Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
harga minyak-3

harga minyak-3

Harga Minyak Melonjak Lebih 4%

Sabtu, 4 Januari 2020 | 08:02 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada Jumat (3/1) setelah Amerika Serikat (AS) membunuh Jenderal Iran Qasem Soleimani. Insiden tersebut memperparah munculnya kekhawatiran baru akan konflik di Timur Tengah yang kaya akan cadangan minyak. Iran pun mengingatkan bakal meluncurkan tindakan balasan.

Dalam transaksi perdagangan di bursa London, harga minyak mentah jenis Brent melonjak 4,5% menjadi US$ 69,23 per barel, sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 4,1% menjadi US$ 63,71 per barel. Lonjakan harga tersebut dipicu oleh keresahan yang melanda di kalangan pialang sehubungan meningkatnya ketegangan secara dramatis.

“Mereka takut Iran akan membalas pembantaian Soleimani. Iran bisa menargetkan instalasi-instalasi minyak atau infrastruktur transportasi,” ujar analis Nordea Markets, Thina Margrethe Saltvedt kepada AFP.

Sementara itu, Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah memperingatkan, akan ada balas dendam berat bagi para penjahat yang telah mengotori tangan mereka dengan darahnya. Sedangkan menteri luar negeri negara Iran menyebut tindakan itu sebagai eskalasi berbahaya.

Kepala Pasukan Quds Iran, Qasem Soleimani dilaporkan tewas terkena serangan di bandara internasional Baghdad pada Jumat pagi. Demikian menurut Hashed Al-Shaabi, pasukan paramiliter Irak yang kuat yang terkait dengan Teheran.

Tak lama insiden berselang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencuitkan gambar bendera nasional Amerika. Pentagon menuturkan, bahwa dia telah memerintahkan pembunuhan Soleimani.

Di sisi lain, Cailin Birch, ekonom global di The Economist Intelligence Unit, mengatakan bahwa pasar takut akan konflik yang lebih luas.

“Potensi kehilangan pasokan minyak Iran sedikit. Tetapi ada risiko lebih besar yang dapat memicu konflik lebih luas sampai menarik Irak, Arab Saudi dan lainnya. Ada juga risiko signifikan bahwa Iran dapat meluncurkan serangan yang ditargetkan ke kapal-kapal AS di kawasan itu, yang dapat mengganggu aliran minyak mentah di laut dan menyebabkan harga naik lebih jauh,” jelas dia kepada AFP.

Harga minyak sempat melonjak pada September tahun lalu pasca serangan yang mengenai dua fasilitas Arab Saudi sehingga untuk sementara waktu terpaksa memangkas setengah produksi minyak.

Trump pun menyalahkan Iran atas serangan itu dan ledakan sebelumnya lainnya pada kapal tanker di Teluk pada tahun lalu.

“Pasar mengingat dengan sangat baik tentang serangan pesawat tanpa awak tak terduga yang mengenai Aramco Saudi pada musim gugur lalu. Mereka takut hal serupa dapat berdampak besar pada pasokan dan harga pasar minyak untuk periode waktu yang luas,” pungkas Saltvedt.

Namun, Birch mereda prospek terjadi perang besar-besaran, dan menggambarkan kenaikan harga pada Jumat sejauh ini masih “cukup lemah”.

“Kami tidak perkirakan ada lonjakan harga satu hari, dalam persentase, sebanyak 10% seperti yang terlihat pada September 2019 ketika infrastruktur minyak Saudi diserang. Serangan ini adalah eskalasi paling signifikan dari ketegangan AS-Iran yang telah kita lihat, kita masih memperkirakan AS dan Iran tidak akan memasuki perang penuh yang bakal berdampak pada produksi minyak, dan mengganggu rantai pasokan regional,” jelasnya.

Ketegangan Sangat Tinggi

Namun, pembunuhan Soleimani merupakan eskalasi ketegangan yang dramatis antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul aksi gerombolan pro-Iran pekan ini yang mengepung kantor Kedutaan Besar AS di Irak untuk memprotes serangan udara Amerika mematikan terhadap faksi garis keras Hashed.

Serangan terhadap kedutaan itu menyoroti ketegangan baru dalam hubungan AS-Irak, yang menurut para pejabat dari kedua negara kepada AFP sebagai hubungan “paling dingin” dalam beberapa tahun.

“Serangan terhadap kedutaan besar AS di Irak kemungkinan besar merupakan peristiwa yang memicu serangan ini. Meskipun kami masih berpikir tidak mungkin terjadi perang langsung antara AS dan Iran, tetapi insiden pembunuhan ini menuai kemungkinan gagalnya pembicaraan AS-Iran sepenuhnya pada 2020, dan mungkin akan memicu serangkaian serangan keras namun semata-mata ditargetkan guna mempertahankan ketegangan regional sangat tinggi,” tambah Birch. (afp/pya)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN