Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Ilustrasi bursa saham Asia. (Foto: AFP)

Ilustrasi bursa saham Asia. (Foto: AFP)

Bursa Saham Sambut Arah Baru Amerika

Jumat, 22 Januari 2021 | 06:04 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

HONG KONG, investor.id – Pasar saham di Asia dan Eropa menyambut hari pertama Joe Biden sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) dengan kenaikan besar-besaran pada Kamis (21/1). Hal ini seiring pandangan optimistis para investor kedepan tentang ekonomi dan rencana pemulihan dari pandemi virus corona Covid-19.

Tidak menunggu lama, usai dilantik pada Rabu (20/1), Biden langsung menandatangani belasan perintah eksekutif yang kebanyakan membatalkan kebijakan pendahulunya. Perintah ini termasuk bergabung kembali AS dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebuah langkah yang menurut pengamat akan membantu dalam memerangi Covid-19.

Biden juga membawa AS kembali ke Pakta Iklim Paris, serta memperpanjang moratorium penyitaan hipotek dan jeda pembayaran hutang siswa.

Langkah itu dilakukan di saat pemerintahan baru AS berupaya mendorong paket stimulus senilai US$ 1,9 triliun untuk membantu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Paket bantuan ini mencakup, antara lain, pemberian bantuan langsung tunai US$ 1.400 kepada warga Amerika yang sedang berjuang.

Para investor menyambut baik pemilihan Biden dan janjinya untuk memulai pertumbuhan, yang telah mengimbangi kekhawatiran tentang rencananya untuk pajak yang lebih tinggi dan regulasi pasar.

Dalam pidato pelantikannya, Biden juga berjanji “membangun kembali ekonomi dan membangun kembali tulang punggung negara: kelas menengah.”

Sebelumnya pada Selasa (19/1), calon menteri keuangan AS Janet Yellen mendorong pasar dengan menegaskan kembali tekadnya untuk meloloskan paket stimulus. Dia memberitahu anggota parlemen untuk go big atau berusaha sekuat tenaga jika ingin menyelamatkan ekonomi AS.

Sedangkan pihak lain ada yang memperkirakan, Biden akan mencurahkan lebih banyak waktu untuk memerangi virus corona, yang telah menewaskan lebih dari 400.000 orang di Amerika Serikat dan dua juta di seluruh dunia.

Di sisi lain, Jeffrey Halley dari OANDA tetap memberika peringatan kepada para pedagang.

“Satu risiko kritis tetap ada dan sama sekali diabaikan oleh pasar keuangan di mana-mana. Itu adalah kecenderungan minoritas Republik di Senat AS untuk melakukan bipartisan. Keheningan mereka telah memekakkan telinga sampai sekarang tentang seberapa kooperatif mereka dengan presiden yang baru,” ujar dia, seperti dikutip AFP.

Melihat Melalui Karantina

Di samping itu, tiga indeks acuan di Wall Street melonjak ke level tertinggi, sedangkan kalangan investor Asia menerima tanggung jawab dengan senang hati.

Bursa saham di Tokyo, Shanghai, Sydney, Seoul, Singapura, Taipei, Bangkok dan Wellington semuanya menunjukkan penguatan. Sementara itu bursa efek di Jakarta melemah, dan Manila datar.

Untuk kali pertama, bursa Sensex Mumbai menyusul naik dan melampaui 50.000. Sedangkan bursa di London, Paris dan Frankfurt semuanya dibuka menguat.

Hanya bursa Hong Kong yang sedikit lebih rendah karena aksi ambil untung usai lima hari menguat, setelah sebelumnya pada hari itu menembus 30.000 poin untuk pertama kalinya sejak April 2019.

“Pasar saham terus meningkat pasca pelantikan dengan pandangan konsensus sekarang, karena fokus awal Biden akan lebih pada pertumbuhan daripada kenaikan pajak.Pasar juga melihat melalui penguncian yang lebih lama dengan premis bahwa vaksinasi Covid akan membawa kita keluar dari pandemi dengan cepat,” demikian dijelaskan oleh ahli strategi Axi Stephen Innes.

Harapan dari rencana pemulihan Biden telah membantu menutupi kekhawatiran soal melonjaknya kasus virus dan penyebaran virus yang lebih menular. Di mana hal ini memicu ketidakpastian bagi pemerintah di saat berjuang untuk memberikan vaksinasi kepada populasi mereka.

Biden telah berjanji memvaksinasi 100 juta orang dalam 100 hari pertamanya. Para analis juga mengatakan vaksin baru sekali pakai buatan raksasa farmasi Johnson & Johnson – yang mudah diangkut – akan sangat penting dalam mencapai target itu. Walau vaksin masih harus disahkan penggunannya.

“Jika stimulus terjadi pada saat yang sama ketika orang-orang divaksinasi, optimistis bisa membantu membangun. Ini taruhan yang cukup aman, karena akan ada paket stimulus lain dengan pembayaran lebih langsung kepada konsumen dan individu, serta lebih banyak bantuan untuk usaha kecil,” ujar Keith Buchanan dari GLOBALT Investments di Atlanta.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN