Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dr Karen Worth bersiap memberikan dosis vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca-Oxford  kepada pasien di pusat vaksinasi yang didirikan di Fiveways Islamic Center dan Masjid di Nottingham, Inggris tengah, pada 22 Februari 2021.  ( Foto: Oli Scarf / AFP )

Dr Karen Worth bersiap memberikan dosis vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca-Oxford kepada pasien di pusat vaksinasi yang didirikan di Fiveways Islamic Center dan Masjid di Nottingham, Inggris tengah, pada 22 Februari 2021. ( Foto: Oli Scarf / AFP )

Inggris Percepat Vaksinasi Covid

Senin, 22 Februari 2021 | 06:59 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Inggris mempercepat pemberian vaksin Covid-19. Pemerintahnya pada Minggu (21/2) menargetkan setiap orang dewasa pada akhir Juli 2021 sudah mendapatkan dosis pertama vaksin tersebut. Pada saat yang sama, Inggris bersiap untuk melonggarkan secara bertahap karantina ketiga karena pandemi ini.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson dijadwalkan menjelaskan hasil evaluasi karantina tersebut di hadapan parlemen pada Senin (22/2). Sedangkan percepatan vaksinasi itu juga menargetkan setiap orang berusia di atas 50 tahun sudah mendapatkan dosis pertama pada pertengahan April 2021.

Adapun target Inggris sebelumnya adalah setiap orang berusia di atas 50 tahun mendapatkan dosis pertama vaksin Covid-19 pada Mei 2021. Sedangkan untuk seluruh orang dewasa adalah pada September 2021.

“Kami sekarang menargetkan suntikan pertama untuk setiap orang dewasa pada akhir Juli, melindungi kelompok paling rentah lebih cepat, dan terus bergerak untuk melonggarkan beberapa pembatasan,” ujar Johnson, seperti dikutip AFP.

Ia menekankan bahwa proses pencabutan karantina itu akan dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Pandemi Covid-19 di Inggris telah menelan korban lebih dari 120.000 jiwa. Inggris termasuk negara yang paling parah terdampak pandemi ini. Inggris juga menjadi negara pertama yang menjalankan vaksinasi massalnya, yakni pada Desember 2020.

Hingga sekarang sudah lebih dari 17 juta penduduk Inggris yang setidaknya menerima dosis pertama Covid-19. Jumlah itu setara dengan sepertiga populasi Inggris. Sedangkan di seluruh dunia, per Minggu setidaknya sudah 202 juta dosis vaksin Covid-19 diberikan.

Inggris menerapkan karantina ketiga pada awal Januari 2021 karena melonjaknya tingkat infeksi serta jumlah yang harus dirawat di rumah sakit. Ini terjadi setelah pelonggaran sepanjang periode Natal 2020. Pembatasan karena karantina ketiga itu termasuk penutupan sekolah-sekolah, toko bukan penyedia bahan kebutuhan pokok, dan tempat-tempat hiburan di seluruh Inggris.

Jumlah kasus di Inggris sudah turun lagi. Lalu bukti awal menunjukkan bahwa vaksinasi berhasil mengurangi sakit serius akibat infeksi virus tersebut.

Rencana Johnson

Tapi juga ada tekanan politik terhadap pemerintah untuk melonggarkan lagi pembatasan-pembatasan. Johnson pada Minggu menggelar rapat kabinet untuk finalisasi apa yang akan ia sampaikan di majelis rendah parlemen.

Pemerintahan Johnson kemungkinan mendorong dibukanya kembali sekolah mulai 8 Maret 2021. Tapi persatuan guru berpendapat adalah tindakan ceroboh jika seluruh anak kembali ke sekolah secara bersamaan.

Johnson diperkirakan menjelaskan pelonggaran bertahap tapi lebih luas setelah 8 Maret 2021. Termasuk untuk mengizinkan kembali aktivitas di luar ruang. Sedangkan pembukaan secara penuh bisnis ritel, hiburan malam, dan kehadiran penonton di acara olahraga, kemungkinan ditunda hingga beberapa waktu kemudian.

“Wajar jika kita semua ingin kembali normal, tapi segalanya harus lah hati-hati. Masih ada hampir 20.000 orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid,” ujar Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock kepada Sky News, Minggu.

Keir Starmer, ketua kubu oposisi Partai Buruh, tidak setuju dengan penolakan persatuan guru. Tapi ia mendesak pemerintah untuk memperluas jam belajar tambahan supaya anak-anak dapat mengejar ketertinggalan sebelum menjalani ujian akhir pada musim panas nanti.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN