Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pemandangan Gedung Opera (Opera House) Sydney di Sydney, Australia, pada 15 Maret 2021. ( Foto: Steven Saphore / AFP )

Pemandangan Gedung Opera (Opera House) Sydney di Sydney, Australia, pada 15 Maret 2021. ( Foto: Steven Saphore / AFP )

Australia dan Singapura Bahas Skema Gelembung Perjalanan

Senin, 15 Maret 2021 | 05:59 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SYDNEY, investor.id – Para pejabat mengatakan bahwa Pemerintah Australia dan Singapura sedang membahas kerja sama untuk menciptakan skema gelembung perjalanan (travel bubble) antara kedua negara pada awal Juli tahun ini. Langkah yang sedang dibahas pada Minggu (14/3) merupakan bagian dari upaya negara untuk kembali menggeliatkan sektor pariwisata dan perjalanan yang sempat mandek karena pandemi virus corona Covid-19.

Wakil Perdana Menteri Michael McCormack mengatakan, Australia sedang bekerja dengan Singapura soal potensi gelembung (awal) pada bulan Juli.

“Saat vaksin diluncurkan, tidak hanya di Australia tetapi di negara lain, kami akan membuka kembali lebih banyak gelembung,” ujarnya kepada lembaga penyiaran publik ABC, yang dilansir AFP.

Sebagai informasi, pada awal terjadi pandemi, otoritas Australia secara efektif menutup perbatasan internasionalnya guna memperlambat penyebaran virus corona. Kemudian yang bukan warga negaranya juga dilarang berkunjung kecuali dengan persyaratan khusus.

Surat kabar Sydney Morning Herald melaporkan, bahwa kesepakatan itu akan memungkinkan warga Singapura dan Australia yang telah divaksinasi untuk melakukan perjalanan antar negara tanpa melalui proses karantina.

Surat kabar itu menambahkan, Australia juga berharap masyarakat dari negara ketiga – seperti para pelajar internasional, pelancong bisnis, dan warga negara yang kembali – dapat terlebih dahulu menyelesaikan karantina selama dua pekan di Singapura sebelum terbang ke Australia.

Di sisi lain, Singapura – yang telah membuka perbatasannya untuk beberapa negara yang sudah mampu mengendalikan virus, termasuk Australia – mengatakan tidak sedang membahas konsep pusat karantina atau pusat vaksinasi.

“Singapura saat ini sedang berdiskusi dengan Australia tentang pengakuan bersama atas sertifikat vaksinasi, dan dimulainya kembali perjalanan dengan prioritas bagi pelajar dan pelancong bisnis. Kami juga membahas kemungkinan gelembung perjalanan udara yang akan memungkinkan penduduk Singapura dan Australia melakukan perjalanan antara kedua negara tanpa perlu karantina,” demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Singapura pada Minggu.

Menurut laporan, penerapan persyaratan karantina hotel selama 14 hari di Australia bagi para pelancong yang datang telah menyebabkan puluhan ribu warga Australia terdampar di luar negeri. Pembatasan terhadap pengungsi pun kembali diberlakukan karena sistem terbatas tidak dapat menangani jumlah besar.

Di samping itu, jumlah pendapatan dari sektor pariwisata internasional – yang bernilai sekitar Aus $ 45 miliar (US$ 35 miliar) setahun bagi sebelum pandemi melanda Australia – juga telah menguap.

Australia sendiri sudah memiliki skema gelembung perjalanan satu arah dengan Selandia Baru, yang memungkinkan penduduk Negeri Kiwi itu melakukan kunjung tanpa karantina. Tetapi skema tersebut telah ditangguhkan beberapa kali menyusul respons dalam menangani wabah virus.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN