Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Menlu Irak: NI Tak Terkait Kelompok Agama Tertentu

Senin, 20 April 2015 | 09:45 WIB
ah

JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Irak Ibrahim Al Jaafari menegaskan bahwa kelompok ekstremis Negara Islam (NI) Irak dan Suriah atau disebut ISIS bukanlah berasal dari kelompok agama tertentu. Ia mengatakan, mereka adalah kelompok anti-kemanusiaan.

 

“Karena banyak agama yang menjadi korban dari kebiadaban NI, tidak hanya Islam yang menjadi korban. Saya berharap Indonesia juga bergabung dengan koalisi yang melawan terorisme, seperti yang sudah dilakukan negara lain, seperti Tiongkok, Iran, dan lain-lain,” ucap Al Jaafari kepada wartawan di JCC, Jakarta, Minggu (19/4), di sela Konferensi Asia Afrika (KAA).

 

Mengenai fenomena terorisme ini, Ibrahim menegaskan bukan sebuah sikap dari sektarian yang berseberangan tapi sebuah tindakan biadab antikemanusiaan. Provinsi-provinsi yang menjadi korban-korban ISIS adalah Sunni sehingga bukan konflik antara Sunni dan Syiah, tetapi warga-warga Irak dan agama-agama lain juga.

 

Al Jaafari mengatakan, keterlibatan warga dari 62 negara dalam aksi-aksi ISIS tidak mewakili negara namun individu masing-masing. “Ketika kami melihat pembunuhan dan pemotongan kepala warga-warga tidak berdosa, penganiayaan anak kecil, itu kekejaman dan kebiadaban ISIS,” ucap dia.

 

Saat ini, bantuan yang sangat dibutuhkan Irak adalah di sektor keamanan, persanjataan, pasukan udara, badan intelijen, dan bantuan kemanusiaan. Sebab saat ini Irak memiliki dua juta pengungsi. Terkait hal-hal yang perlu dihadapi untuk membasmi NI, Al Jaafari mengatakan dengan cara menghapuskan paham- paham dan pemikiran-pemikiran yang menganggap kaum di luar NI adalah salah.

 

“NI menganggap orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka harus dimusnahkan. Pemikiran seperti itulah yang harus dihilangkan,” ucap dia.

 

Selain itu adalah dengan membasmi NI dari aspek militer. Ibrahim mengatakan, NI melakukan serangan dengan kekuatan militernya, sehingga harus juga dilawan dengan cara yang sama. “Kami juga butuh peran media karena kita tahu ada beberapa media yang selalu berusaha untuk memprovokasi,” ucap dia.

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu menyatakan, lebih dari 900.000 warga Irak mengungsi untuk terhindar dari pertempuran antara pasukan pemerinta dan milisi NI di Ramadi, provinsi Anbar. “Badan-badan kemanusiaan berusaha menyampaikan bantuan makanan, air bersih, dan tempat berlindung kepada mareka. Ini merupakan prioritas tertinggi kami,” ujar Lise Grande,  koordinator kemanusiaan PBB di Irak.

 

PBB menyatakan, sedikitnya 2,7 juta orang menjadi pengungsi di Irak sejak pertempuran pecah pada 2014, termasuk setengah juta dari provinsi Anbar. (leo/afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN