Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa. ( Foto: AFP/File )

Maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa. ( Foto: AFP/File )

Lufthansa Merugi US$ 8,1 Miliar pada 2020

Jumat, 5 Maret 2021 | 06:46 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

FRANFURT AM MAIN, investor.id – Maskapai penerbangan Jerman Lufthansa melaporkan kerugian sebanyak 6,7 miliar euro (US$ 8,1 miliar) pada 2020 karena pandemi virus corona Covid-19. Pandemi telah merenggut jumlah permintaan pelancong untuk melakukan perjalanan udara.

Bahkan maskapai terbesar di Eropa itu telah memperkirakan bakal membukukan kerugian operasi lagi pada 2021, meskipun angkanya lebih kecil dari tahun lalu. Menurut mereka, perkiraaan kerugian tahun ini sehubungan dengan kapasitas penumpang 40%-50% yang melakukan perjalanan udara dibandingkan level pra-pandemi selama setahun penuh.

Catatan tersebut menggarisbawahi jalan panjang menuju pemulihan. Pihak maskapai menambahkan bahwa kapasitas penumpang baru akan naik ke 90% dari level 2019 pada pertengahan dekade.

Perbatasan-perbatasan juga masih ditutup karena pemerintah sedang berupaya keras untuk menghentikan gelombang pertama krisis Covid-19. Sedangan maskapai menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Namun pada Juni tahun lalu, maskapai Lufthansa ditawari bantuan oleh Pemerintah Jerman, dengan membeli 25% sahamnya senilai sembilan miliar euro.

“Tahun lalu adalah yang paling menantang dalam sejarah perusahaan kami, bagi pelanggan kami, karyawan kami dan pemegang saham kami,” ujar CEO Lufthansa Carsten Spohr, yang dilansir AFP.

Sementara itu, suasana di hanggar maskapai penerbangan memperlihatkan kelesuan permintaan. Aturan kerja dari rumah telah mengurangi aktivitas perjalanan bisnis yang menguntungkan, dan diperparah dengan keluarnya peringatan resmi di tempat-tempat wisata, di banyak negara di seluruh dunia.

Di seluruh Eropa sendiri, aturan pembatasan juga diberlakukan karena pemerintah terus memerangi jumlah kasus infeksi yang terus meningkat.

Saat ini, Lufthansa hanya melayani penumpang sekitar 20% dari kapasitasnya seraya berharap akan adanya perbaikan dalam satu hingga dua bulan ke depan. Mereka memperkirakan ada kenaikan permintaan pada musim panas, seiring dengan diluncurkannya kampanye vaksinasi yang sedang berlangsung, dan semakin banyak kapasitas yang disediakan untk menjalani tes.

“Vaksinasi digital yang diakui secara internasional, dan sertifikat uji harus menggantikan larangan perjalanan dan karantina,” demikian ditegaskan oleh Spohr.

Krisis

Sebagai informasi, Lufthansa – yang mencakup anak perusahaan Swiss, Austrian, Brussels Airlines, dan Eurowings – hanya mengoperasikan 31% dari kapasitas keseluruhannya tahun lalu. Alhasil, pendapatannya merosot 63% menjadi 13,6 miliar euro pada 2020, dibandingkan dengan 36,4 miliar euro pada 2019.

Angka kerugian operasional dilaporkan mencapai 5,5 miliar euro. Sementara pada tahun lalu, pendapatan komparatif maskapak disesuaikan sebelum bunga dan pajak mencapai 2,0 miliar euro.

Meskipun telah memangkas banyak staf dan menurunkan jumlah karyawannya dari level pra-pandemi 141.000 menjadi 110.000 saat ini. Maskapai masih menyisakan 10.000 lapangan kerja yang bakal jadi pertaruhan.

Menurut laporan, selama beberapa bulan terakhir, pihak maskapai telah dilakukan kesepakatan dengan serikat pekerja yang mewakili pilot dan awak darat untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga Maret 2022. Dalam kesepakatan ini, para pilot setuju untuk mengatur jam kerja pendek dan pengurangan gaji yang sesuai. Sementara itu, para staf darat menandatangani penyerahan bonus dan kenaikan gaji untuk menyelamatkan pekerjaan mereka.

Armada grup yang terdiri dari 800 pesawat saat ini akan dipangkas menjadi 650 pada 2023. Penderitaan yang dialami Lufthansa turut mencerminkan penderitaan para pesaingnya di tempat lain.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional aau International Air Transport Association (IATA) yang mewakili 290 maskapai besar di seluruh dunia, telah mengingatkan pada pekan lalu bahwa lalu lintas penumpang udara global akan pulih lebih lambat dari yang diperkirakan tahun ini, karena varian virus corona telah menciptakan hambatan yang kuat.

Saat ini IATA memperkirakan lalu lintas akan mencapai antara 33% dan 38% dari level yang tercatat pada 2019. Sedangkan perkiraan sebelumnya pada 2021, lalu lintas akan mencapai 51% dari tingkat yang terlihat sebelum pandemi virus corona melanda.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN