Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  Foto ilustrasi: JONATHAN NACKSTRAND / AFP

Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Foto ilustrasi: JONATHAN NACKSTRAND / AFP

Ketidakpastian Covid Tunda Pemulihan Tenaga Kerja Global

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:57 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) menyampaikan laporan pada Senin (17/1), bahwa pasar ketenagakerjaan global bakal membutuhkan waktu pulih lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Angka pengangguran global juga diproyeksikan di atas 5,4%, yang terlihat sebelum pandemic Covid-19, sampai setidaknya 2023 akibat ketidakpastian tentang perjalanan dan durasi pandemi.

Dalam laporan “World Employment and Social Outlook 2022,” badan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi jumlah pekerjaan mencapai sekitar 52 juta lebih sedikit pada 2022 dibandingkan tingkat pra-Covid, yang berjumlah sekitar dua kali lipat perkiraan sebelumnya dari Juni 2021.

“Gangguan masih berlanjut hingga 2023 ketika akan ada sekitar 27 juta lebih sedikit pekerjaan. Prospek pasar tenaga kerja global telah memburuk sejak proyeksi terakhir ILO; kembalinya kinerja pra-pandemi kemungkinan akan tetap sulit dipahami di sebagian besar dunia selama tahun-tahun mendatang,” demikian disampaikan ILO seraya memperingatkan tentang pemulihan yang lambat dan tidak pasti, yang dilansir Reuters.

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) ILO, Guy Ryder, pemulihan pasar tenaga kerja global dari krisis jauh lebih lambat dari yang diharapkan sebelumnya. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa ada banyak faktor di balik revisinya. Tetapi yang utama adalah pandemic berkelanjutan dan variannya, khususnya Omicron.

“Kami sudah melihat potensi kerusakan pasar tenaga kerja yang berkepanjangan, bersama dengan peningkatan kemiskinan dan ketidaksetaraan,” kata Ryder sambil mengingatkan bahwa prospeknya tetap rapuh, yang dikutip AFP.

Dia menambahkan secara keseluruhan ada sekitar 207 juta orang diperkirakan menganggur pada 2022. Namun, laporan menyebutkan dampaknya bakal jauh lebih besar mengingat banyak orang telah meninggalkan angkatan kerja dan belum kembali. Meski demikian, proyeksi defisit jam kerja tahun ini menunjukkan perbaikan selama dua tahun terakhir. Pada 2021 saja, ILO memperkirakan ada sekitar 125 juta pekerjaan lebih sedikit daripada tingkat pra-pandemi, dan pada 2020 terdapat 258 juta lebih sedikit.

Isi laporan yang dirilis, Senin memperkirakan jam kerja global akan menjadi 2% di bawah catatan 2019, sehingga membuat dunia kurang setara dengan sekitar 52 juta pekerjaan. Pada Mei 2021, ILO memperkirakan kekurangan jam kerja hanya setengah dari tahun ini. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran resmi global tetap jauh lebih tinggi daripada sebelum pandemi melanda.

Tahun ini, sebanyak 5,9% pekerja global atau sekitar 207 juta orang diperkirakan resmi terdaftar sebagai pengangguran. Namun angka ini dikatakan masih lebih baik dari 2021, dan terutama 2020, kendati masih di atas 186 juta yang tercatat pada 2019. (sumber lain/afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN