Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Boris Johnson. ( Foto: PIPPA FOWLES / 10 DOWNING STREET / AFP )

Boris Johnson. ( Foto: PIPPA FOWLES / 10 DOWNING STREET / AFP )

Inggris Tingkatkan Belanja Pertahanan US$ 22 Miliar

Jumat, 20 November 2020 | 07:35 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson pada Kamis (19/11) mengumumkan program belanja militer terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Untuk menapaki masa depan pasca-Brexit dan pemerintahan baru Amerika Serikat (AS), kata dia, Inggris tidak akan lagi berada di garis belakang.

Inggris akan meningkatkan belanja pertahanan 16,5 miliar poundsterling atau setara US$ 22 miliar selama empat tahun ke depan. Tapi karena kondisi keuangan terdampak parah oleh pandemi Covid-19, pemerintah Inggris mengindikasikan akan mengalihkan dana abadi untuk bantuan-bantuan luar negeri ke prioritas-prioritas lain.

Johnson mengatakan, tambahan anggaran itu antara lain akan digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan luar angkasa dan siber. Inggris, tambah dia, juga akan menunjukkan komitmen kepada NATO dan keamanan seluruh sekutunya di dunia.

“Saya melakukannya di tengah pandemi, di tengah banyak kebutuhan yang menguras sumber daya kita, karena pertahanan dan keselamatan rakyat Inggris harus nomor satu. Situasi internasional sekarang lebih berbahaya dan kian kompetitif dibandingkan sejak berakhirnya Perang Dingin,” tutur Johnson kepada Parlemen Inggris.

Ia mengatakan bahwa belanja baru itu setara 2,2% produk domestik bruto (PDB). Lebih besar dari target NATO dan lebih besar dibandinngkan negara-negara Eropa lainnya. Tapi Johnson menandaskan, ini merupakan kesempatan bagi Inggris untuk tidak lagi berada di garis belakang.

Johnson kemungkinan mengecualikan belanja pertahanan dari langkah-langkah pemangkasan anggaran yang akan diumumkan pekan depan oleh Menteri Keuanagn Rishi Sunak. Pemerintah Inggris sudah menggelontorkan lebih dari 200 miliar pound untuk memulihkan ekonomi yang terdampak Covid-19.

Rencana anggaran pertahanan itu juga dipandang sebagai pesan terukur kepada pemerintahan baru AS. Juga untuk menyelaraskan prioritas-prioritas di bidang pertahann transatlantik. Setelah sebelumnya Johnson memprioritaskan penanggulangan perubahan iklim dalam kebijakan pembangunan kembali pascapandemi.

“Negara Eropa mana yang berpotensi untuk menunjukkan kekuatan militer dan juga sejarah mendukung Amerika. Prancis punya yang pertama, tapi tidak yang kedua. Jerman punya yang kedua tapi tidak yang pertama. Jadi Inggris yang memiliki keduanya,” ujar Paul Goodman, mantan anggota parlemen konservatif, dalam tulisannya via blog ConservativeHome.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN