Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan (Menkeu) Malaysia, Tengku Zafrul Abdul Aziz. ( Foto: thesundaily.my )

Menteri Keuangan (Menkeu) Malaysia, Tengku Zafrul Abdul Aziz. ( Foto: thesundaily.my )

Malaysia Hadapi Tantangan Ekonomi di Kuartal IV

Selasa, 16 Agustus 2022 | 14:53 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id) ,Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

KUALA LUMPUR, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Zafrul Aziz mengatakan, Malaysia akan menghadapi tantangan ekonomi pada kuartal IV-2022. Hal ini diprediksi terjadi, apabila tantangan-tantangan global, seperti perang Rusia antara Ukraina dan kebijakan nihil Covid-19 di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terus berlanjut.

“Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Malaysia. Setiap gangguan pada rantai pasokan dan perdagangan bakal mengurangi beberapa ekspektasi pertumbuhan Malaysia pada kuartal IV tahun ini,” ujar Zafrul, yang dilansir CNBC pada Senin (15/8).

Baca Juga: Malaysia Mulai Sidang Pembatalan Vonis Suap Mantan PM

Maybank Investment Banking Group pun memiliki pandangan yang sama.

“Bank memperkirakan kenaikan inflasi dan suku bunga di dalam negeri dan di seluruh dunia, bersama dengan tanda-tanda perlambatan di ekonomi utama seperti Amerika Serikat, Eropa dan Tiongkok akan mulai memiliki dampak yang terlihat pada ekonomi negara itu di kuartal IV dan seterusnya,” kata Suhaimi Ilias, kepala ekonom group Maybank IBG.

Ditambahkan oleh Zafrul, momentum pertumbuhan untuk Juli hingga September seharusnya menunjukkan penguatan. Tetapi ini bisa menjadi hasil dari efek dasar negatif dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: DPR Tinjau Pembangunan Perbatasan Indonesia-Malaysia

Departemen Statistik Malaysia melaporkan, produk domestik bruto (PDB) Malaysia mengalami kontraksi pada kuartal III-2021 sebesar 4,5% sebagai akibat dari perlambatan di semua sektor ekonomi penting, terutama industri manufaktur dan jasa.

Di samping itu menurut Suhaimi, Maybank IBG memproyeksikan kuartal lain dari pertumbuhan satu digit menengah ke atas pada kuartal III sekitar 7,5%, sebagian karena basis yang rendah pada tahun sebelumnya ketika ekonomi kontraksi.

Terlepas adanya tantangan ke depan, Zafrul mengaku yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Malaysia sepanjang tahun akan memenuhi perkiraan pemerintah.

“Saya masih sangat optimis bahwa kita akan mencapai perkiraan jumlah PDB antara 5,3 dan 6,3%. Mungkin di atas 6,3% itu,” tutur dia kepada CNBC pada Senin.

Baca Juga: BI Gandeng Bank Sentral Malaysia Perluas Pemanfaatan QRIS

Sebelumnya pada Jumat (12/8) bank sentral Malaysia mengumumkan bahwa ekonomi negara tumbuh sebesar 8,9% pada April hingga Juni dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan itu didorong oleh konsumsi domestik dan belanja pariwisata yang lebih kuat setelah Malaysia sepenuhnya membuka kembali perbatasan internasionalnya pada April. Konsumsi domestik telah menguat, jauh lebih kuat dari yang kami harapkan,” ungkapnya.

Zafrul juga menambahkan, belanja ritel untuk Juni meningkat 44% year-on-year (yoy) karena paket stimulus fiskal dari pemerintah dan permintaan terpendam dari pandemi yang telah meningkatkan dorongan belanja konsumen.

Thailand

Sementara itu, negara tetangga Malaysia -Thailand- pada Senin melaporkan ekonominya tumbuh hanya 2,5% pada kuartal kedua. Karena jumlah kedatangan turis asing belum mampu mengimbangi inflasi yang tinggi dan kekhawatiran atas ketegangan regional.

Negara ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu terpukul keras selama pandemi, meskipun jumlah wisatawan asing perlahan meningkat seiring pelonggaran aturan perjalanan sejak Mei 2022. Tetapi, Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand (NESDC) mengingatkan perang di Ukraina dan ketegangan geopolitik atas Taiwan dapat membahayakan pemulihan ekonomi.

Baca Juga: Ekonomi Thailand Rebound 2,2% di Kuartal I-2022

"Kami harus terus memantau untuk melihat berapa lama tindakan balasan dari Tiongkok atas Taiwan akan berlangsung," kata Sekretaris Jenderal NESDC Danucha Pichayanan, seperti dikutip AFP.

Setelah dilonggarkannya kebijakan Covid, tambah dia, pemulihan pariwisata adalah faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun kenaikan produk domestik bruto (PDB) tahunan 2,5% pada April-Juni 2022 itu di bawah perkiraan sebesar 3%.

Baca Juga: Jepang dan Thailand Sepakati Perjanjian Pertahanan Baru

NESDC juga merevisi tingkat pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 2,5%-3,5% menjadi 2,7%-3,2%. Ekonom Charl Kengchon dari Pusat Penelitian Kasikorn mengatakan, dorongan dari sektor pariwisata gagal mengangkat pertumbuhan.

"Saya kira itu karena inflasi mencapai level tertinggi dalam 14 tahun di bulan Juni, jadi ini merupakan hambatan bagi pengeluaran baik sektor rumah tangga dan bisnis," katanya.

Inflasi di bulan Juni mencapai 7,7% dan berada di angka 6,5 persen% untuk kuartal tersebut. Dampak perang Rusia-Ukraina dan ketegangan Taiwan juga mengkhawatirkan, yang mempengaruhi rantai pasokan.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com