Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel usap dari seorang anak untuk menguji virus corona Covid-19 di pusat pengujian di Allahabad, India pada 21 September 2020. ( Foto: SANJAY KANOJIA / AFP )

Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel usap dari seorang anak untuk menguji virus corona Covid-19 di pusat pengujian di Allahabad, India pada 21 September 2020. ( Foto: SANJAY KANOJIA / AFP )

Jumlah Kasus Covid-19

India Sebentar Lagi Lampaui AS

Selasa, 22 September 2020 | 07:23 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id) ,Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW DELHI, investor.id – India dalam waktu tak lama lagi akan melampaui Amerika Serikat (AS) sebagai negara yang memiliki jumlah kasus positif terbanyak virus corona Covid-19. Sekalipun pengujian di India sudah lebih dari satu juta per hari, tapi masih belum cukup. Jumlah kasus yang sebenarnya bisa jadi jauh lebih tinggi dari angka resmi.

Data yang dikumpulkan AFP dari masing-masing negara dan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) per Senin (21/9) menunjukkan, Covid-19 telah menelan korban jiwa setidaknya 961.531 di seluruh dunia. Sejak pandemi ini muncul pertama kali di Tiongkok akhir tahun lalu.

Sementara total kasus mencapai setidaknya 31.110.400 di seluruh dunia. Dengan setidaknya 21.082.500 dinyatakan sembuh. Jumlah kasus terbanyak ada di AS dengan 6.812.332 kasus dan kematian sebanyak 199.513 orang.

Disusul kemudian India dengan 5.487.580 kasus dan 87.882 kematian. Pada Minggu (20/9) ada 3.634 kematian baru dan 251.863 kasus baru di seluruh dunia. Dari jumlah kematian baru itu, India menyumbang paling besar sebanyak 1.130. Disusul Brasil 363 kematian dan Argentina 254 kematian.

Diyakini dalam waktu tak lama lagi, India yang berpenduduk 1,3 miliar jiwa akan mengambil alih posisi AS sebagai negara dengan kasus Covid-19 terbanyak. Tapi setelah menerapkan karantina ketata pada Maret 2020 dan menghancurkan kehidupan puluhan juta orang, Perdana Menteri (PM) Narendra Modi enggan meniru sebagian negara yang memberlakukan kembali kebijakan itu, yang dipicu lonjakan kasus baru.

Nyatanya dalam beberapa bulan terakhir pemerintah terus melonggarkan pembatasan. Termasuk membuka kembali rute-rute kereta, penerbangan domestik, pasar, restoran, dan mulai Senin membuka kembali Taj Mahal untuk kunjungan wisatawan.

“Sangat banyak orang kehilangan pekerjaan selama karantina. Mereka menderita dan sekarang waktunya bagi negara untuk buka sepenuhnya. Kami tidak takut virus. Jika harus menginfeksi kami, ya tinggal tunggu waktu,” ujar Ayub Sheikh (35 tahun), yang datang ke Taj Mahal di Agra, beserta istri dan anak bayinya.

Di wilayah lainnya di India, terutama di wilayah-wilayah perdesaan dan tingkat infeksinya melonjak, malah muncul anekdot bahwa panduan pemerintah untuk menghindari virus ini lebih banyak diabaikan ketimbang dipatuhi.

“Saya pikir tak cuma di India, tapi di seluruh dunia, rasa jemu dengan langkah-langkah ekstrem untuk menekan penyebaran virus corona sudah sangat besar,” ujar Gautam Menon, profesor fisika dan biologi Ashoka University.

Banyak pakar di India mengatakan, jumlah pengujian yang sudah lebih dari satu juta per hari pun belum cukup. Angka kasus sebenarnya bisa jadi jauh lebih besar dari angka resmi.

Hal sama untuk jumlah kematian, yang saat ini berkisar 86.000. Karena jumlah kematian di masa normal pun tidak sepenuhnya tercatat di India.

Kepala Penasihat Medis Pemerintah Inggris Chris Whitty ( Foto: BEN STANSALL / AFP )
Kepala Penasihat Medis Pemerintah Inggris Chris Whitty ( Foto: BEN STANSALL / AFP )

Menuju 50 Ribu Kasus

Sementara itu, Kepala Penasihat Medis Chris Whitty mengingatkan, bahwa Inggris sedang menuju 50.000 kasus Covid-19 setiap harinya pada pertengahan Oktober 2020 dan menghadapi lonjakan angka kematian masif, kecuali masyarakat secara serius melakukan tindakan-tindakan pencegahan penularan virus.

Whitty, yang juga kepala petugas medis Inggris atau chief medical officer, mereplikasi kebangkitan kuat Covid-19 yang terlihat di Prancis dan Spanyol kira-kira dua kali lipat setiap 7 hari.

“Kami melihat peningkatan di sebagian besar negara. Ini bukan masalah orang lain. Ini semua masalah kita,” ujarnya dalam jumpa pers Senin (21/9), seraya mendesak publik untuk menghormati pedoman yang lebih ketat tentang jarak sosial, seperti dikutip AFP.

Pengarahan tersebut meninjau pengumuman Perdana Menteri Boris Johnson yang dinantikan pekan ini, di mana pemerintahannya akan merinci langkah-langkah untuk meratakan kurva virus corona eksponensial menuju musim dingin, ketika kasus penyakit pernapasan umumnya mengalami lonjakan.

Peringatan yang disampaikan penasihat pemerintahan Inggris itu dipandang luas sebagai pendahuluan untuk memperkenalkan atuan pembatasan secara nasional, termasuk kemungkinan pemberlakuan jam malam pada pukul 22.00 di London.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock memperingatkan pada Minggu (20/9) bahwa Inggris berada pada titik kritis. “Orang-orang menjadi lebih santai selama musim panas, tetapi sekarang adalah saatnya ketika semua orang harus kembali mengikuti aturan,” katanya kepada Sky News, seperti dikutip CNBC.

Sementara itu, Wali Kota London Sadiq Khan telah menyerukan pembatasan yang lebih ketat di London. Dia memperingatkan bahwa kota itu mungkin hanya tertinggal beberapa hari dari daerah-darah lain di Inggris utara yang sedang diberlakukan karantina atau lockdown setempat.

Khan dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin dewan pada Senin dan diprediksi merekomendasikan aturan jam malam pada pukul 22.00 waktu setempat. Aturan tersebut akan membuat kafe, pub, dan restoran membatasi jam operasional, dan meminta lebih banyak orang untuk bekerja dari rumah jika mereka bisa.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN