Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock saat memberikan pernyataan di hadapan anggota Dewan Rakyat Inggris di London, pada 30 Desember 2020, tentang status vaksinasi Covid-19 danpembatasan baru di daerah Inggris. ( Foto: PRU / AFP )

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock saat memberikan pernyataan di hadapan anggota Dewan Rakyat Inggris di London, pada 30 Desember 2020, tentang status vaksinasi Covid-19 danpembatasan baru di daerah Inggris. ( Foto: PRU / AFP )

Inggris Sebut Varian Covid-19 di Afsel Lebih Problematik

Selasa, 5 Januari 2021 | 06:58 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Menteri Kesehatan (Menkes) Inggris Matt Hancock berpendapat bahwa varian virus corona Covid-19 yang teridentifikasi di Afrika Selatan (Afsel) lebih problematik dibandingkan varian yang ditemukan di Inggris. Sementara itu, kedua varian tersebut terus menyebar cepat.

“Saya sangat mengkhawatirkan varian Afrika Selatan. Itu lah mengapa kami mengambil tindakan untuk membatasi seluruh penerbangan dari Afrika Selatan. Permasalahan ini sangat signifikan dan bahkan lebih bermasalah dibandingkan varian baru di Inggris,” ujar dia kepada BBC, seperti dikutip CNBC, Senin (4/1), tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Inggris dan Afrika Selatan saat ini berusaha keras mengatasi lonjakan infeksi Covid-19. Yang antara lain disebabkan mutasi baru dalam virus yang membuatnya lebih mudah menular.

Varian baru Inggris pertama kali teridentifikasi di kota Kent, Inggris tenggara, pada Desember 2020. Pihak berwenang Inggris langsung memberi tahu Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengenai kemunculan varian tersebut.

Kalangan pakar berpendapat bahwa meski varian baru itu membuat virusnya menyebar lebih mudah, tapi tidak lebih mematikan. Walau begitu, rumah-rumah sakit di Inggris tetap kewalahan karena adanya lonjakan kasus baru dan jumlah pasien.

Pertanyaan yang tetap mengemuka adalah apakah vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah ada dapat melawan varian-varian baru tersebut. Sejumlah pakar sudah mengatakan bahwa vaksin-vaksin seperti buatan Pfizer-BioNTech dan Oxford University-AstraZeneca dapat memberikan perlindungan terhadap varian-varian baru itu.

Pada bulan lalu, Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan berusaha menepis kekhawatiran atas varian-varian baru itu. Ia mengatakan kepada BBC bahwa kecil kemungkinan mutasi-mutasi baru itu dapat membuat vaksin-vaksin yang sudah ada tidak ampuh.

Menurut WHO, perlu studi lebih lanjut untuk memahami dampak dari mutasi-mutasi spesifik terhadap tubuh virus dan keefektifan diagnostik, terapetik, serta vaksin.

John Bell, profesor obat-obatan Universitas Oxford pada Minggu (3/1) mengatakan bahwa varian yang ditemukan di Afrika Selatan mengkhawatirkan.

“Kedua (varian) memiliki mutasi yang berbeda dan berganda, sehingga bukan merupakan mutasi tunggal. Dan mutasi yang muncul di Afrika Selatan menunjukkan perubahan struktur protein yang teramat substansial,” kata dia kepada Times Radio.

Ia membenarkan adanya pertanyaan-pertanyaan apakah vaksin Pfizer-BioNTech dan Oxford University-AstraZeneca akan dapat mematikan mutasi-mutasi itu.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN