Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Gambar atas): mantan duta besar AS untuk Liberia Linda Thomas-Greenfield; mantan gubernur The Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen; serta mantan wakil penasihat keamanan nasional dan mantan wakil direktur Central Intelligence Agency (CIA) Avril Haines.
(Gambar bawah): mantan wakil menteri keamanan dalam negeri Alejandro Mayorkas, mantan wakil menteri luar negeri AS Antony Blinken; dan mantan menteri luar negeri AS John Kerry. ( Foto: STEPHANE DE SAKUTIN, WIN MCNAMEE, THOS ROBINSON, Brad Barket, Bertrand GUAY, Daniel ROLAND / AFP / GETTY IMAGES NORTH AMERICA )

(Gambar atas): mantan duta besar AS untuk Liberia Linda Thomas-Greenfield; mantan gubernur The Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen; serta mantan wakil penasihat keamanan nasional dan mantan wakil direktur Central Intelligence Agency (CIA) Avril Haines. (Gambar bawah): mantan wakil menteri keamanan dalam negeri Alejandro Mayorkas, mantan wakil menteri luar negeri AS Antony Blinken; dan mantan menteri luar negeri AS John Kerry. ( Foto: STEPHANE DE SAKUTIN, WIN MCNAMEE, THOS ROBINSON, Brad Barket, Bertrand GUAY, Daniel ROLAND / AFP / GETTY IMAGES NORTH AMERICA )

Kabinet Biden akan Lawan Pelanggaran Perdagangan Tiongkok

Kamis, 21 Januari 2021 | 07:06 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Para calon menteri Amerika Serikat (AS) yang memimpin kebijakan ekonomi dan luar negeri mengisyaratkan tidak akan menghentikan upaya pemerintah untuk memerangi pelanggaran perdagangan yang dilakukan Tiongkok.

Komentar yang disampaikan calon menteri keuangan (menkeu) Janet Yellen dan calon menteri luar negeri (menlu) Antony Blinken pada Selasa (19/1), mencerminkan kesamaan tidak biasa dengan kebijakan Donald Trump. Di mana selama empat tahun terakhir meluncurkan perang perdagangan yang agresif dan mahal, karena mengenakan tarif miliaran dolar pada barang-barang Tiongkok.

Meski demikian baik Yellen dan Blinken tetap memiliki perbedaan, terutama komitmen pemerintahan yang akan datang untuk bekerja dengan sekutu AS, serta dan mempromosikan investasi untuk membuat perusahaan dan pekerja Amerika lebih kompetitif melawan Negeri Tirai Bambu.

Menanggapi pertanyaan dari Komite Keuangan Senat pada sidang konfirmasi Selasa, Yellen menyebut Tiongkok sebagai “pesaing strategis terpenting kami.”

Dia juga menuding Tiongkok meremehkan perusahaan Amerika dengan menawarkan subsidi ilegal, meluncurkan produk dengan harga di bawah pasar, mencuri hak kekayaan intelektual, dan membangun hambatan untuk ekspor AS.

“Kami perlu menangani praktek-praktek tidak adil dan ilegal Tiongkok yang kejam. Kami siap menggunakan berbagai instrumen untuk mengatasi masalah tersebut,” ujar dia, seperti dikutip AFP.

Saat berbincang dengan Biden, selang sehari sebelum pelantikan presiden, Yellen berjanji untuk waspada terhadap implikasi keamanan nasional dari pencurian rahasia dagang Tiongkok, dan upaya-upaya ilegal untuk memperoleh teknologi penting.

Tim transisi Biden pun mendorong konfirmasi Yelen dengan cepat setelah kesaksian yang disampaikan wanita usia 74 tahun itu. Menurut mereka, Yellen adalah “pemimpin berani dan berpengalaman yang dibutuhkan di pucuk pimpinan Departemen Keuangan untuk mulai membangun kembali ekonomi kita dengan lebih baik.”

Sedangkan Blinken di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menurturkan: “Presiden Trump benar dalam mengambil pendekatan yang lebih keras ke Tiongkok. Saya hanya sangat tidak setuju dengan cara dia melakukannya di sejumlah bidang,” katanya.

Investasi di Amerika

Tidak seperti Trump, yang mundur dari organisasi multilateral dan menyerang kebijakan perdagangan mitra-mitra dan musuh -musuh AS. Yellen menekankan, penting “untuk bekerja dengan sekutu kami” demi memerangi tantangan yang ditimbulkan oleh Tiongkok.

Selama Donald Trump menjabat sebagai presiden, Demokrat telah mengeluhkan soal eksodus lapangan pekerjaan dan manufaktur ke negara Asia itu. Tetapi Trump, seorang Republikan, menepis keluhan itu dan meraih dukungan dari banyak pekerja.

Dalam pidato perpisahan pada Selasa, presiden mengatakan telah membawa tekanan internasional luar biasa terhadap rivalnya Tiongkok.

“Kami merevitalisasi aliansi kami dan mengumpulkan negara-negara di dunia untuk melawan Tiongkok, tidak seperti sebelumnya,” ujar Trump, seperti kutipan yang dirilis oleh Gedung Putih.

Namun sebenarnya dia secara konsisten bertindak sepihak, sekaligus mundur dari dan melumpuhkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang memberlakukan aturan perdagangan global.

Biden, yang seorang Demokrat, pun berjanji untuk membela pekerja dan manufaktur Amerika. Di bawah slogan “Build Back Better”, Biden diharapkan segera mengusulkan rencana stimulus yang mencakup investasi infrastruktur besar-besaran.

Yellen sendiri mendukung, bahwa kebijakan tersebut akan membantu menangkis tantangan ekonomi Tiongkok.

“Washington perlu melakukan investasi yang memungkinkan kami bersaing dengan Tiongkok, dengan berinvestasi dalam infrastruktur kami, berinvestasi pada orang-orang kami dan menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif,” katanya.

Manipulasi Mata Uang

Selain itu, Trump – seperti halnya pemerintahan lain sebelumnya – juga menuduh Tiongkok menjaga mata uangnya tetap rendah sebagai cara untuk membuat produknya lebih murah dan mendapatkan keuntungan perdagangan. Yellen telah menggarisbawahi penentangan AS terhadap praktik itu.

“Nilai dolar AS terhadap mata uang lain harus ditentukan oleh pasar,” tambah Yellen.

Dia juga berjanji menentang setiap dan semua upaya negara asing untuk memanipulasi nilai mata uang secara artifisial guna mendapatkan keuntungan yang tidak adil dalam perdagangan.

Di hadapan para senator, Yellen menyampaikan, bahwa negosiasi pajak digital global di bawah naungan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD) penting bagi AS untuk memungut pajak pada perusahaan yang telah memindahkan kantor pusatnya ke luar negeri.

“Ini akan memungkinkan kami untuk mengumpulkan bagian yang adil dari perusahaan, sambil mempertahankan daya saing bisnis kami dan mengurangi insentif yang sekarang dimiliki perusahaan Amerika untuk kegiatan di luar negeri (offshore),” kata Yellen.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN