Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Facebook. Foto: telegraph.co.uk

Facebook. Foto: telegraph.co.uk

Australia dan Facebook Tempuh Negosiasi

Sabtu, 20 Februari 2021 | 07:09 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

SYDNEY, investor.id – Pemerintah Australia dan Facebook mengadakan pembicaraan tingkat tinggi pada Jumat (19/2), setelah raksasa media sosial itu memicu kemarahan global dengan memblokir konten berita di Australia. Tapi Australia menyatakan tidak akan mencabut undang-undang (UU) baru yang akan memaksa perusahaan teknologi membayar atas penayangan konten jurnalistik di platform-nya.

 

Sejak Kamis (18/2), Facebook telah menutup konten media untuk pengguna Australia dan memblokir mereka untuk berbagi konten berita apa pun. Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan dirinya telah berbicara dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg pada Jumat, untuk mencari jalan keluar atas pertikaian ini. Negosiasi akan berlanjut selama akhir pekan.

"Kami membicarakan masalah mereka yang tersisa dan setuju pihak kami masing-masing akan menyelesaikannya segera," kata Frydenberg).

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison juga mendesak Facebook untuk bergerak cepat mengatasi apa yang disebutnya perilaku mengancam dan mendiskusikan penyelesaian masalah.

Ia mengatakan, UU pertama di dunia pemerintahnya untuk memaksa Facebook dan Google membayar media Australia untuk konten berita yang dipublikasikan di platform mereka. Hal ini menarik minat para pemimpin di seluruh dunia.

"Orang-orang melihat apa yang sedang dilakukan Australia," katanya, seraya mencatat bahwa dirinya telah membahas situasi ini dengan PM India Narendra Modi dan PM Kanada Justin Trudeau.

UU Kode Perundingan Wajib Media Berita dan Platform Digital tersebut telah disetujui pekan ini oleh majelis rendah Parlemen Australia. UU tersebut akan diperdebatkan mulai Senin (22/2) oleh Senat, yang diharapkan mengadopsi hukum tersebut pada akhir minggu.

Facebook mempertahankan tanggapan dramatisnya terhadap UU tersebut. Pihaknya mengatakan, pada dasarnya UU salah memahami hubungan platform dengan organisasi media dan tidak punya pilihan selain melarang konten berita dari layanannya di Australia.

Sejak pelarangan diberlakukan, kunjungan pengguna ke situs berita Australia di dalam dan luar negeri menurun secara signifikan. Lalu lintas dari dan ke luar negeri turun lebih dari 20% per hari, menurut perusahaan analisis data Chartbeat.

Data tersebut juga menunjukkan pengguna belum meninggalkan Facebook sebagai tanggapan atas larangan tersebut, tanpa peningkatan lalu lintas pencarian nyata yang dicatat oleh Google.

CEO News Corp Australia Michael Miller berbicara dalam penyelidikan terpisah Senat di Canberra, mengatakan dampak penuh dari keputusan Facebook belum dirasakan oleh penerbit.

Kemarin lalu lintas rujukan dari platform menghilang, katanya. Sementara lalu lintas secara langsung ke situs webnya naik hingga dua digit.

Miller juga mendorong raksasa media sosial itu untuk kembali melakukan negosiasi langsung dengan outlet media. "Pintu masih terbuka untuk Facebook," tukasnya.

Pemblokiran Facebook menuai kritik luas karena secara tidak sengaja memblokir akses ke sejumlah halaman penting pemerintah, termasuk layanan darurat, departemen kesehatan, dan layanan cuaca nasional. Sebagian besar halaman tersebut kembali dibuka dalam beberapa jam setelah pemblokiran diberlakukan.

Meskipun sebelumnya ada ancaman untuk menarik layanannya dari Australia karena UU tersebut, Google melunakkan sikapnya. Sebagai gantinya, platform tersebut menjadi perantara beberapa kesepakatan dengan perusahaan media besar, termasuk Rupert Murdoch's News Corp. (afp)

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN