Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Calon Menteri Luar Negeri (menlu) Amerika Serikat (AS) Antony Blinken. ( Foto:  Stephane De Sakutin /AFP via Getty Images )

Calon Menteri Luar Negeri (menlu) Amerika Serikat (AS) Antony Blinken. ( Foto: Stephane De Sakutin /AFP via Getty Images )

Calon Menlu Anthony Blinken: AS akan Memimpin Dunia Lagi

Rabu, 20 Januari 2021 | 06:03 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON – Calon Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Antony Blinken berjanji AS akan mengungguli Tiongkok lagi. Tapi ia juga berjanji menghidupkan kembali hubungan aliansi yang sekarang rusak. Pernyataannya pada Selasa (19/1) itu mengisyaratkan perubahan besar dari pendekatan kebijakan “America First” oleh Presiden Donald Trump.

Di hadapan anggota sidang persetujuan Senat, Blinken mengatakan bahwa AS akan berusaha tetap menjadi kekuatan global unggulan, sekaligus memperbarui kerja sama dalam tantangan bersama. Seperti pandemi Covid-19 dan perubahan iklim.

“Amerika berada dalam kondisi terbaiknya yang masih memiliki kemampuan lebih besar, daripada negara mana pun di dunia untuk memobilisasi orang lain demi kebaikan yang lebih besar. Kita dapat mengalahkan Tiongkok – dan mengingatkan dunia bahwa pemerintah rakyat, oleh rakyat, dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya, sebuah kutipan dari Abraham Lincoln,” ujar Blinken kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat, yang dikutip AFP.

Berbeda dengan pernyataan-pernyataan tajam yang kerap dilontarkan Menlu Mike Pompeo, yang sesumbar soal kesombongan, pengecualian Amerika dan konflik global dengan Tiongkok. Sebaliknya Blinken akan menunjukkan sikap rendah hati.

“Tidak satu pun dari tantangan besar yang kami hadapi dapat dipenuhi oleh satu negara yang bertindak sendiri – bahkan yang sekuat AS. Kami dapat merevitalisasi aliansi inti kami – memperkuat pengaruh kita bersama di seluruh dunia. Bersama-sama, kita berada pada posisi yang jauh lebih baik untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia, Iran, dan Korea Utara, serta untuk membela demokrasi dan hak asasi manusia,” demikian penjelasan Blinken.

Blinken (58 tahun) lahir dari orang tua Yahudi dan mendiang ayah tirinya, Samuel Pisar, adalah korban selamat dari peristiwa Holocaust. Pria kelahiran New York ini dikenal karena kecintaannya pada masalah kemanusiaan, dan dia diproyeksikan meraih persetujuan senat. Partai Republik sendiri berjanji menekannya dengan keras sehubungan pekerjaan konsultasi sejak meninggalkan pemerintahan Barack Obama empat tahun lalu.

Di sisi lain, Presiden terpilih AS Joe Biden telah berjanji untuk bergerak cepat menangani sejumlah permasalahan negara, usai dilantik pada Rabu (20/1) sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Biden mengatakan bakal langsung membatalkan beberapa kebijakan Trump yang paling memecah belah.

Biden juga berjanji kembali bergabung dengan Pakta Iklim Paris, membatalkan keluarnya AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan mengakhiri program pemisahan migrasi yang kejam antara anak-anak Amerika Latin dari keluarganya.

Bersama Blinken – yang fasih berbahasa Prancis – Biden ingin memperbaiki perselisihan dengan sekutu-sekutu Barat, yang telah berubah menjadi sangat pribadi di bawah kepemimpinan Trump, yang kerap melanggar protokol dengan secara terbuka menyerang rekan-rekannya.

Biden pun diprediksi memulihkan perjanjian nuklir Iran yang dinegosiasikan di era Obama, yang meyakini bahwa keluarnya Trump dan penerapan sanksi menjadi bumerang bagi Iran untuk meningkatkan program yang diperebutkan.

Prioritas Biden

Di samping itu, ada tenggat waktu yang harus dipenuhi oleh Biden mengingat segera berakhirnya perjanjian pengurangan nuklir yang disebut Pakta START Baru – sebuah kesepakatan senjata terakhir yang tersisa dengan Rusia – pada 5 Februari.

Rekan-rekannya di Partai Demokrat pun telah mendesak Biden untuk sementara waktu memperpanjang perjanjian tersebut. Opsi ini mendapat dukung Rusia, setelah pemerintahan Trump gagal berusaha memperluas START Baru dengan membawa masuk Tiongkok.

Sementara itu, pemerintahan Trump di hari-hari terakhirnya telah mengambil banyak keputusan besar yang dianggap sebagai usaha untuk membatasi tim berikutnya. Hal ini menuai kritik dari Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Biden. Salah satunya yang dikecam adalah, tudingan pemberontak Huthi yang berpihak pada Iran di Yaman sebagai kelompok teroris. Langkah ini dikritik akan memperburuk krisis kemanusiaan.

Pompeo, di hari-hari terakhirnya, juga kembali menunjuk Kuba sebagai negara sponsor terorisme yang akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibatalkan.

Dalam pidato pengukuhan sebagai presiden AS di Capitol, Biden akan membuat pernyataan soal tujuan internasional AS, mulai dari isu peringatan Perang Dinginoleh John F. Kennedy tentang "perjuangan senja yang panjang hingga tawaran Obama kepada musuh “untuk mengulurkan tangan jika Anda bersedia melepaskan kepalan tangan Anda.”

Pelantikan Biden akan berbeda dari kebanyakan pelantikan presiden AS sebelumnya. Mengingat pandemi Covid-19 yang masih melanda dan telah merenggut dua juta jiwa di seluruh dunia, serta keamanan yang sangat ketat setelah serangan massa pro-Trump pada 6 Januari di gedung tempat Biden akan disumpah.

“Citra Amerika dirugikan secara permanen. Hal yang paling bisa dilakukan Biden adalah berharap untuk menambal beberapa lubang dan berharap itu tidak akan terlalu sulit,” kata Brett Bruen, mantan diplomat AS yang mengepalai perusahaan konsultan Ruang Situasi Global.

Sedangkan Richard Haass, presiden Dewan Hubungan Luar Negeri, mengatakan bahwa kekerasan politik harus mengakhiri gagasan tentang pengecualian Amerika. “Sebuah dunia pasca-Amerika, yang tidak lagi ditentukan oleh keunggulan AS, akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan secara umum - bukan karena kebangkitan orang lain yang tak terhindarkan daripada karena apa yang telah dilakukan Amerika Serikat terhadap dirinya sendiri,” demikian tulis Haass.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN