Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lembaran cek kosong stimulus yang dicetak di fasilitas pencetakan Departemen Keuangan (Depkeu) Amerika Serikat (AS). ( Foto: William Thomas Cain / Getty Images)

Lembaran cek kosong stimulus yang dicetak di fasilitas pencetakan Departemen Keuangan (Depkeu) Amerika Serikat (AS). ( Foto: William Thomas Cain / Getty Images)

Ekonomi AS Menanti Stimulus Biden

Rabu, 10 Maret 2021 | 05:55 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Ekonomi Amerika Serikat (AS) pada pekan ini akan dibanjiri uang untuk membiayai vaksin Covid-19, bantuan tunai, dan tunjangan pengangguran. Ini karena Presiden Joe Biden dipastikan menandatangani paket stimulus senilai US$ 1,9 triliun tak lama setelah disahkan Kongres AS.

Rancangan undang-undang (RUU) – yang telah disetujui Senat pada Sabtu (6/3) dan dijadwalkan dilakukan pemungutan suara di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa (9/3) – akan menyediakan anggaran untuk program-program terkait membantu ekonomi AS bertahan dari masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, serta gangguan-gangguan yang dialami pebisnis yang dipicu oleh pandemi Covid-19.

Paket kali ini berbeda dari langkah-langkah bantuan sebelumnya, karena paket senilai US$ 1,9 triliun ini secara khusus menargetkan pengentasan kemiskinan dengan menambah kredit pajak yang dimaksudkan membantu keluarga-keluarga berpenghasilan rendah. Menurut para ekonom, paket ini dapat mendorong angka kemiskinan anak berkurang hampir setengahnya.

“Ini adalah perubahan besar bagi kebijakan sosial Amerika,” ujar Samuel Hammond, direktur kebijakan kemiskinan dan kesejahteraan di Niskanen Center, terkait perombakan RUU yang dikenal sebagai Rencana Penyelamatan Amerika, yang dilansir AFP.

Sebagai informasi, Kongres sendiri hanya dikontrol tipis oleh Demokrat - yang mengusung Biden. Para analis pun percaya, bahwa usulan awal presiden tentang besaran nilai stimulus bakal dipangkas secara signifikan.

Akan tetapi, sebagian besar dari isi RUU tersebut tetap bertahan. Dan banyak perusahaan yang percaya bahwa ekonomi AS akan berkembang lebih cepat tahun ini. Bahkan Oxford Economics memperkirakan terjadi peningkatan produk domestik bruto (PDB) 7%.

“Itu adalah perhitungan dari pihak Demokrat - kita akan mendapatkan lagi, dan kita akan membuatnya cukup besar sehingga kita tidak perlu khawatir belum berbuat cukup,” kata ekonom Joel Naroff tentang penambahan paket yang mengejutkan dari Demokrat.

Bantuan Dilanjutkan

Menurut laporan, Pemerintah AS dilaporkan mulai mengeluarkan banyak uang ketika jumlah kasus wabah Covid-19 berubah menjadi yang terbesar di dunia. Angka pengangguran pun ikut meroket menyusul banyak bisnis yang ditutup dan terbatasnya operasional.

Tahun lalu, undang-undang (UU) CARES senilai US$ 2,2 triliun yang disahkan mampu meningkatkan pembayaran tunjangan mingguan untuk pengangguran, memperluas persyaratan, menawarkan bantuan kepada usaha-usaha kecil dan mendanai cek stimulus untuk para konsumen.

Pada Desember tahun lalu, bantuan tambahan sebanyak US$ 900 miliar juga telah disahkan.

Tetapi setelah Biden resmi menjabat sebagai presiden pada Januari 2021, ia mengusulkan langkah ketiga, antara lain, akan mempertahankan bantuan tunjangan pengangguran yang diperluas hingga 6 September.

Usulan itu menuai perdebatan dari Partai Republik, yang menganggap RUU sebagai langkah pemborosan. Beberapa ekonom juga khawatir RUU itu dapat memicu inflasi.

RUU tersebut mencakup pengalokasian uang untuk mempercepat kampanye vaksinasi AS melawan Covid-19. Tanpa itu, Naroff memperingatkan bahwa krisis – dan kebutuhan belanja pemerintah yang besar – tidak akan berakhir.

“Setelah Anda menurunkan pandemi ke tingkat di mana Anda mungkin tidak akan menyebutnya pandemi lagi, Anda dapat memulai proses perpindahan dari ekonomi yang dijalankan pemerintah ke ekonomi yang dijalankan sektor swasta,” tuturnya.

Michael Pugliese, ekonom Wells Fargo Securities, mengatakan bisnis akan meningkatkan perekrutan dalam beberapa bulan mendatang apabila kasus virus telah surut. Hanya saja belum dapat dipastikan, apakah AS akan kembali ke angka pengangguran rendah yang terlihat sebelum pandemi, seperti prediksi Menteri Keuangan Janet Yellen.

“Bahkan jika kita belum sepenuhnya kembali bekerja sepenuhnya pada 2022, kita seharusnya berada di tempat yang jauh lebih baik daripada saat ini dalam pekerjaan,” tambah Pugliese kepada AFP.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN