Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
President dan CEO Saudi Aramco Amin Nasser. Foto: saudiaramco.com

President dan CEO Saudi Aramco Amin Nasser. Foto: saudiaramco.com

Laba Aramco Naik 30%, bakal Bagi Dividen US$ 18,8 M

Rabu, 5 Mei 2021 | 06:14 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

RIYADH, investor.id – Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco membukukan kenaikan laba 30% pada kuartal I-2021. Dalam laporannya Selasa (4/5), kinerja tersebut melampaui perkiraan dan menandakan mulai pulihnya pasar minyak mentah dari kejatuhan tahun lalu yang dipicu oleh pandemi virus corona Covid-19.

Dalam pernyataan, Aramco menyampaikan bahwa laba bersihnya naik dari US$ 16,7 miliar pada 2020 menjadi US$ 21,7 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini. Lonjakan ini disebabkan pasar minyak yang lebih kuat, margin penyulingan dan bahan kimia yang lebih tinggi.

Sebelumnya RBC Capital Markets menyebut laba kuartal pertama Aramco hanya sekitar US$ 20 miliar karena menyoroti pengaruh Aramco terhadap kenaikan harga komoditas.

Dengan demikian, hasil besar yang diperoleh Aramco mengekor keuntungan kuat yang dibukukan bulan lalu oleh perusahaan-perusahaan minyak besar – mulai dari raksasa Amerika Serikat (AS), ExxonMobil dan Chevron hingga BP Inggris dan Total Prancis. Pemulihan harga minyak mentah telah memicu rebound mereka dari pandemi.

“Momentum yang diberikan oleh pemulihan ekonomi global telah memperkuat pasar energi. Mengingat tanda-tanda positif untuk permintaan energi pada 2021, ada lebih banyak alasan untuk optimistis bahwa hari-hari yang lebih baik akan datang. Walau beberapa hambatan masih ada, kami berada dalam posisi yang baik karena ekonomi mulai pulih,” ujar CEO Aramco Amin Nasser dalam sebuah pernyataan, yang dikutip AFP.

Sebagai informasi, harga minyak dilaporkan jatuh di pertengahan kuartal pertama tahun lalu karena pandemi Covid-19 telah menutup sebagian besar aktivitas ekonomi global, dan menambah tekanan pada negara-negara petro termasuk Arab Saudi.

Peningkatan penghasilan yang kuat memberikan kelegaan bagi Aramco, setelah sempat mengungkapkan penurunan laba berturut-turut sejak mulai melaporkan pendapatan pada 2019.

Pendapatan rendah Aramco tahun lalu semakin menekan keuangan pemerintah karena Saudi sedang menghadapi defisit anggaran yang membengkak, dan mengejar proyek bernilai miliaran dolar untuk mendiversifikasi ekonominya yang bergantung pada minyak.

Aset Berharga

Selain itu, Aramco mengumumkan dividen sebesar US$ 18,8 miliar di kuartal I-2021. Jumlah ini sejalan dengan rencana perusahaan untuk membayar dividen tahunan sebesar US$ 75 miliar.

Sebagai informasi, Arab Saudi saat ini berusaha memonetisasi aset energinya karena tengah mengeksplorasi aliran pendapatan baru untuk mendanai upaya-upaya diversifikasi yang ambisius.

Pada bulan lalu, Aramco mengatakan telah mencapai kesepakatan senila US$ 12,4 miliar untuk menjual saham minoritas dalam bisnis pipa minyak yang baru dibentuk ke konsorsium yang dipimpin oleh EIG Global Energy Partners yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Bahkan Aramco dan asetnya pernah mendapat kontrol ketat dari Pemerintah Saudi dan dianggap terlarang bagi investasi luar. Ini mengingat Aramco sudah sejak lama dianggap sebagai aset berharga pemerintah.

Tetapi dengan kebangkitan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, penguasa de facto Arab Saudi, dia mempercepat upaya-upaya untuk menerapkan program reformasi "Visi 2030". Pihak kerajaan pun telah menunjukkan kesiapan untuk menyerahkan kendali.

Aramco sebelumnya telah menjual sebagian sahamnya di bursa Saudi pada Desember 2019 dan meraup US$ 29,4 miliar dalam penawaran umum perdana (IPO) terbesar di dunia.

Dalam dorongan diversifikasi baru besar-besaran pada Maret, Arab Saudi mengumumkan rencana untuk menyuntikkan investasi senilai US$ 3,2 triliun ke dalam perekonomian nasional pada 2030 guna mengikat perusahaan-perusahaan terbesar kerajaan, termasuk Aramco.

“Di bawah program bernama “Shareek”, atau mitranya, Aramco dan perusahaan terkemuka Saudi lainnya akan memimpin dorongan investasi dengan menyumbang 5 triliun riyal (US$ 1,3 triliun) selama dekade berikutnya,” ujar Pangeran Mohammed.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN