Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden AS Joe Biden. ( Foto: Drew Angerer / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Presiden AS Joe Biden. ( Foto: Drew Angerer / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Biden Usulkan Tiru Inisiatif 'Belt and Road' Tiongkok

Senin, 29 Maret 2021 | 06:38 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Joe Biden telah menganjurkan Amerika Serikat (AS) untuk membuat inisiatif bersama negara-negara demokratis guna menyaingi inisiatif Tiongkok di bidang infrastruktur yang disebut Belt and Road Initiative – yang bernilai triliun dolar. Usulan ini seiring dengan semakin meningkatnya ketegangan antara kekuatan Asia dan negara-negara Barat.

Menurut laporan, bahwa pada Jumat (26/3) malam waktu setempat, Biden mengajukan proposal ke Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, di tengah perselisihan seputar pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang menargetkan warga minoritas Uighur di wilayah Xinjiang, Tiongkok barat laut.

“Pada dasarnya, saya menyarankan kita harus memiliki inisiatif serupa yang datang dari negara-negara demokratis, membantu komunitas di seluruh dunia yang pada kenyataannya membutuhkan bantuan,” ujar Biden kepada wartawan, mengacu pada Belt and Road.

Pengaruh Tiongkok disebut-sebut telah tumbuh di beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir melalui pemberian pinjaman dan proyek-proyek di bawah inisiatif tersebut, sehingga meningkatkan kekhawatiran di antara kekuatan regional dan negara-negara Barat.

Sebagai informasi Tiongkok telah membantu sejumlah negara, dengan membangun atau mengembangkan jalan, rel kereta api, bendungan, dan pelabuhan.

Bahkan Presiden Xi Jingping telah berjanji untuk mengejar kerja sama yang terbuka, hijau, dan bersih di bawah Belt and Road. Namun bank-bank di Tiongkok masih terus membiayai proyek-proyek batubara karena Negeri Tirai Bambu itu memanfaatkan inisiatif untuk membuat batubara sebagai permainan di luar negeri.

Tercatat, antara 2000 dan 2018, ada 23,1% dari US$ 251 miliar yang diinvestasikan oleh dua bank kebijakan terbesar Tiongkok untuk proyek-proyek energi luar negeri – yang dibelanjakan pada proyek batubara. Demikian menurut database Boston University’s tentang pembiayaan energi global Tiongkok.

Sementara itu, Inggris – dalam pembacaan ajakan antara Biden dan Johnson – tidak menyebutkan proposal presiden AS soal respons Barat terhadap Belt and Road. Tetapi mencatat, bahwa kedua pemimpin membahas tindakan signifikan untuk menjatuhkan sanksi kepada para pelanggar hak asasi manusia di Xinjiang.

Sebagai informasi, Uni Eropa, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat telah memberikan sanksi kepada beberapa anggota hierarki politik dan ekonomi Xinjiang pekan ini dalam tindakan terkoordinasi atas tuduhan hak asasi. Langkah tersebut mendorong pembalasan Tiongkok dalam bentuk sanksi terhadap individu dari UE dan Inggris.

Pemerintah Tiongkok telah menegaska bahwa situasi di Xinjiang adalah urusan internal. Pihak berwenang mengumumkan pemberian sanksi pada Jumat terhadap sembilan individu Inggris dan empat entitas, dengan alasan telah menyebarkan kebohongan dan informasi salah yang jahat atas perlakuan terhadap Uighur.

Sedikitnya, terdapat satu juta penduduk Uighur dan orang-orang dari kelompok yang sebagian besar umat Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang. Kelompok hak asasi manusia juga menuding pihak berwenang mensterilkan wanita secara paksa dan melakukan kerja paksa.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN