Menu
Sign in
@ Contact
Search
The Fed berencana untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif untuk memperlambat perekonomian. (FOTO: NYTIMES)

The Fed berencana untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif untuk memperlambat perekonomian. (FOTO: NYTIMES)

Fed Bisa Hindari Sakit Mendalam dalam Pertarungan Inflasi

Senin, 26 September 2022 | 10:22 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) Atlanta Raphael Bostic mengaku masih percaya bank sentral Amerika Serikat (AS) dapat menjinakkan inflasi tanpa kehilangan angka pekerja yang substansial, mengingat momentum ekonomi yang berkelanjutan.

“Jika Anda melihat sejarah ... ada peluang yang sangat bagus bahwa jika kita kehilangan pekerjaan, itu akan lebih kecil (daripada di masa lalu),” kata Bostic pada program “Face the Nation” CBS, dilansir Senin (26/9).

“Inflasi tinggi. Terlalu tinggi. Dan kita perlu melakukan semua yang kita bisa untuk membuatnya turun,” kata Bostic tentang rencana Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga agresif. Ini dimaksudkan untuk memperlambat ekonomi, membawa permintaan barang dan jasa lebih sesuai dengan pasokan, serta inflasi yang lebih rendah berjalan pada tertinggi empat dekade.

Baca juga: BI Perkirakan Inflasi September 2022 Capai 1,1%

Seberapa dalam dan bertahannya perlambatan yang dibutuhkan, ditambah kehilangan angka pekerja yang mungkin terjadi, tetap menjadi bahan perdebatan. Para pejabat Fed terus berargumen bahwa perusahaan tidak akan mungkin memberhentikan pekerja yang sulit didapat selama pandemi Covid-19.

Mengutip pertumbuhan kuat yang berkelanjutan dalam pekerjaan penggajian, Bostic mengatakan ada banyak momentum positif. Menurutnya, ada beberapa kemampuan bagi ekonomi untuk menyerap tindakan regulator hingga akhirnya melambat dengan cara yang relatif teratur.

Bostic juga mengatakan pihaknya perlu perlambat yang sesuai.

“Kita akan melakukan semua yang kita bisa di Federal Reserve untuk menghindari rasa sakit yang mendalam,” tegasnya.

Gejolak di Pasar Global

Bostic berbicara setelah minggu yang bergejolak di pasar keuangan global.

Baca juga: Airlangga: Upaya Pengendalian Inflasi telah Memperlihatkan Hasil

The Fed pada Rabu (21/9) menyetujui kenaikan suku bunga tiga perempat poin atau 75 basis poin (bps) ketiga berturut-turut. Bank sentral tersebut juga mengeluarkan proyeksi yang menunjukkan suku bunga naik lebih tinggi, serta akan bertahan di sana lebih lama, daripada yang diantisipasi investor.

Seiring dengan langkah serupa oleh sejumlah bank sentral lainnya, berita tersebut memicu aksi jual tajam di pasar ekuitas dan peringatan bahwa dengan begitu banyak pejabat moneter yang mengetatkan kebijakan sekaligus, risiko resesi global meningkat.

Retakan lain muncul.

Harga impor Jepang dan inflasi lokal dihantam oleh kenaikan dolar, melakukan intervensi untuk pertama kalinya dalam hampir seperempat abad untuk memperkuat yen.

Pemotongan pajak yang diusulkan pemerintah Inggris tampaknya menempatkan kebijakan fiskal bertentangan dengan upaya bank sentralnya untuk menjinakkan inflasi dengan kenaikan suku bunga. Poundsterling jatuh sekitar 3,5% terhadap dolar ke level terendah sejak 1985.

Baca juga: Menkeu Inggris Umumkan 11 Aturan Pajak Baru

Terlepas dari kekhawatiran global, Powell mengatakan bank sentral akan tetap fokus pada inflasi AS. Perlu melihat penurunan yang meyakinkan dalam laju kenaikan harga selama beberapa bulan mendatang, katanya, untuk mengubah pandangannya.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com