Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA). ( Foto: Ilustrasi /thesamikhsya.com

Logo Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA). ( Foto: Ilustrasi /thesamikhsya.com

Kebutuhan Bantuan PBB akan Meroket Tahun Depan

Jumat, 3 Desember 2021 | 06:07 WIB
Grace Eldora

JENEWA, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (2/12) memperingatkan bahwa kebutuhan bantuan kemanusiaan di seluruh dunia akan meroket, karena pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Hal ini diperparah dengan perubahan iklim serta konflik yang semakin mendesak banyak orang ke ambang kelaparan.

Laporan Tinjauan Kemanusiaan Global yang dirilis Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), memprediksi 247 juta orang di seluruh dunia akan membutuhkan bantuan darurat pada tahun depan.

Angka tersebut mengalami kenaikan 17% pada 2021 dan ini saja sudah memecahkan rekor. Artinya, pada 2022, satu dari 29 orang akan membutuhkan bantuan. Catatan ini menandai peningkatan 250% sejak 2015, ketika satu dari 95 orang dinyatakan memerlukan bantuan.

“Jumlah orang yang membutuhkan tidak pernah setinggi ini. Memberikan bantuan kepada begitu banyak orang tidak berkelanjutan, tetapi harus dipertahankan,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBB bidang urusan kemanusiaan, Martin Griffiths kepada wartawan, yang dikutip AFP.

Permintaan tahunan oleh badan-badan PBB dan organisasi-organisasi kemanusiaan menyebutkan, bahwa tahun depan jumlah bantuan yang dibutuhkan untuk diberikan kepada 183 juta penduduk paling rentan di 63 negara akan mencapai US$ 41 miliar. Angka ini naik dari US$ 35 miliar yang diminta pada 2021 dan mencapai dua kali lipat dari yang diminta pada empat tahun lalu.

Laporan tersebut memperlihatkan gambaran menyedihkan tentang lonjakan kebutuhan yang disebabkan oleh konflik dan ketidakstabilan yang memburuk di tempat-tempat, seperti Afghanistan, Ethiopia dan Myanmar.

Kelaparan Mengkhawatirkan

Masalah bencana alam dan perubahan iklim diklaim turut mendorong lonjakan pengungsian dan kebutuhan bantuan kemanusiaan, seperti terjadi pada pandemi Covid-19 yang terus berlanjut.

Laporan OCHA menunjukkan, dampak pandemi Covid-19 secara resmi telah merenggut lebih dari lima juta jiwa secara global dan kemungkinan berkali-kali lipat. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan langkah-langkah pihak berwenang untuk mengendalikan virus, yang mana telah mendorong sekitar lebih dari 20 juta penduduk terperosok ke kemiskinan ekstrem.

Situasi itu pun telah menghancurkan sistem kesehatan di seluruh dunia, hingga menurunkan tes HIV, TBC dan malaria, menjadi 43%. 23 juta anak di seluruh dunia juga dilaporkan kehilangan kesempatan mendapat imunisasi pada 2021.

Laporan OCHA mengungkapkan bahwa di waktu bersamaan, bencana terkait iklim menjadi lebih sering terjadi. Mereka memperingatkan, pada 2050 diprediksi sebanyak 216 juta penduduk yang terpaksa pindah dari negara mereka sendiri karena efek pemanasan global.

“Perubahan iklim berkontribusi pada kenaikan angka kelaparan dan kerawanan pangan. Di mana kondisi seperti kelaparan tetap menjadi kemungkinan nyata dan menakutkan bagi 45 juta orang di 43 negara di seluruh dunia. Tanpa tindakan yang berkelanjutan dan segera, 2022 bisa menjadi bencana besar,” demikian peringatan OCHA, sekaligus menunjukkan sebanyak 811 juta orang di seluruh dunia telah mengalami kekurangan gizi.

Konflik juga menimbulkan korban menghancurkan di berbagai negara. Khususnya di Afghanistan yang sedang dalam cengkeraman berbagai krisis dan semakin buruk pasca kelompok Taliban kembali berkuasa pada Agustus. Penduduk Afghanistan dilaporkan sangat membutuhkan bantuan dan kebutuhan bahan-bahan pokok, tetapi bantuan internasional pun tidak ada yang masuk.

Terkait krisis di Afghanistan, laporan OCHA memperingatkan bahwa lebih dari 24 juta orang atau 65% dari populasi Afghanistan membutuhkan bantuan, termasuk sekitar sembilan juta orang yang diperkirakan berada di ambang kelaparan.

Ada bantuan yang diminta mencapai US$ 4,5 miliar untuk 22 juta orang paling rentan di Afghanistan pada 2022, di mana angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dari tahun lalu.

Ethiopia Paling Mengkhawatirkan

Miliaran dolar juga telah diminta guna membantu jutaan penduduk yang terkena dampak konflik berkepanjangan di Suriah dan Yaman.

Laporan OCHA turut menyoroti kebutuhan yang membengkak di Ethiopia. Ribuan orang diberitakan meninggal dunia dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal, sejak Perdana Menteri Abiy Ahmed mengirim pasukan ke wilayah Tigray utara lebih dari setahun yang lalu.

Diperkirakan 26 juta penduduk Ethiopia membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk 400.000 orang di ambang kelaparan.

Griffiths mengungkapkan bahwa situasi di Ethiopia mungkin yang paling mengkhawatirkan di dunia. Namun, ia menekankan ada banyak situasi mengerikan lainnya, di mana kekerasan dan kerusuhan terus memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.

Menurut angka PBB, lebih dari satu persen dari populasi global saat ini mengungsi. Terlepas dari gambaran yang menghancurkan yang dilukiskan dalam laporan itu, Griffiths menekankan bahwa bantuan kemanusiaan sering kali berhasil mengatasi konsekuensi terburuk dari krisis.

Tahun lalu, organisasi kemanusiaan itu tercatat telah memberikan bantuan kepada sekitar 107 juta orang – 70% dari yang ingin mereka jangkau – termasuk membantu memulihkan setengah juta orang di Sudan Selatan dari ambang kelaparan.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN