Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Joe Biden, presiden terpilih Amerika Serikat (AS). ( Foto: JIM WATSON / AFP )

Joe Biden, presiden terpilih Amerika Serikat (AS). ( Foto: JIM WATSON / AFP )

Biden Tunggu Rekomendasi untuk Berbagi Rahasia dengan Trump

Selasa, 19 Januari 2021 | 06:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Kepala staf Gedung Putih mendatang, Ron Klain, mengatakan bahwa Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan menunggu rekomendasi dari para penasihat intelijennya. Tentang apakah akan berbagi informasi rahasia dengan Donald Trump setelah tidak menjabat sebagai presiden.

Pernyataan itu disampaikan Klain pada Minggu (17/1) waktu setempat, setelah mantan wakil direktur utama intelijen nasional, Sue Gordon menulis opini yang isinya menentang berbagi informasi dengan Trump ketika ia telah meninggalkan kursi kepresidenan.

“Dengan tindakan sederhana – yang merupakan hak prerogatif presiden baru – Joe Biden dapat mengurangi satu aspek dari potensi risiko keamanan nasional yang ditimbulkan oleh Donald Trump, setelah menjadi warga biasa,” ujar Gordon dalam artikel yang dimuat di surat kabar Washington Post dengan judul: A former president Trump won’t ‘need to know.’ Cut off his intelligence, atau “Mantan presiden Trump tidak perlu tahu. Putuskan (informasi) intelijennya.”

Saat diminta tanggapannya soal rekomendasi Gordon, Klain menyampaikan dalam program CNN “State of the Union” bahwa Biden ingin mendengar dari para profesional intelijennya sendiri sebelum membuat keputusan apa pun.

“Kami pasti akan mencari rekomendasi dari para profesional intelijen di pemerintahan Biden, dan kami akan menindaklanjuti rekomendasi itu,” katanya.

Gordon – yang mengundurkan diri pada 2019 – menuturkan bahwa mantan presiden mana pun adalah target intelijen asing, tetapi Trump mungkin sangat rentan terhadap aktor jahat dengan niat buruk, antara lain, kepentingan bisnisnya di luar negeri.

“Tidak jelas apakah dia memahami keahlian perdagangan yang telah dia ketahui, alasan pengetahuan yang dia peroleh harus dilindungi dari kebocora, atau maksud dan kemampuan lawan,” tambahnya.

Ketua Komisi Intelijen DPR Demokrat Adam Schiff secara blak-blakan mengatakan kepada CBS bahwa ia tidak bisa dipercaya dengan itu.

FBI Saring Garda Nasional

Di sis lain, badan penegak hukum AS sedang melakukan penyaringan terhadap anggota Garda Nasional guna memastikan, bahwa tidak ada satu pun dari mereka bakal menimbulkan risiko keamanan selama acara pelantikan Presiden terpilih Joe Biden. Demikian disampaikan kata seorang Jenderal bintang empat Daniel Hokanson dalam komentar yang disiarkan Minggu.

Menyusul kerusuhan pendukung Donald Trump di gedung Capitol pada 6 Januari, terungkap bahwa beberapa dari mereka yang terlibat memiliki hubungan saat ini atau sebelumnya dengan militer.

Saat ditanya CBS News pada Minggu terkait pemeriksaan terhadap pasukan pengaman, Jenderal Hokanson, yang mengepalai Biro Garda Nasional, menyatakan semua pasukan diperiksa ketika tiba di Washington.

“Dalam koordinasi dengan Dinas Secret Service dan Biro Investigasi Federal (FBI) mereka menyaring semua personel yang masuk,” kata Hokanson.

Sebagai informasi, sebagian besar pemandangan yang terlihat di Washington kini ibarat kompleks benteng di zona perang. Sebagian besar akses ke pusat kota diblokir dengan pagar keamanan beratap kawat. Sekitar 25.000 tentara Garda Nasional telah dikerahkan ke ibu kota AS.

Dalam sepucuk surat baru-baru ini kepada semua tentara AS, kepala staf gabungan mengatakan kepada anggota dinas bahwa kerusuhan 6 Januari tidak sejalan dengan aturan hukum, dan menambahan bahwa pasukan harus mewujudkan nilai-nilai dan cita-cita bangsa.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN