Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejalan kaki berjalan melewati tanda NHS yang menunjukkan pedoman selama pandemi virus corona CovidD-19, di halte halte bus di West End London, Inggris pada 14 Oktober 2020. Foto: TOLGA AKMEN / AFP )

Pejalan kaki berjalan melewati tanda NHS yang menunjukkan pedoman selama pandemi virus corona CovidD-19, di halte halte bus di West End London, Inggris pada 14 Oktober 2020. Foto: TOLGA AKMEN / AFP )

Inggris Bangkit dari Resesi

Jumat, 13 November 2020 | 07:43 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perekonomian Inggris dilaporkan rebound tajam di kuartal III-2020, setelah terjun ke dalam resesi yang disebabkan oleh pandem virus corona Covid-19. Namun data resmi pemerintah yang dirilis pada Kamis (12/11), menuai peringatan dari para ahli yang memperkirakan terjadi kemerosotan lain setelah diberlakukan aturan pembatasan baru untuk mengekang penularan virus corona.

Kantor Statistik Nasional atau Office for National Statistics (ONS) menyampaikan, bahwa produk domestik bruto (PDB), menyusul pelonggaran karantina (lockdown) terkait virus corona.

Aktivitas-aktivitas ekonomi telah bangkit kembali setelah sempat kontraksi hampir seperlima di Kuartal II pasca pemberlakukan karantina pertama. Meski demikian, Inggris masih bergulat dengan dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19. Demikian menurut data, yang diterbitkan selang sehari setelah jumlah kematian akibat Covid-19 di Inggris melewati catatan bersejarah yang suram, yakni 50.000 jiwa – angka tertinggi di Eropa.

Laju pertumbuhan pada September melambat dengan ekspansi month-on-month hanya 1,1%, setelah berakhirnya skema diskon restoran oleh pemerintah untuk sektor perhotelan yang hancur. Produksi pun terpukul setelah pihak berwenang pada September menerapkan langkah-langkah yang lebih terlokalisasi untuk mengendalikan virus corona di beberapa bagian wilayah Inggris utara dan tengah, serta di Skotlandia dan Wales.

Kuartal IV Suram

Di sisi lain, para analis memperingatkan, jika aturan pembatasan di seluruh Inggris yang dimulai pada pekan lalu bakal memicu kemerosotan lagi di Kuartal IV.

“Tampaknya ada sedikit keraguan bahwa lockdown nasional yang diperbarui akan menyebabkan ekonomi berkontraksi lagi pada Kuartal IV. Namun dampaknya jauh lebih ringan karena langkah-langkah baru yang ditetapkan tidak seketat yang diluncurkan pada Maret,” ujar ekonom EY Howard Archer, seraya memperkirakan penurunan 4,0%, seperti dilansir AFP.

Sebagai informasi, Inggris jatuh ke dalam kontraksi bersejarah setelah memberlakukan lockdown pada 23 Maret hingga pertengahan Juni. Saat itu laju perekonomian menyusut dengan rekor 19,8% pada Kuartal II, setelah kontraksi 2,5% dalam tiga bulan sebelumnya. Kondisi ini memenuhi definisi teknis dari resesi.

“Angka hari ini menunjukkan bahwa ekonomi kami pulih selama musim panas, tetapi mulai melambat memasuki musim gugur. Langkah-langkah yang harus kami ambil sejak menghentikan penyebaran virus berarti pertumbuhan kemungkinan semakin melambat sejak saat itu. Tapi ada alasan untuk mewaspadai optimistis di sisi kesehatan - termasuk berita-berita menjanjikan seputar tes dan vaksin, “ kata Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak.

Stimulus Baru

Pekan lalu, Sunak mengumumkan paket bantuan baru yang nilainya mencapai miliaran poundsterling, dan memperpanjang skema pekerjaan cuti pemerintahnya hingga akhir Maret. Pada saat bersamaan, Bank of England (BoE) menyuntikkan tambahan 150 miliar poundsterling dalam bentuk stimulus tunai untuk mendongkrak pertumbuhan.

Sementara itu, tingkat pengangguran melonjak menjadi 4,8% di Kuartal III karena pandemi Covid-19 telah menghancurkan lapangan pekerjaan.

ONS menyatakan bahwa ekonomi Inggris 9,7% lebih kecil dari levelnya akhir tahun lalu, di mana ini sejalan dengan perkiraan BoE.

Prospek pada pekan ini juga dilaporkan sedikit mencerahkan setelah raksasa produsen farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer dan BioNTech daari Jerman mengumumkan kandidat vaksin Covid-19 yang mencapai tingkat efektivitas 90%. Sehingga meningkatkan harapan untuk kembali menjalankan keidupan normal pada tahun depan.

Menanggapi kabar vaksin tersebut, Gubernur BoE Andrew Bailey menggambarkan, pengumuman vaksin virus corona sebagai pendorong. “Berita itu menggembirakan, tapi kami harus berhati-hati. Ini sebagian besar konsisten dengan apa yang kami perkirakan, namun kabar itu menggembirakan. Paling tidak mengurangi ketidakpastian,” tutur Bailey dalam konferensi pers virtual, Kamis. (afp/pya)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN