Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang berkabung di Tugu Peringatan 9/11 dalam peringatan 20 tahun serangan 11 September 2001 di Manhattan, New York, pada 11 September 2021. ( Foto: MIKE SEGAR / POOL / AFP )

Orang-orang berkabung di Tugu Peringatan 9/11 dalam peringatan 20 tahun serangan 11 September 2001 di Manhattan, New York, pada 11 September 2021. ( Foto: MIKE SEGAR / POOL / AFP )

AS Serukan Persatuan dalam Peringatan Tragedi 9/11

Senin, 13 September 2021 | 05:44 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

NEW YORK, investor.id – Amerika Serikat (AS) menandai peringatan 20 tahun tragedi 9/11 dengan seruan untuk mempererat persatuan dalam upacara-upacara khidmat. Namun momen ini diiringi gaung tambahan soal kebijakan penarikan pasukan AS yang kacau dari Afghanistan, dan kembalinya kekuasaan Taliban.

Pada Sabtu (11/9) di Shanksville, Presiden Joe Biden menyampaikan bahwa Amerika Serikat harus bersatu dan memimpin dunia dengan memberi contoh. “Itulah hal yang akan memengaruhi kesejahteraan kita lebih dari apa pun: bagaimana seluruh dunia merespons kita – mengetahui bahwa kita sebenarnya dapat, pada kenyataannya, memimpin dengan contoh kekuatan kita lagi. Dan saya pikir kita bisa melakukannya. Kita harus melakukannya,” ujar Biden, yang dikutip AFP.

Dia juga bertanya: “Apakah kita akan bisa, dalam empat, lima, enam, 10 tahun ke depan, menunjukkan bahwa demokrasi dapat bekerja, atau tidak?”

Tetapi mantan presiden Donald Trump menghancurkan sentimen itu dengan merilis sebuah video yang mengecam "administrasi yang tidak kompeten" dari Biden karena "ketidakmampuannya" atas penarikan pasukan Afghanistan, dan kemudian memberi tahu petugas polisi New York bahwa AS telah dipermalukan.

Peringatan peristiwa 9/11 yang digelar di New York pada Sabtu dihadiri oleh banyak kerabat yang terlihat berulang kali menyeka air mata yang mengalir. Suara mereka mulai pecah ketika membacakan nama-nama dari hampir 3.000 orang yang tewas dalam serangan Al-Qaeda.

“Kami mencintaimu dan kami merindukanmu,” kata mereka di tengah alunan gesekan biola yang dimainkan dalam upacara resmi, yang dihadiri oleh Presiden Biden serta dua mantan presiden Barack Obama dan Bill Clinton.

Acara kebaktian yang dilaksanakan di Ground Zero, di mana 2.753 orang tewas – beberapa di antaranya meninggal karena melompat dari menara-menara gedung yang terbakar – juga berlangsung di bawah keamanan yang ketat. Sementara wilayah Lower Manhattan secara efektif memberlakukan lockdown.

Sementara itu, upacara mengheningkan cipta pertama dari enam acara dimulai pada pukul 08.46 waktu setempat dengan iringan suara lonceng untuk melambangkan saat pesawat pertama yang dibajak menabrak Menara Utara World Trade Center (WTC). Kemudian pada pukul 09.03 para hadirin kembali berdiri untuk menandai saat Menara Selatan ditabrak pesawat kedua. Pada pukul 09.37 waktu setempat, adalah momen ketika pesawat yang dibajak menghantam Pentagon dan menewaskan total 184 orang di pesawat dan darat.

Pada pukul 09.59 waktu setempat, adalah detik-detik ketika Menara Selatan WTC runtuh. Sedangkan pada pukul 10.03 waktu setempat, pesawat keempat dilaporkan jatuh di sebuah lapangan di Shanksville, Pennsylvania, setelah para penumpang melawan pembajak. Dan pada pukul 10.28 waktu setempat Menara Utara WTC menyusul ambruk.

Sepanjang peringatan tragedi 9/11, para pelayat terlihat menggenggam erat foto-foto orang yang mereka cintai. Mereka masih merasakan sakit yang membara meski seluruh generasi telah tumbuh dewasa, sejak insiden 11 September 2001 yang terjadi di pagi hari.

“Rasanya seperti baru kemarin. Setiap tahun kita merasa hal itu menjadi jauh lebih penting untuk diingat,” ujar Joanne Pocher-Dzama, yang saudaranya meninggal di World Trade Center.

Bendera nasional Amerika Serikat digantung di sisi gedung Pentagon untuk memperingati 20 tahun serangan 9/11, pada 11 September 2021, di Washington, DC.  ( Foto: SAUL LOEB / AFP )
Bendera nasional Amerika Serikat digantung di sisi gedung Pentagon untuk memperingati 20 tahun serangan 9/11, pada 11 September 2021, di Washington, DC. ( Foto: SAUL LOEB / AFP )

Kekhawatiran Bush

Sedangkan suara penyanyi Bruce Springsteen melantunkan lagu “I'll See You in My Dreams” dalam seremoni yang lebih kecil di New York untuk mengenang 343 petugas pemadam kebakaran yang kehilangan nyawa karena menyelamatkan orang lain. Saat malam tiba, seberkas cahaya terang yang melambangkan Menara Kembar diproyeksikan ke langit untuk memperingati para korban yang meninggal dunia.

Peringatan lain yang menyayat hati juga digelar di Pentagon dan Shanksville, di mana George W. Bush – yang ketika peristiwa 9/11 menjadi presiden AS ke-43 – mengatakan persatuan yang ditunjukkan Amerika setelah serangan tampak jauh dari hari ini.

“Begitu banyak politik kita telah menjadi daya tarik terbuka untuk kemarahan, ketakutan, dan kebencian. Itu membuat kita khawatir tentang bangsa kita dan masa depan kita bersama,” tambahnya.

Di samping itu, para pemimpin dunia berbondong-bondong turut mengirim pesan solidaritas dengan mengatakan bahwa para penyerang telah gagal menghancurkan nilai-nilai Barat.

Peringatan 9/11 digelar kurang dari dua minggu sejak tentara terakhir meninggalkan Kabul, mengakhiri apa yang disebut "perang selamanya."

Tapi perselisihan nasional atas penarikan pasukan yang kacau, termasuk kematian 13 tentara AS dalam serangan bom bunuh diri dan kembalinya kekuasaan pelindung pendiri Al-Qaeda Osama bin Laden, Taliban, telah membayangi yang seharusnya menjadi hari penting dalam hampir delapan bulan pemerintahan presiden Biden.

Meski begitu, Biden sekali lagi membela kebijakan penarikan pasukan dengan mengatakan bahwa AS tidak bisa menyeran" setiap negara di mana Al-Qaeda hadir.

Sebagai informasi, dalam 20 tahun terakhir, bin Laden telah terbunuh dan gedung pencakar langit baru yang dijuluki “Menara Kebebasan” telah berdiri di atas Manhattan, menggantikan Menara Kembar.

Namun konsekuensi dari 9/11 masih terus bergemuruh.

Bahkan pada Sabtu, Biro Investigasi Federal (FBI) merilis memo deklasifikasi yang isinya memperkuat kecurigaan keterlibatan resmi Aeab Saudi dengan para pembajak, tetapi tidak memiliki cukup bukti yang meyakinkan.

Dokumen tertanggal 4 April 2016 adalah yang pertama dari hasil penyelidikan FBI yang dirilis setelah ada perintah dari Biden pada pekan lalu. Memo yang masih dalam kondisi telah diedit itu menunjukkan hubungan antara tersangka agen intelijen Saudi dan dua pembajak Al-Qaeda.

Di Teluk Guantanamo, tersangka dalang Khalid Sheikh Mohammed dan empat pria lainnya terus menunggu persidangan, sembilan tahun setelah dakwaan diajukan.

Bagi banyak orang Amerika, 9/11 tetap tentang satu hal: kehilangan.

Begitu banyak keluarga yang terganggu. Dan kami hanya perlu memberi tahu mereka bahwa semua orang itu tidak dilupakan,” ungkap Mark Papadimitriou, saat memberikan penghormatan di Times Square.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN