Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mendiang ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh saat menghadiri pertemuan dengan pemimpin tertinggi negara di Teheran, pada 23 Januari 2019. ( Foto: Khamenei.IR / AFP )

Mendiang ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh saat menghadiri pertemuan dengan pemimpin tertinggi negara di Teheran, pada 23 Januari 2019. ( Foto: Khamenei.IR / AFP )

Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran

Opsi Diplomatik Biden Terganggu

Senin, 30 November 2020 | 06:25 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran berpotensi tidak hanya memperburuk ketegangan di Timur Tengah, tapi juga mengganggu rencana-rencana diplomatik presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Ia tadinya hendak membuka kembali pintu dialog dengan Iran.

Iran pada Sabtu (28/11) menuding musuhnya Israel berusaha memantik kekacauan dengan menewaskan Mohsen Fakhrizadeh (59 tahun). Dengan sangat tersirat, Iran juga menyebut tindakan Israel itu atas restu AS.

Fakhrizadeh, menurut Kementerian Pertahanan Iran, tewas di dalam mobilnya di luar ibukota Teheran, setelah diberondong tembakan oleh sebuah tim penembak. Pemerintah AS, hingga berita ini diturunkan, belum berkomentar atas operasi tersebut.

Tapi Presiden AS Donald Trump mencuitkan ulang komentar-komentar lain terhadap insiden tersebut. Termasuk yang setidaknya menyebutkan bahwa sang ilmuwan sudah bertahun-tahun diburu oleh Mossad, badan intelijen Israel.

Trump pada 2018 menarik AS dari perjanjian nuklir banyak negara dengan Iran. AS lalu melancarkan apa yang disebut tekanan maksimum terhadap Iran. Trump dipercaya akan melakukan itu hingga meninggalkan jabatannya pada Januari 2021.

Seperti ditunjukkan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang belum lama ini berkunjung ke Israel. Ia pada Jumat (27/11) mengumumkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap beberapa perusahaan Tiongkok dan Rusia. Tuduhannya adalah mendukung program nuklir Iran.

“Pemerintahan ini masih berkuasa sampai 20 Januari dan akan terus menjalankan kebijakan-kebijakannya. Saya berharap kekuasaan yang kami miliki lewat perjuangan keras ini dipakai untuk tujuan baik terhadap Iran. Supaya negara tersebut sekali lagi dapat berlaku sebagai negara yang normal,” tutur seorang pejabat senior AS, yang ikut rombongan Pompeo, saat transit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu (29/11), kepada AFP.

Melemahkan

Tapi bagi sebagian analis di AS, pembunuhan Fakhrizadeh adalah tindakan berbahaya. Karena dapat melemahkan niatan Biden terhadap Iran.

Yang berusaha menawarkan jalan yang benar kepada Iran untuk kembali ke meja diplomasi. Sekaligus membuka jalan bagi AS untuk kembali bergabung dengan perjanjian nuklir tersebut.

Lewat Twitter pada Jumat pekan lalu, mantan direktur CIA John Brennan menyebut pembunuhan ilmuwan nuklir tersebut sebagai perbuatan kriminal dan sangat serampangan. “Berisiko memicu aksi balasan yang mematikan dan konflik baru di kawasan,” ujar dia.

Presiden Iran Hassan Rouhani, dalam pidato di televisi pada Sabtu (28/11), menuduh Israel bertindak atas suruhan AS dan berusaha menciptakan kekacauan. Ia bertekad Iran akan membalas kematian ilmuwan terkemukanya itu.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meminta para pelakunya dihukum atas pembunuhan itu. Rouhani mengatakan, negaranya akan membalas pada saat yang tepat. Tidak terburu-buru agar tidak masuk jebakan.

“Musuh-musuh Iran harus tahu bahwa rakyat dan pemerintah Iran bukan lah penakut yang tidak akan menjawab perbuatan krimimal ini. Pada saat yang tepat, mereka akan menerima jawaban atas kejahatan ini,” kata Rouhani.

Menahan Diri

Brennan memimpin CIA pada 2013-2017, saat Barack Obama presiden dan Biden wakilnya. Ia mendesak Iran untuk menunggu hingga AS kembali dipimpin pemerintah yang bertanggung jawab di kancah global. Brennan meminta Iran untuk menahan diri dari desakan untuk melancarkan pembalasan.

Ben Friedman, pakar keamanan Universitas George Washington menyebut pembunuhan itu adalah tindakan sabotase terhadap diplomasi dan kepentingan AS. Juga akan mendorong kubu garis keras di Iran untuk melanjutkan program senjata nuklir.

Ben Rhodes, mantan penasihat Obama mengatakan, aksi keji itu bertujuan untuk merusak jalan diplomasi antara pemerintahan baru AS dan Iran.

Tapi sebagian analis justru menyebut pemerintahan baru AS akan mendapatkan kekuatan dalam negosiasi-negosiasinya dengan Iran.

“Masih sekitar dua bulan lagi sebelum Joe Biden menjabat. Masih banyak waktu bagi AS dan Israel untuk menghantam rezim di Iran dan membangun pengaruh bagi pemerintahan Biden,” ujar Mark Dubowitz, direktur Foundation for Defense of Democracies (FDD).


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN