Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Belasan truk membuang ratusan ribu ton pasir di Pantai Miami sebagai bagian dari tindakan Pemerintah AS untuk melindungi tujuan wisata Florida dari pengaruh perubahan iklim. ( Foto: EVA MARIE UZCATEGUI / AFP / Getty Images )

Belasan truk membuang ratusan ribu ton pasir di Pantai Miami sebagai bagian dari tindakan Pemerintah AS untuk melindungi tujuan wisata Florida dari pengaruh perubahan iklim. ( Foto: EVA MARIE UZCATEGUI / AFP / Getty Images )

PBB: Dunia Mulai Kekurangan Pasir

Sabtu, 6 Maret 2021 | 07:01 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Environment Programme (UNEP) menyampaikan bahwa sumber daya pasir di dunia mulai berkurang. Hal ini disebabkan oleh keinginan besar yang tidak terpuaskan akan pasir, mengingat pasir adalah salah satu komoditas penting dalam proses konstruksi.

Menurut para ilmuwan iklim, kekurangan pasir yang sedang dihadapi dunia merupakan salah satu tantangan keberlanjutan terbesar di abad ke-21.

“Apakah ini waktunya untuk panik? Yah, pastinya itu tidak akan membantu. Tetapi sekarang saatnya untuk melihat dan mengubah persepsi kita tentang pasir,” ujar Pascal Peduzzi, seorang ilmuwan iklim sekaligus direktur Basis Data Informasi Sumber Daya Global (Global Resource Information Database/GRID) di UNEP, dalam webinar yang diselenggarakan oleh lembaga riset (think tank) Chatham House, yang dilansir CNBC, Jumat (5/3).

Peduzzi sendiri menyebut, bahwa tata kelola sumber daya pasir secara global merupakan masalah serius yang disadari semua orang tetapi mereka abaikan.

“Kita hanya berpikir bahwa pasir ada di mana-mana. Kita tidak pernah berpikir kita akan kehabisan pasir, sampai hal itu dimulai di beberapa tempat. Ini tentang mengantisipasi apa yang bisa terjadi dalam dekade mendatang atau lebih, karena jika kita tidak melihat ke depan dan jika kita tidak mengantisipasi, kita tidak sekedar akan memiliki masalah besar tentang pasokan pasir tetapi juga tentang perencanaan lahan,” demikian penjelasan Peduzzi.

Pascal Peduzzi, seorang ilmuwan iklim dan direktur Basis Data Informasi Sumber Daya Global (Global Resource Information Database/GRID) di UNEP. ( Foto: memento.epfl.ch )
Pascal Peduzzi, seorang ilmuwan iklim dan direktur Basis Data Informasi Sumber Daya Global (Global Resource Information Database/GRID) di UNEP. ( Foto: memento.epfl.ch )

Seperti diketahui, lanjut dia, seluruh masyarakat kita dibangun di atas pasir, yang merupakan bahan mentah paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air dan bahan penting untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pasir merupakan bahan utama yang digunakan dalam pembangunan jalan, jembatan, kereta api berkecepatan tinggi, juga proyek-proyek regenerasi lahan. Bahkan pasir, kerikil dan batu yang dilebur dapat menjadi kaca-kaca yang digunakan pada jendela, layar komputer dan ponsel pintar. Termasuk untuk memproduksi chip silikon.

Booming Konstruksi

Saat ini, pemantauan penggunaan pasir secara global tidak dapat dilakukan secara akurat. Namun, dikatakan oleh Peduzzi, bahwa pemantauan bisa diukur secara tidak langsung, yakni dengan melihat korelasi yang sangat, sangat baik antara penggunaan pasir dan semen.

PBB memperkirakan, sebanyak 4,1 miliar ton semen diproduksi setiap tahun, khususnya di Tiongkok, di mana 58% booming konstruksinya dipicu dari penggunaan pasir saat ini.

Dibutuhkan 10 ton pasir untuk menghasilkan setiap ton semen. Ini artinya, untuk konstruksi saja, dunia telah mengonsumsi sekitar 40 hingga 50 miliar ton pasir setiap tahun. Jumlah ini cukup untuk membangun tembok setinggi 27 meter dan lebar 27 meter yang mengelilingi planet ini setiap tahun.

Tingkat penggunaan pasir global yang meningkat tiga kali lipat selama dua dekade terakhir, sebagian disebabkan oleh lonjakan urbanisasi. Jumlah ini jauh melebihi tingkat pembentukan alami pasir dari pelapukan batuan oleh angin dan air.

Pasir memang dapat ditemukan di hampir setiap negara di Bumi, karena menyelimuti gurun dan garis pantai di seluruh dunia. Tetapi itu tidak berarti bahwa semua pasir berguna. Semisal butiran pasir gurun, yang terkikis oleh angin dan bukan air, bentuknya dinilai terlalu halus dan membulat untuk dapat saling mengikat dalam keperluan konstruksi.

Ada pun jenis pasir yang paling dicari harus memiliki bentuk lebih bersudut dan bisa saling mengunci. Pasir jenis ini umumnya bersumber dan diekstraksi dari dasar laut, garis pantai, tambang dan sungai-sungai di seluruh dunia.

Butiran pasir. ( Foto ilustrasi: fuelfreedom.org )
Butiran pasir. ( Foto ilustrasi: fuelfreedom.org )

Butir Perubahan

Louise Gallagher, pimpinan tata kelola lingkungan di UNEP/GRID-Geneva’s Global Sand Observatory Initiative, menuturkan bahwa masalah seputar pasir telah menjadi isu yang menyebar dan kompleks untuk diselesaikan.

Pasalnya, kata Gallagher, pelarangan ekstraksi pasir sungai pasti akan berdampak buruk bagi orang-orang dan masyarakat yang mengandalkan praktik ini untuk mencari nafkah. Seperti Tiongkok dan India yang menduduki puncak daftar wilayah di mana ekstraksi pasir berdampak pada sungai, danau, dan garis pantai. Sebagian besar sebagai akibat lonjakan infrastruktur dan permintaan konstruksi.

Sebelumnya UNEP telah memperingatkan tentang keberadaan mafia-mafia pasir yang berkembang pesat. Kelompok ini terdiri atas para pembangun, pedagang dan pengusaha yang diketahui beroperasi di negara-negara. seperti Kamboja, Vietnam, Kenya dan Sierra Leone.

“Para aktivis yang bekerja untuk menyoroti aktivitas mereka mendapat ancaman dan bahkan dibunuh,” ungkap UNEP.

Dalam kegiatan webinar yang sama, Gallagher mengatakan bahwa pasir dianggap murah, tersedia dan tidak terbatas, sebagian karena biaya lingkungan dan sosial yang cukup mahal.

“Sepertinya kami percaya nilai penggunaan tertinggi untuk bahan ini sekarang adalah untuk mengekstraknya dari lingkungan alam daripada menyimpannya dalam sistem untuk jenis manfaat lain yang kami dapatkan darinya, semisal, ketahanan iklim di pesisir daerah. Kita perlu berpikir untuk sedikit menertibkan kekacauan dari yang tergambar di mana itu sedang terjadi. Itu kabar baiknya. Kita tidak mengabaikan, saya pikir, masalah ini lebih jauh. Ini tidak terlihat seperti dulu,” kata dia.

Gallagher pun mengidentifikasi lima prioritas tata kelola sumber daya pasir untuk dua tahun ke depan yakni dengan cara melakukan kerja sama dalam standar global di semua sektor; alternatif yang hemat biaya, dan layak untuk pasir sungai dan laut; memperbarui kerangka kerja tata kelola lingkungan, sosial dan perusahaan di sektor keuangan untuk memasukkan pasir; membawa suara-suara tingkat dasar; dan menetapkan tujuan regional, nasional dan global tentang penggunaan pasir pada skala yang tepat.

“Menurut saya, sebutir pasir bisa menjadi butiran perubahan. Penting untuk fokus pada hal-hal baik yang sedang terjadi. Zurich, misalnya, sedang membangun gedung dengan 98% beton daur ulang. Kota Amsterdam juga telah berkomitmen untuk 100% membangu melingkar pada 2050 (dan) mereka menargetkan pengurangan separuh penggunaan sumber daya alam pada 2030. Itulah cara yang harus dilakukan,” ungkap Kiran Pereira, peneliti dan pendiri SandStories.org.

Sejak 2019

Peduzzi menambahkan, seruan peringatan tentang kekurangan pasir global terjadi pada 2019 ketika pemerintah mengakui krisis lingkungan untuk pertama kalinya, dan masalah tersebut akhirnya ditempatkan dalam agenda politik sebagai hasil resolusi PBB.

Sayangnya, lanjut Peduzzi kepada CNBC, tantangan tersebut masih belum ditangani secara memadai di panggung global. “Ini isu yang masih sangat baru. Dalam banyak kebijakan pembangunan, bahkan tidak ada yang membicarakan masalah pasir ini, darimana asalnya, dampak sosial atau dampak lingkungan, jadi banyak yang harus dilakukan,” katanya.

“Belum ada rencana besar, belum ada standar tentang bagaimana itu harus diekstraksi. Tidak ada perencanaan lahan di mana Anda harus mengekstraksi, dan di mana Anda tidak boleh mengekstraksi. Tidak ada pemantauan ke mana asalnya di sebagian besar tempat, dan tidak ada penegakan hukum karena negara-negara sedang memikirkan antara kebutuhan pembangunan, dan perlindungan lingkungan,” demikian penjelasan Peduzzi.

Ke depan, tambah dia, industrialisasi, pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi merupakan tren yang kemungkinan besar akan memicu pertumbuhan permintaan pasir yang eksplosif. “Saatnya untuk bangun,” pungkas Peduzzi.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN