Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva saat berbicara di Sidang Paripurna Rapat Musim Gugur IMF/Bank Dunia di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 18 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Andrew CABALLERO-REYNOLDS )

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva saat berbicara di Sidang Paripurna Rapat Musim Gugur IMF/Bank Dunia di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 18 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Andrew CABALLERO-REYNOLDS )

Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia

Dorong Barter Keringanan Utang dengan Investasi Hijau

Senin, 12 April 2021 | 06:39 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id – Gagasan untuk menghapuskan utang yang dimiliki negara-negara miskin dengan imbalan investasi di proyek-proyek hijau semakin menguat pada pekan ini. Hal itu diungkap dalam pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pembahasan lebih lanjut tentang usulan konkret tersebut diperkirakan berlangsung di pertemuan puncak iklim global pada musim gugur tahun ini.

Menurut laporan, negara-negara berpenghasilan rendah telah menghadapi krisis ganda, yakni berada di bawah tekanan untuk membayar hutang dan menghadapi masalah lingkungan.

“Hal itu membuat mereka sangat, sangat rentan. Dengan demikian, usulan ini masuk akal bagi dunia untuk mengejar apa yang disebut 'barter utang hijau',” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada pekan ini yang dikutip AFP.

Juru bicara Bank Dunia juga menegaskan hal itu. “Krisis Covid-19 telah membuat negara-negara sulit berkembang secara signifikan untuk mengatasi lonjakan risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, dan bencana lingkungan,” tutur juru bicara yang enggan menyebutkan namanya.

Dengan keadaan anggaran yang sudah ketat, negara-negara tersebut harus menggunakan bantuan keuangan darurat untuk mengatasi dampak pandemi dan krisis ekonomi yang diakibatkannya.

“Dengan memperbesar beban utang pemerintah – yang sudah mencapai rekor tertinggi menjelang krisis – hal itu telah membuat mereka memiliki lebih sedikit sumber daya untuk diinvestasikan dalam pemulihan, yang juga akan menempatkan planet ini pada pijakan yang lebih berkelanjutan,” demikian menurut juru bicara kepada AFP.

Opsi Kreatif

Menurut juru bicara Bank Dunia, pekan ini akan diluncurkan kelompok kerja teknis – yang akan menyatukan perwakilan tidak hanya dari IMF dan Bank Dunia tetapi juga dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) – guna memeriksa opsi-opsi kreatif untuk membantu negara-negara mengatasi tantangan yang bersamaan ini.

“Pekerjaan itu baru saja dimulai. Tetapi kami pikir pendekatan proaktif sangat penting: kita harus melihat secara dekat bagaimana solusi potensial untuk tantangan iklim dan hutang dapat diintegrasikan untuk mengatasi masalah pembangunan utama di zaman kita,” tambahnya.

Meskipun belum ada batas waktu untuk mengumumkan langkah-langkah konkret, semua pihak yang terlibat jelas-jelas mengaju ke KTT iklim COP26 yang akan diadakan pada November di kota Glasgow, Skotlandia.

“Kami akan bekerja sama dengan Bank Dunia. Dan pada COP26 kami akan meningkatkan opsi barter utang (debt swap),” pungkas Georgieva, seraya menambahkan bahwa nantinya akan menjadi tanggung jawab kreditor dan debitur untuk memutuskan mengambil bagian.

Sedanglan bagi Thierry Deau – pendiri dan ceo grup Meridiam di Paris, Prancis yang mengkhususkan diri dalam pengembangan dan pembiayaan proyek infrastruktur – apabila mengejar opsi barter utang hijau, opsi itu harus dikaitkan dengan persyaratan yang jelas untuk memastikan, bahwa utang itu sesungguhnya mengarah pada peluncuran proyek-proyek hijau.

“Tanggung jawab utama atas keringanan utang ini ada di antara negara-negara yang berada di kedua belah pihak. Ada banyak kesopanan tentang topik ini, dan saya pikir kita harus menghentikannya dan menciptakan kemitraan yang nyata,” ujar Deau.

Kesempatan Kerja

Di sisi lain, IMF dan Bank Dunia harus mempertimbangkan keadaan buruk beberapa negara kepulauan dengan kondisi ekonomi berpenghasilan menengah. Pasalnya, negara-negara ini mendapat bantuan ekonomi lebih sedikit tetapi menghadapi tantangan lingkungan yang menakutkan.

Lebih lagi, umumnya perekonomian negara kepulauan sangat bergantung pada pariwisata. Namun, pandemi virus corona Covid-19 yang membatasi perjalanan di sueluruh dunia mengakibatkan pendapatan negara mengering.

Pada saat yang sama, wilayah dataran rendah sering menjadi korban cuaca ekstrem, termasuk angin siklon dan badai yang menghancurkan. Menurut Georgieva pada pekan ini, kerentanan terhadap guncangan iklim harus diperhitungkan ketika lembaga internasional mengalokasikan bantuan keuangan.

Dia juga menekankan bahwa negara-negara yang meluncurkan proyek-proyek hijau dapat melihat manfaat tambahan dari peningkatan lapangan kerja.

“Ada peluang untuk penciptaan lapangan kerja. Ambil saja, misalnya, energi terbarukan - tujuh pekerjaan berbanding satu di sektor energi batu bara tradisional, bahkan jika diperlukan beberapa pelatihan. Begitu pula dengan reboisasi, menjaga degradasi lahan, ketahanan terhadap guncangan iklim, ini semua adalah kegiatan padat karya. Para pembuat kebijakan perlu memikirkannya sekarang,” demikian penjelasan dari Georgieva.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN