Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bitcoin terlihat di dalam Toko Big Apple Tobacco pada 8 Februari 2021, di New York City, Amerika Serikat (AS). ( Foto: Michael M. Santiago / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bitcoin terlihat di dalam Toko Big Apple Tobacco pada 8 Februari 2021, di New York City, Amerika Serikat (AS). ( Foto: Michael M. Santiago / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP )

Harga Bitcoin Melambung Dikhawatirkan Picu Gelembung

Sabtu, 20 Februari 2021 | 06:09 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON – Rekor harga mata uang digital bitcoin tengah dinikmati sepanjang pekan ini, setelah produsen mobil listrik Tesla dan para raksasa keuangan Wall Street ikut berinvestasi di dalamnya, dikhawatirkan memicu gelembung nan spekulatif.

Para investor dan perusahaan besar sama-sama dibuat terpesona oleh lonjakan pertumbuhan harga hingga peluang untuk mendapatkan keuntungan dan diversifikasi aset dengan investasi di bitcoin.

Harganya tembus US$ 50.000 pada Selasa (16/2). Masih di dalam pekan setelah Tesla mengumumkan investasi US$ 1,5 miliar di bitcoin. Perusahaan otomotif tersebut juga menjanjikan pelanggannya dapat menggunakan bitcoin sebagai alat pembelian. Tak lama kemudian, bank New York BNY Mellon dan titan kartu kredit MasterCard juga mengumumkan rencana untuk mendukung bitcoin.

Harga mata uang digital tersebut terus melonjak tinggi dan menembus level US$ 52.000 pada Rabu (17/2). Setelah raksasa dana investasi BlackRock juga menegaskan niatan untuk masuk ke sektor yang sedang berkembang pesat tersebut.

Namun lonjakan mengejutkan harga bitcoin minggu ini memicu kekhawatiran baru. Yakni munculnya gelembung besar, yang terakhir kali terjadi di pasar pada empat tahun lalu.

Sementara itu, perusahaan peranti lunak Amerika Serikat (AS) MicroStrategy pada Rabu mengumumkan rencana untuk menjual obligasi konversi untuk membeli lebih banyak bitcoin. Aksi ini menimbulkan keheranan.

"Tiba-tiba terasa seperti 2017 lagi, ketika semua orang ingin (bisa) menaiki gelombang kripto," ujar analis OANDA Craig Erlam, Jumat (19/2).

Jika fundamental perusahaan menjadi terkait erat dengan pergerakan bitcoin karena tiba-tiba menjadi spekulan di satu pihak, tambah dia, gelembung terjadi sebelum para investor.

Unit ini sebelumnya menjadi berita utama pada 2017 setelah melonjak, dari dii bawah US$ 1.000 pada Januari 2017 menjadi hampir US$ 20.000 pada Desember tahun yang sama.

Gelembung virtual kemudian meletus. Harga bitcoin berfluktuasi liar sebelum jatuh di bawah US$ 5.000 pada Oktober 2018.

"Bitcoin adalah aset yang sangat mudah berubah dan sangat berisiko," kata profesor Matthieu Bouvard dari Toulouse School of Economics.

Pada saat yang sama, tambah dia, orang-orang telah mengatakan selama sepuluh tahun terakhir bahwa bitcoin akan kolaps. “Nyatanya masih ada. Volatilitas unit ini akan menurun karena popularitasnya meluas,” ujar Bouvard.

Satu bitcoin saat ini bernilai lima kali lebih banyak dari tahun sebelumnya, sedangkan nilai gabungan dari semua unit sirkulasi global hampir US$ 1,0 triliun.

Emas Digital

Para profesional di industri ini berkukuh bahwa biar bagaimanapun bitcoin adalah unit keuangan baru dan inovatif dari masa depan.

Eric Demuth, kepala eksekutif broker kripto Bitpanda, menggambarkan bitcoin sebagai emas digital baru. Yang dihargai oleh para investor yang berusaha mendiversifikasi aset dan menjaga dari inflasi. "Bitcoin akan segera ditambahkan ke neraca bank sentral," kata Demuth kepada AFP.

Sejumlah bank sentral memang telah mengumumkan rencana unit digital yang didukung bank. Namun sangat tinggi skeptis terhadap bitcoin karena sifatnya yang bayangan dan fakta bahwa bitcoin tetap tidak di bawah aturan resmi.

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde menyatakan bulan ini, bitcoin bukanlah mata uang dan adalah aset sangat spekulatif yang membutuhkan regulasi global.

Pada saat yang sama, Eropa mewakili hanya 10% pembelian bitcoin dari dana investasi, menurut penyedia data mata uang digital, ByteTree.

Sementara itu, perusahaan AS lebih cepat daripada rekan-rekan Eropa mereka untuk menerima unit tersebut.

"Perbedaan antara AS dan Eropa dalam hal itu sama dengan hampir semua jenis adaptasi ke teknologi baru. Itu selalu membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Di AS, mereka memulainya dua tahun lalu," ujar Demuth.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN