Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (tengah), Ketua Parlemen Ali Larijani (keenam dari kanan), Presiden Hassan Rouhani (ke-5 dari kanan), kepala Peradilan Ebrahim Raisi (ketiga dari kanan) dan kepala Pengawal Revolusi Islam yang baru diangkat Esmail Qaani (kedua dari kanan) saat memanjatkan doa di hadapan peti mati komandan militer Iran yang terbunuh Qasem Soleimani dan kepala paramiliter Irak Abu Mahdi al-Muhandis di Tehran University, di ibukota Iran pada 6 Januari 2020. ( Foto: AFP PHOTO / HO / LEADER.IR )

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (tengah), Ketua Parlemen Ali Larijani (keenam dari kanan), Presiden Hassan Rouhani (ke-5 dari kanan), kepala Peradilan Ebrahim Raisi (ketiga dari kanan) dan kepala Pengawal Revolusi Islam yang baru diangkat Esmail Qaani (kedua dari kanan) saat memanjatkan doa di hadapan peti mati komandan militer Iran yang terbunuh Qasem Soleimani dan kepala paramiliter Irak Abu Mahdi al-Muhandis di Tehran University, di ibukota Iran pada 6 Januari 2020. ( Foto: AFP PHOTO / HO / LEADER.IR )

Iran Berjanji Balas Amerika Serikat

Sabtu, 4 Januari 2020 | 07:28 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BAGHDAD, investor.id - Serangan drone militer Amerika Serikat (AS) menewaskan komandan tertinggi Iran Qasem Soleimani di Bandara Internasional Baghdad, Irak, Jumat (3/1) pagi waktu setempat. Serangan tersebut langsung meningkatkan ketegangan di Timur Tengah (Timteng) dan mendorong Iran yang merupakan musuh bebuyutan AS untuk berjanji melancarkan balas dendam.

Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menyatakan, Presiden Donald Trump telah memerintahkan pembunuhan Soleimani, setelah massa demonstran pro-Iran pekan ini melakukan pengepungan dan serangan ke Kedutaan AS di Baghdad.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan cepat menjanjikan balas dendam atas kematian Soleimani. Ini menjadi eskalasi terbesar dalam perang proksi yang ditakuti antara pemerintah Iran dan AS di tanah Irak.

Departemen Luar Negeri (Deplu) AS pada Jumat memerintahkan warga AS untuk segera meninggalkan Irak.

“Karena meningkatnya ketegangan di Irak dan kawasan, kami mendesak warga AS untuk secepatnya meninggalkan Irak. Karena serangan-serangan milisi yang didukung Iran ke kompleks Kedubes AS, seluruh operasional konsuler dihentikan sementara. Warga AS jangan mendekati Kedutaan,” kata Deplu AS via Twitter.

Serangan udara AS pada Jumat pagi itu juga menewaskan deputi kepala pasukan paramiliter Irak Hashed Al Shaabi.

Ketegangan dengan Irak juga meninggi setelah demonstran pro-Iran mengepung Kedubes AS pada Selasa (31/12). Aksi itu dipicu serangan udara pada akhir pekannya, yang menewaskan setidaknya 25 pejuang dari kelompok paramiliter garis keras Kataeb Hezbollah.

Adapun serangan AS itu adalah respons terhadap serangan 36 roket pada pekan sebelumnya, yang menewaskan seorang kontraktor AS di sebuah markas AS di Irak.

Pentagon menyatakan Soleimani mendalangi serangan-serangan terhadap markas-markas koalisi di Irak selama beberapa bulan terakhir. Termasuk serangan pada 27 Desember 2019, yang menewaskan kontraktor tersebut. “Soleimani juga merestui serangan-serangan terhadap Kedubes AS di Baghdad,” kata Pentagon.

Deplu AS mengeluarkan peringatan perjalanan ke Irak pada 1 Januari 2020 dan mengingatkan warganya untuk tidak bepergian ke negara tersebut.

Ketika kedutaan AS mendesak semua warga Amerika untuk segera meninggalkan Irak, Trump mengunggah gambar bendera AS lewat media sosial tanpa penjelasan apa pun.

Pada Jumat pagi, satu tembakan rudal menghantam Bandara Internasional Baghdad, menyerang konvoi Hashed Al Shaabi, pasukan paramiliter Irak yang memiliki hubungan dekat dengan Iran.

Hanya beberapa jam kemudian, Korps Pengawal Revolusi Iran mengumumkan Soleimani mati syahid dalam serangan oleh Amerika di bandara Baghdad. Hashid membenarkan Soleimani dan wakilnya Abu Mahdi Al Muhandis terbunuh dalam apa yang dikatakannya sebagai serangan AS yang menargetkan mobil mereka di jalan Bandara Internasional Baghdad.

Hashed adalah jaringan yang sebagian besar unit bersenjata Syiah. Banyak dari anggotanya memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Iran, tetapi secara resmi dimasukkan ke dalam pasukan keamanan negara Irak.

Eskalasi Berbahaya

Soleimani memimpin operasi pasukan asing Pasukan Penjaga Revolusi Islam dan juga menjabat sebagai pemimpin terdepan Iran. Ia mengunjungi negara tersebut di saat kekacauan.

Muhandis adalah wakil kepala Hashed, tetapi secara luas diakui sebagai pengambil keputusan dalam kelompok tersebut. Keduanya dikenai sanksi oleh pemerintah AS. Seorang pejabat Irak mengatakan kepada AFP, Muhandis telah pergi ke bandara Baghdad untuk menjemput Soleimani. “Yang biasanya tidak dikakukannya,” ujar pejabat tersebut, Jumat (3/1).

Keduanya akan dimakamkan pada hari ini dan parlemen Irak akan mengadakan pertemuan darurat pada hari yang sama.

Pentagon mengatakan, Soleimani telah secara aktif mengembangkan rencana menyerang para diplomat Amerika dan anggota lembaga tersebut di Irak dan wilayah lainnya. Dikatakan, butuh tindakan tegas untuk melindungi personel AS di luar negeri dengan membunuh Qasem Soleimani, tetapi caranya tidak ditentukan.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengecam serangan AS sebagai langkah yang sangat berbahaya dan eskalasi bodoh. Sementara Khamenei menyatakan tiga hari berkabung. Sementara itu, Perdana menteri Irak mengatakan, serangan tersebut merupakan pelanggaran mencolok dari perjanjian keamanan dengan AS. Ia memperingatkan hal ini akan memicu perang yang menghancurkan di Irak.

Sebuah kelompok paramiliter, Asaib Ahl al-Haq, mendesak para pejuangnya untuk waspada sementara Moqtada Sadr yang milisi berubah menjadi ulama mengaktifkan kembali Pasukan Mahdi. Ini terjadi hampir satu dekade setelah membubarkan pasukan terkenal anti-Amerika.

Sementara itu di Lebanon, pemimpin kelompok Hizbullah yang didukung pemerintah Iran, Hassan Nasrallah memperingatkan hukuman untuk yang disebutnya pembunuh kriminal. Namun ada perayaan di Lapangan Tahrir Baghdad, pusat dari gerakan protes yang telah berlangsung tiga bulan. Pihaknya mengecam pemerintah Irak yang dinilai korup dan terikat pada pemerintah Iran.

"Oh Qasem Soleimani, ini adalah kemenangan ilahi," teriak para demonstran ketika beberapa orang menari di jalanan.

Analis mengatakan, serangan yang membuat harga minyak dunia melonjak akan mengubah haluan dalam ketegangan di antara pemerintah Iran dan AS. “Trump mengubah aturan, dia ingin (Soleimani) dihilangkan," kata Ramzy Mardini, peneliti di US Institute of Peace.

“(Soleimani) dinilai tidak menghargai tindakannya mengancam krisis penyendaraan lain di kedutaan (AS) mengubah cara segala sesuatu akan dilakukan,” kata Mardini.

Phillip Smyth, spesialis yang berbasis di AS dalam kelompok-kelompok bersenjata Syiah, menggambarkan serangan itu sebagai serangan paling besar yang pernah dilakukan pemerintah AS. Dia mengatakan kepada AFP, langkah itu akan memiliki konsekuensi lebih besar dibandingkan operasi AS 2011 yang membunuh pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden dan serangan Amerika 2019 yang menewaskan kelompok Negara Islam (IS) Abu Bakar al-Baghdadi.

"Tidak ada perbandingan," Smyth menambahkan. Perkembangan terjadi setelah serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada misi AS di Baghdad. Sekelompok pendukung Hashed mengepung kedutaan AS pada Selasa (31/12) yang marah atas serangan udara Amerika yang menewaskan 25 orang militan dari faksi garis keras jaringan Kataeb Hezbollah, yang didukung oleh pemerintah Iran.

Pemerintah AS telah bertindak sebagai tanggapan terhadap serangan roket beberapa hari sebelumnya, yang menewaskan kontraktor Amerika yang bekerja di Irak. Trump telah menyalahkan pemerintah Iran atas serentetan serangan roket yang menargetkan pasukan AS serta pengepungan kedutaan. "Mereka akan membayar harga yang sangat besar! Ini bukan peringatan, ini ancaman,” katanya. (afp)

 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN