Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menggelar konferensi pers pertama kepresidenan dengan menerapkan protokol kesehatan, di Ruang Timur, Gedung Putih, Washington, pada 25 Maret 2021. ( Foto: CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menggelar konferensi pers pertama kepresidenan dengan menerapkan protokol kesehatan, di Ruang Timur, Gedung Putih, Washington, pada 25 Maret 2021. ( Foto: CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Biden Janjikan 200 Juta Dosis Vaksin Covid dalam 100 Hari

Sabtu, 27 Maret 2021 | 05:42 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menjanjikan 200 juta dosis vaksin Covid-19 akan diberikan dalam 100 hari pertamanya menjabat. Berarti ia menggandakan jumlah vaksin yang dijanjikan dari semula 100 juta dosis, disampaikan dalam konferensi pers pertamanya sejak menjabat pada 20 Januari 2021, sambil mengisyaratkan akan kembali mencalonkan diri pada pilpres 2024.

Ia juga mengatakan AS kemungkinan akan melewatkan tenggat waktu 1 Mei 2021 yang ditetapkan oleh mantan presiden Donald Trump untuk menarik semua pasukan dari Afghanistan. Meskipun ia menjelaskan dirinya berharap untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika tahun ini.

Saat memberi penjelasan tapi menyampaikan jawaban-jawaban sederhana, Biden menampilkan karakter yang sangat berbeda dari pendahulunya yang bombastis. Ia menggelar pertemuan formal pertama dengan wartawan di Ruang Timur Gedung Putih yang megah, sejak dia menjabat pada 20 Januari 2021.

Biden menunggu lebih lama dari presiden mana pun di AS era modern untuk mengadakan konferensi pers. Para stafnya tampak khawatir, politisi 78 tahun - yang bercanda bahwa dia masuk Senat 120 tahun lalu  - itu akan membelokkan pesan yang dibuat dengan hati-hati.

Tetapi Biden tampak sangat tenang dan memegang kendali, saat dia menjadikan dirinya sebagai operator berpengalaman di Washington yang akan mengatasi masalah mendesak dimulai dengan Covid-19. Pandemi ini telah menewaskan hampir 550.000 orang di AS.

"Saya telah dipekerjakan untuk memecahkan masalah, bukan menciptakan perpecahan," kata Biden, Kamis (26/3) waktu setempat, yang dikutip AFP.

Ia merujuk pada bagian dari undang-undang (UU) bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun yang mengirimkan uang ke sebagian besar warga Amerika. "Saya orang yang cukup praktis. Saya ingin menyelesaikan sesuatu," tuturnya.

Biden memulai konferensi persnya dengan mengumumkan dirinya berencana mengelola 200 juta dosis vaksin Covid-19 dalam 100 hari pertamanya, pada akhir April.

"Saya tahu itu ambisius, dua kali lipat dari tujuan awal kami. Tetapi tidak ada negara lain di dunia yang mendekati, bahkan sama sekali tidak mendekati, dengan apa yang kita lakukan. Dan saya yakin kita bisa melakukannya," jelas Biden.

Ia tidak menghadapi pertanyaan tentang Covid-19, tanda dari narasi nasional yang berubah, maupun tentang skenario tak terbayangkan untuk para pemimpin Eropa di bawah tekanan karena penyebaran virus.

AS di bawah Biden telah secara dramatis meningkatkan distribusi vaksin, yang dikembangkan selama kepresidenan Trump. Demikian juga terjadi peningkatan bantuan ekonomi, membawa keuntungan karena rawat inap menurun dan klaim pengangguran turun ke level terendah sejak dimulainya pandemi.

Masalah Perbatasan

Di tengah keberhasilan melawan Covid-19, Partai Republik Trump bersatu mengecam Biden atas gelombang imigran Amerika Tengah menuju ke perbatasan selatan.

Biden menolak tuduhan Republik atas krisis perbatasan dan menyuarakan belas kasih untuk orang-orang dari Guatemala, Honduras, dan Nikaragua yang melarikan diri dari kekerasan dan kemiskinan.

"Ada peningkatan signifikan dalam jumlah orang yang datang ke perbatasan pada bulan-bulan musim dingin Januari, Februari, Maret. Itu terjadi setiap tahun," kata dia.

Tetapi para pejabat mengatakan jumlah anak tanpa pendamping telah meningkat, seiring dengan langkah cepat pemerintahan Biden mendirikan lebih banyak tempat penampungan untuk menampung anak-anak.

Biden tidak meminta maaf karena tidak mengirim kembali anak-anak. Ini merupakan perubahan dari Trump, yang membangun karier politiknya dengan pengaduan keras terhadap imigrasi dan dalam salah satu gerakannya yang paling kontroversial, memisahkan anak-anak imigran dari orang tuanya.

"Gagasan yang akan saya katakan tidak akan pernah saya lakukan, jika seorang anak tanpa pendamping berakhir di perbatasan, kita akan membiarkan mereka mati kelaparan dan tetap di sisi lain. Tidak ada pemerintahan sebelumnya yang melakukan itu, kecuali Trump. Saya tidak akan melakukannya," tukasnya.

Biden telah menugaskan Wakil Presiden AS Kamala Harris yang bertanggung jawab atas situasi perbatasan. Ini adalah pertama kalinya memberikan portofolio khusus untuk orang nomor dua, yang terus-menerus berada di sisi presiden tertua Amerika yang pernah ada.

Di tengah spekulasi bahwa Biden meletakkan dasar bagi Harris dalam pemilihan 2024, presiden tersebut mengatakan ia sangat menghormati garis hidup, tetapi berencana untuk kembali mencalonkan diri. "Rencana saya adalah mencalonkan diri kembali. Itu harapan saya," ujar Biden.

Sebagai seorang politisi veteran, Biden kemungkinan besar menyadari setiap keberatan tentang masa depan politiknya akan segera mendominasi percakapan.

Lebih Lama di Afghanistan

Mengenai kebijakan luar negeri, Biden menambahkan nuansa pada dua masalah utama Trump. Biden sebagai wakil presiden Barack Obama mendukung kepulangan pasukan AS di Afghanistan.

Ia juga memberikan indikasi paling jelas, dirinya tidak akan memenuhi kesepakatan antara Trump dan gerilyawan Taliban untuk menarik sisa pasukan AS pada 1 Mei.

Ia mengatakan itu sulit dilakukan karena apa yang disebutnya alasan taktis. "Kita akan pergi. Pertanyaannya adalah kapan kita pergi," katanya.

Saat ditanya apakah dia membayangkan tentara AS masih ada di Afghanistan pada 2022, Biden berkata, "Saya tidak dapat membayangkan itu menjadi masalahnya," tukasnya.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN