Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tumpukan kontainer dan kapal-kapal kargo terlihat di terminal kargo internasional, di pelabuhan di Tokyo pada 17 Agustus 2020. ( Foto: Charly TRIBALLEAU / AFP )

Tumpukan kontainer dan kapal-kapal kargo terlihat di terminal kargo internasional, di pelabuhan di Tokyo pada 17 Agustus 2020. ( Foto: Charly TRIBALLEAU / AFP )

Industri Pelayaran Global Terganggu Banjir di Eropa dan Tiongkok

Rabu, 28 Juli 2021 | 06:41 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Chief Executive Officer (CEO) perusahaan jasa pelayaran Mandarin Shipping, Tim Huxley menyampaikan bahwa bencana banjir yang melanda Tiongkok dan Eropa menjadi gangguan lain yang sedang dirasakan rantai pasokan global.

“Jarang sekali sepekan berlalu tanpa ada sesuatu yang baru,” ujar Huxley kepada CNBC pada Senin (26/7).

Menurut laporan, jasa pelayaran telah mengalami gangguan besar pada tahun ini. Di saat beberapa bagian dunia pulih dari pandemi virus corona Covid-19, kondisi ini diiringi dengan peningkatan pengeluaran yang menyebabkan kekurangan kontainer sehingga menciptakan penundaan dan kenaikan harga.

Pada April, terjadi insiden kapal kargo terjepit melintang di Terusan Suez dan berdampak pada terhentinya arus lalu lintas perairan selama hampir sepekan. Seperti diketahui, jalur perairan ini merupakan salah satu yang tersibuk di dunia karena ada sekitar 12% perdagangan yang melewatinya.

Sementara itu pada Juni, terjadi peningkatan kasus Covid di Tiongkok selatan dan menyebabkan lebih banyak penundaan di pelabuhan-pelabuhan di wilayah itu, serta sekali lagi mendongkrak harga jasa pengiriman.

Jalur Kereta Api Rusak

Di sisi lain, hujan yang turun dengan deras dan banjir telah menghancurkan beberapa bagian di Eropa Barat. Beberapa banjir paling parah terjadi di Jerman dan Belgia. Di samping itu, beberapa bagian di Swiss, Luksemburg dan Belanda ikut terkena dampaknya.

“Ini benar-benar akan mengganggu rantai pasokan karena semua jalur kereta api telah putus,” kata Huxley kepada CNBC.

Dia menambahan bahwa jalur kereta api yang terputus, termasuk untuk layanan kereta api yang datang dari Republik Ceko dan Slovakia menuju pelabuhan-pelabuhan Rotterdam dan Hamburg di Jerman sudah sangat terganggu.

“Dan itu akan menunda pergerakan kargo masuk dan keluar. Ini benar-benar akan mengganggu industri,” tuturnya.

Huxley pun mengacu kepada Thyssenkrupp. Menurut catatannya, raksasa produsen baja asal Jerman itu tidak bisa mendapatkan bahan baku karena banjir. “Itu pada akhirnya akan berdampak pada industri seperti industri motor, peralatan rumah tangga dan hal-hal seperti itu,” tambah dia.

Sementara itu laporan S&P Global Platts yang mengutip surat untuk pelanggan bahwa Thyssenkrupp telah menyatakan force majeure pada 16 Juli 2021. Peristiwa force majeure terjadi karena keadaan yang tidak terduga, seperti bencana alam, mencegah satu pihak memenuhi kewajiban kontraknya, membebaskan mereka dari hukuman.

Bahkan, sumber di pabrik perusahaan mengatakan kepada S&P Global Platts bahwa bagian dari jalur kereta api di Hagen telah hilang. Situasi ini disebut semakin menyulitkan untuk mendapatkan truk-truk guna melakukan pengiriman. Hagen, adalah kota di Jerman Barat yang termasuk terdampak paling parah akibat dilanda banjir.

Ganggu Pasokan

Sedangkan gangguan akibat banjur yang menerjang provinsi Henan, Tiongkok, diperparah dengan fakta bahwa provinsi tersebut terkurung daratan.

Menurut Huxley, gangguan layanan perkeretaapian, sekali lagi, akan menimbulkan dampak besar. “Jelas, itu akan berdampak pada pengiriman dan memaksa kenaikan tarif pengiriman naik. Distribusi gandum dan batu bara pun telah terpengaruh,” jelas Huxley.

Sebagai informasi, wilayah Henan dikenal sebagai lumbung pangannya Tiongkok dan telah menghasilkan 38 juta ton gandum pada musim panas ini.


 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN