Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Michelle Bachelet saat menghadiri konferensi pers di Jenewa, Swiss, pada 9 Desember 2020. ( Foto: FABRICE COFFRINI / AFP )

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Michelle Bachelet saat menghadiri konferensi pers di Jenewa, Swiss, pada 9 Desember 2020. ( Foto: FABRICE COFFRINI / AFP )

PBB Khawatir Myanmar Menuju Konflik Besar-Besaran

Rabu, 14 April 2021 | 07:13 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

YANGON, investor.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan Myanmar bisa berputar ke arah konflik besar-besaran seperti yang terjadi di Suriah. Selama dua bulan terakhir, tindakan keras yang diberlakukan oleh militer negara tersebut menurut kelompok pemantau lokal telah merenggut lebih dari 700 nyawa.

Myanmar berada dalam kekacauan dan melumpuhkan ekonominya, sejak militer merebut kekuasaan dari pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021. PBB kemudian melontarkan peringatan atas kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Michelle Bachelet pada Selasa (13/4) mendesak negara-negara untuk segera mengambil tindakan untuk mendorong militer Myanmar menghentikan kampanye penindasan dan pembantaian rakyatnya.

Demonstrasi harian di seluruh Myanmar telah bertemu dengan putaran langsung. Setidaknya 710 warga sipil telah tewas hingga Senin (12/4) malam, termasuk 50 anak-anak, menurut kelompok pemantau setempat.

"Saya khawatir situasi di Myanmar sedang menuju konflik besar-besaran. Ada gema yang jelas tentang Suriah pada 2011," kata Bachelet dalam sebuah pernyataan, yang dikutip AFP.

Ia merujuk pada dimulainya perang saudara di sana. Selama dekade terakhir, konflik itu menewaskan hampir 400.000 orang dan memaksa lebih dari enam juta orang meninggalkan negara itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa kelompok pemberontak etnis Myanmar di beberapa wilayah perbatasan tanpa hukum telah meningkatkan serangan terhadap militer dan polisi, menimbulkan kekhawatiran akan konflik sipil yang lebih luas.

Militer membalas dengan serangan udara. Free Burma Rangers, sebuah kelompok bantuan Kristen di daerah itu, mengatakan pihaknya telah mengungsikan lebih dari 24.000 warga sipil di negara bagian Karen pada Sabtu (10/4).

Free Burma Rangers, yang membuka klinik kesehatan di negara bagian itu, mengatakan serangan udara telah menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai lebih dari 40 orang.

Penduduk desa di beberapa daerah tidak dapat mempersiapkan tanaman padi mereka karena khawatir akan ditembaki oleh militer di lahan mereka, kata kelompok bantuan itu. "Mereka takut tidak akan panen padi musim gugur mendatang," kata kelompok tersebut.

Serangan militer mengirim beberapa ribu orang melarikan diri ke negara tetangga Thailand dalam beberapa pekan terakhir, tetapi kebanyakan telah kembali ke sisi perbatasan Myanmar.

Di Yangon, pihak berwenang memburu mereka yang bertanggung jawab atas buletin bawah tanah berjudul "Molotov".

Publikasi dimulai oleh sekelompok aktivis muda untuk memerangi pemadaman internet dan penekanan informasi yang sedang berlangsung. "Jurnal Molotov diterbitkan secara ilegal," kata media negara Global New Light of Myanmar.

Ditambahkan bahwa tindakan hukum akan diambil terhadap pihak para yang terlibat. Dalam semalam, junta kembali mengumumkan tambahan 20 orang lagi ke daftar surat perintah penangkapan 200 selebritas, termasuk aktor dan penyanyi, yang dituduh menyebarkan perbedaan pendapat terhadap militer. Jika terbukti bersalah, mereka bisa menghadapi hukuman tiga tahun penjara.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN