Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. (Foto: AFP / Eric BARADAT)

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. (Foto: AFP / Eric BARADAT)

IMF: Walau Banyak Ketidakpastian, Ekonomi Global Membaik

Kamis, 1 April 2021 | 05:56 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Selasa (30/3) waktu setempat mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi global yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok semakin cepat, sehingga risiko pemulihan ini tidak merata semakin besar pula.

“Pada Januari kami memproyeksikan pertumbuhan global 2021 mencapai 5,5%. Kami sekarang memperkirakan percepatan lebih lanjut,” ujarnya dalam pidato menjelang pertemuan musim semi tahunan IMF dengan Bank Dunia, yang dikutip AFP.

Georgieva menambahkan, faktor-faktor kunci yang membuat prospek lebih baik termasuk karena pengesahan paket bantuan ekonomi senilai US$ 1,9 triliun oleh Presiden AS Joe Biden dan perkiraan penambahan ketersediaan vaksin virus corona di negara-negara yang lebih besar.

Selain itu, Georgieva memberikan pujian atas upaya-upaya luar biasa dari para tenaga kesehatan di seluruh dunia, termasuk dokter, perawat, dan ilmuwan vaksin.

“Pemerintah memainkan peran kunci dalam mencegah depresi di seluruh dunia. Dengan dukungan fiskal sekitar US$ 16 triliun, dan suntikan likuiditas besar-besaran oleh bank sentral untuk menghindari bencana total. Tanpa langkah-langkah ini, kontraksi ekonomi dunia sebesar 3,5% pada 2020 "akan menjadi paling tidak tiga kali lebih buruk,” demikian penjelasan Georgieva.

Ketidakpastian Tinggi

Di sisi lain, IMF melihat peningkatan tanda-tanda dari pemulihan multi-kecepatan yang didukung oleh AS dan Tiongkok. Pemulihan ini berada di jalur untuk menikmati pertumbuhan pada akhir tahun 2021 yang melampaui kinerja mereka sebelum krisis.

Secara umum, prospek global masih tertutupi oleh ketidakpastian yang sangat tinggi. Ini karena aktivitas-aktivitas ekonomi masih terkait erat dengan pandemi.

“Sangat bergantung pada jalur pandemi - yang sekarang dibentuk oleh kemajuan vaksinasi yang tidak merata dan varian baru virus yang menghambat prospek pertumbuhan, terutama di Eropa dan Amerika Latin,” tutur Georgieva.

Namun, negara-negara di Eropa berada di jalur pemulihan yang sehat. Mereka dapat memperkirakan ekonominya – yang dilanda pandemi – bangkit kembali pada semester kedua 2021, didorong oleh peningkatan dorongan vaksinasi.

IMF pun memproyeksikan negara-negara di Eropa akan pulih seperempat lebih lambat dari Amerika Serikat.

Sedangkan yang paling rentan adalah pasar negara berkembang karena pemerintahan yang lebih rapuh. “Banyak sektor yang terdampak parah, seperti pariwisata. Dan sekarang mereka memiliki akses ke vaksin yang lebih sedikit, juga ketersediaan anggaran yang lebih sedikit,” katanya.

Langkah-langkah pemulihan ekonomi global yang berbeda telah memicu kekhawatiran tajam, yang bakal memicu kenaikan mendadak dalam pertumbuhan AS dan mengarah pada lonjakan suku bunga serta pelarian modal dari kawasan berkembang.

Namun Georgieva menepis kekhawatiran tentang potensi inflasi yang tidak terkendali di AS, karena paket stimulus besar-besaran. Dia memperkirakan, tingkat inflasi berada di kisaran 2,25% pada 2022.

“Bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Kami memperkirakan inflasi akan tetap terkendali, tetapi pemulihan AS yang lebih cepat dapat menyebabkan kenaikan suku bunga yang cepat, yang dapat menyebabkan pengetatan tajam kondisi keuangan, dan arus keluar modal yang signifikan dari negara-negara maju dan berkembang,” ujar dia.

Vaksin

Di samping itu, Georgieva mendesak investasi besar-besaran dalam hal produksi dan distribusi vaksin untuk memfasilitasi transisi ke ekonomi pasca Covid.

Dia juga mendukung peningkatan investasi untuk negara-negara yang paling rentan, serta belanja untuk infrastruktur, kesehatan dan pendidikan sehingga setiap orang dapat memperoleh manfaat dari transformasi bersejarah menuju ekonomi yang lebih hijau dan lebih cerdas."

“Kelompok negara ini membutuhkan US$ 200 miliar selama lima tahun untuk mengatasi pandemi dan US$ 250 miliar lainnya untuk kembali ke jalur pertemuan negara-negara yang lebih kaya,” demikian disampaikan Georgieva, dengan mengutip studi IMF baru-baru ini.

Sebagai informasi, IMF telah memberikan bantuan sebesar US$ 107 miliar dalam bentuk pembiayaan dan keringanan utang bagi 29 negara termiskin. Ini termasuk bantuan ke sub-Sahara Afrika sekitar 13 kali lipat dari sebelumnya.

“Dukungan dalam organisasi internasional juga sedang dibangun untuk meminjamkan sekitar US$ 650 miliar untuk hak penarikan khusus (special drawing rights/SDR) guna membantu negara-negara yang paling rentan, kata Georgieva.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN