Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Kepolisian Afrika Selatan tengah berpatroli dengan membawa tameng anti huru hara selama aksi memprotes larangan pemerintah terhadap orang-orang yang menikmati pantai di distrik Muizenberg, Cape Town pada 30 Januari 2021. Protes terkait karantina level 3 di Afrika Selatan karena pandemi Covid-19.( Foto: Rodger Bosch / AFP )

Anggota Kepolisian Afrika Selatan tengah berpatroli dengan membawa tameng anti huru hara selama aksi memprotes larangan pemerintah terhadap orang-orang yang menikmati pantai di distrik Muizenberg, Cape Town pada 30 Januari 2021. Protes terkait karantina level 3 di Afrika Selatan karena pandemi Covid-19.( Foto: Rodger Bosch / AFP )

Dunia Hadapi 4.000 Varian Baru Covid-19

Jumat, 5 Februari 2021 | 07:37 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris menyampaikan pada Kamis (4/2) bahwa dunia dihadapkan pada sekitar 4.000 varian virus yang menyebabkan Covid-19. Hal ini sudah mendorong perlombaan untuk meningkatkan kemampuan vaksin dalam mengatasi penyakit mematikan tersebut.

Hal ini disampaikan, ketika para peneliti mulai mengeksplorasi campuran dosis dari vaksin buatan Pfizer dan AstraZeneca. Menurut laporan, terdapat ribuan vaksin yang sudah didokumentasikan saat virus bermutasi, termasuk yang disebut varian virus baru yang muncul di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil – yang diklaim menyebar lebih cepat daripada yang lain.

Menteri Penyebaran Vaksin Inggris Nadhim Zahawi menuturkan, sangat tidak mungkin bahwa vaksin saat ini tidak akan bekerja melawan varian baru.

“Sangat kecil kemungkinannya vaksin saat ini tidak akan efektif pada varian-varian baik di Kent atau varian lain, terutama jika menyangkut penyakit parah dan yang dirawat inap,” ujar Zahawi kepada Sky News, yang dikutip Reuters.

Dia menambahkan, semua produsen, Pfizer-BioNTech, Moderna, Oxford-AstraZeneca dan lainnya, sedang mencari cara bagaimana dapat meningkatkan kemampuan vaksin-vaksinnya “guna memastikan bahwa kami siap untuk varian apa pun, yang saat ini ada sekitar 4.000 varian Covid di seluruh dunia.”

Menurut British Medical Journal, ribuan varian telah muncul saat replikasi virus bermutasi, hanya minoritas yang sangat kecil, kemungkinan besar menjadi penting dan mengubah virus dengan cara yang berarti.

Varian baru virus corona Covid-19 yang muncul di Inggris, yang dikenal sebagai VUI-202012/01, mengalami mutasi termasuk perubahan pada protein spike yang digunakan virus untuk mengikat reseptor ACE2 manusia – yang artinya mungkin lebih mudah untuk ditangkap.

“Kami memiliki industri urutan genom terbesar. Kami memiliki sekitar 50% industri urutan genom dunia, dan kami menyimpan perpustakaan semua varian sehingga kami siap untuk merespons baik di musim gugur atau seterusnya, untuk tantangan apa pun yang virus mungkin muncul dan menghasilkan vaksin berikutnya,” kata Zahawi.

Perlombaan Vaksin

Di sisi lain, berdasarkan catatan Johns Hopkins University of Medicine, virus corona baru – yang dikenal sebagai SARS-CoV-2 – telah merenggit 2,268 juta orang di seluruh dunia sejak muncul di Tiongkok pada akhir 2019.

Namun dalam hal pemberian vaksinasi, saat ini baru Israel yang memimpin perlombaan per kepala populasi, diikuti oleh Uni Emirat Arab, Inggris, Bahrain, Amerika Serikat (AS) dan kemudian Spanyol, Italia dan Jerman.

Sedangkan Inggris pada Kamis meluncurkan uji coba untuk mengkaji respons kekebalan yang dihasilkan dari (jika) dosis vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca digabungkan dalam jadwal dua suntikan.

Para peneliti Inggris yang berada di balik uji coba tersebut mengatakan, bahwa data tentang memvaksinasi orang dengan dua jenis vaksin yang berbeda dapat membantu pemahaman tentang apakah suntikan dapat dilakukan dengan lebih fleksibel di seluruh dunia.

Data awal tentang respons kekebalan diprediksi baru memberikan hasil sekitar Juni tahun ini. Ada pun uji coba tersebut akan memeriksa respons imun dari dosis awal vaksin buatan Pfizer yang diikuti oleh vaksin pendorong (booster) AstraZeneca, begitu pula sebaliknya, dengan interval empat dan 12 pekan.

Baik vaksin mRNA yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNtech, dan vaksin vektor virus adenovirus yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca saat ini sedang diluncurkan di Inggris, dengan jeda 12 pekan antara dua dosis vaksin yang sama.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN