harga minyak berdampak pada naiknya harga bahan bakar minyak di AS. Yang naik ke level tertinggi di awal bulan ini dan rata-rata harganya secara nasional adalah US$ 4,33 per galon.

Sementara harga gandum tetap sekitar US$ 10 per gantang atau 25% lebih tinggi dibandingkan harga pada dua bulan lalu. (sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com