Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga memprotes protes kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), oleh pemerintah untuk mengamankan pinjaman Dana Moneter Internasional (IMF), di depan polisi anti huru hara di Guayaquil, Ekuador pada 9 Oktober 2019. ( Foto:  AFP / Marcos PIN )

Warga memprotes protes kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), oleh pemerintah untuk mengamankan pinjaman Dana Moneter Internasional (IMF), di depan polisi anti huru hara di Guayaquil, Ekuador pada 9 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Marcos PIN )

Harga BBM Naik, Bentrokan Pecah di Ekuador

Grace Eldora, Rabu, 9 Oktober 2019 | 10:39 WIB

MACHACHI, investor.id - Pengunjuk rasa bentrok dengan pasukan Ekuador saat mereka bergerak menuju ibukota untuk memprotes naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Sebelumnya, pemerintah mengumumkan tiga fasilitas minyak telah disandera sehingga produksi harian terpangkas sebesar 12%.

Polisi antihuru hara dan militer menggunakan gas air mata untuk mencoba membubarkan demonstran di Machachi, pinggiran kota Quito, ketika massa memblokir jalan dengan membakar ban. Polisi juga membuat barikade menjelang unjuk rasa yang ditetapkan hari ini.

"Lebih dari 20.000 penduduk asli akan tiba di Quito," kata Jaime Vargas, pemimpin organisasi masyarakat adat CONAIE, Senin (7/10).

Pada 2000, CONAIE menjadi kunci untuk mengusir presiden Jamil Mahuad dari jabatan selama krisis ekonomi saat itu.

Demonstran lain berusaha memaksa masuk ke Majelis Legislatif Nasional di ibukota. Badan pemerintah tersebut mengatakan lewat sebuah pernyataan, kerumunan telah melakukan tindakan vandalisme di sekitarnya.

Bentrokan terjadi ketika Kementerian Energi Ekuador mengumumkan kegiatan di tiga ladang minyak di wilayah Amazon telah ditangguhkan karena penyanderaan fasilitas oleh sekelompok orang di luar operasi. Adapun satu fasilitas dioperasikan oleh perusahaan swasta Petrobell dan lainnya oleh perusahaan milik negara Petroamazonas.

Pengambilalihan tersebut mempengaruhi 12% dari produksi minyak negara atau 63.250 barel minyak mentah per hari, menurut pernyataan kementerian. Pemerintah tidak mengidentifikasi kelompok yang bertanggung jawab.

Pada pidato radio dan televisi, Presiden Ekuador Lenin Moreno menuduh pendahulunya sekaligus mantan sekutu Rafael Correa dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari percobaan kudeta.

"Menggunakan beberapa kelompok adat, mengambil keuntungan dari mobilisasi mereka untuk menjarah dan menghancurkan," tutur pernyataan tersebut.

Dia menambahkan, bisnis pemerintah untuk sementara waktu pindah ke kota pelabuhan Guayaquil.

Menurut CONAIE, para pengunjuk rasa dari provinsi Andean selatan, beberapa dipersenjatai dengan tongkat dan cambuk, sedang melakukan perjalanan ke ibukota dengan truk dan berjalan kaki. Sementara kelompok-kelompok pribumi lainnya dijadwalkan tiba dari wilayah utara.

Protes tersebut merupakan yang terbesar dalam satu dasawarsa di Ekuador dipimpin oleh serikat pekerja tetapi mencakup pelajar dan lainnya. Negara ini telah diguncang oleh demonstrasi selama berhari-hari setelah kenaikan harga bahan bakar hingga 120% berlaku pada 3 Oktober 2019.

Sejauh ini aksi protes telah menewaskan satu warga sipil dan 77 orang luka-luka, sebagian besar dari mereka pasukan keamanan. Menurut pernyataan pemerintah, sebanyak 477 orang telah ditahan.

“(Pemerintah AS) sedang memantau perkembangan terakhir di Ekuador dengan hati-hati. Kami menolak kekerasan sebagai bentuk protes politik," unggah penjabat asisten sekretaris untuk Biro Departemen Luar Negeri Urusan Belahan Barat AS Michael Kozak, lewat media sosial Twitter.

Keadaan Darurat

Moreno membatalkan subsidi bahan bakar sebagai bagian dari perjanjian dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendapatkan pinjaman tinggi utang publik Ekuador. Akhir pekan lalu, presiden menyerukan dialog dengan kelompok-kelompok pribumi.

Pemimpin Fron Populer pekerja dan pelajar Nelson Erazo mengatakan, tindakan rakyat tidak akan berhenti jika pemerintah tidak mengubah kebijakan. Adapun subsidi bahan bakar menghabiskan biaya pemerintah US$ 1,3 miliar per tahun.

Perjanjian IMF yang ditandatangani pada Maret lalu memungkinkan pemerintah Ekuador meminjam US$ 4,2 miliar. Moreno yang menyalahkan kemunduran keuangan negara di Correa, mengumumkan keadaan darurat pada pertengahan pekan lalu. (afp/eld)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA