Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pegawai bekerja di Tokyo Stock Exchange, Jepang. (FOTO: Toru Hanai / Bloomberg / Getty Images)

Pegawai bekerja di Tokyo Stock Exchange, Jepang. (FOTO: Toru Hanai / Bloomberg / Getty Images)

Pasar Asia Pasifik Jatuh Setelah S&P 500 Terendah Tahun Ini

Jumat, 30 September 2022 | 08:39 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

SINGAPURA, investor.id – Saham di Asia Pasifik dibuka lebih rendah pada Jumat (30/9), hari terakhir di kuartal III-2022. Penurunan ini menyusul aksi jual lainnya di Wall Street semalam. Di samping itu, data aktivitas pabrik Tiongkok akan dirilis hari ini.

Di Jepang, Nikkei 225 tergelincir 1% dan indeks Topix turun 0,66%. S&P/ ASX 200 Australia kehilangan 0,11%.

Kospi di Korea Selatan turun 0,69% dan Kosdaq turun 1,39%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,22%.

Saham Amerika Serikat (AS) jatuh di sesi Kamis (Jumat pagi WIB), dengan indeks S&P 500 mencapai level terendah baru untuk tahun ini dan juga mencapai penutupan terendah baru. Indeks turun 2,1% untuk mengakhiri sesi di 3.640,47. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot 458,13 poin atau 1,54% menjadi 29.225,61. Nasdaq Composite yang berteknologi tinggi kehilangan 2,84% menjadi 10.737,51.

“Risiko geopolitik dan inflasi tidak mereda, dan aset berisiko mengambil tekanan karena ekspektasi pertumbuhan yang lebih rendah dan biaya pendanaan yang lebih tinggi terus meresap,” tulis analis di ANZ Research dalam catatan Jumat.

Produksi Industri Jepang Meningkat Lebih dari yang Diharapkan

Produksi industri di Jepang tumbuh 2,7% pada Agustus 2022 dari bulan sebelumnya, menurut data resmi. Ini menandai pertumbuhan bulan ketiga berturut-turut. Angka itu mengalahkan ekspektasi kenaikan 0,2% dalam jajak pendapat Reuters.

Penjualan ritel juga melonjak 4,1% pada Agustus 2022 dibandingkan dengan tahun lalu, mengalahkan perkiraan Reuters dari kenaikan 2,8%.

Federal Reserve (Fed) AS mengumumkan kenaikan 75 basis poin (bps) lagi awal bulan ini, mengirimkan Fed’s fund rate (FFR) hingga kisaran 3% hingga 3,25%. Bank sentral juga mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga hingga setinggi 4,6% pada 2023 untuk mengendalikan inflasi.

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan suku bunga belum membatasi, sementara masih banyak yang harus dilakukan untuk menurunkan inflasi.

“Inflasi masih pada level tertinggi 40 tahun,” kata Mester kepada Steve Liesman dari CNBC saat tampil di Squawk Box.

“Jadi saat ini pembicaraan harus kita lakukan, apa yang harus kita lakukan untuk kembali ke stabilitas harga, karena kita tidak dapat memiliki ekonomi yang sehat, kita tidak dapat memiliki pasar tenaga kerja yang baik dari waktu ke waktu, kecuali kita kembali ke stabilitas harga,” lanjutnya.

Mester mengatakan dirinya mungkin sedikit di atas jalur rata-rata di antara pejabat Fed dalam hal menaikkan suku bunga, mengutip kegigihan inflasi.

“Kami bahkan masih belum membatasi FFR, jadi Anda benar, kami telah menaikkan suku bunga dana 300 bps tahun ini, tetapi lihat seberapa tinggi inflasi,” kata Mester.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : CNBC

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com