Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional ( International Labour Organization/ILO) Guy Ryder saat menyampaikan pidato dalam pertemuan tahunan ILO di Jenewa, Swiss. ( Foto: AFP Photo/Fabrice COFFRINI )

Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional ( International Labour Organization/ILO) Guy Ryder saat menyampaikan pidato dalam pertemuan tahunan ILO di Jenewa, Swiss. ( Foto: AFP Photo/Fabrice COFFRINI )

Pekerja Global Kehilangan Upah US$ 3,5 Triliun Selama Covid-19

Kamis, 24 September 2020 | 07:34 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) menyampaikan bahwa dampak pandemi virus corona Covid-19 terhadap lapangan kerja jauh lebih besar dari yang dikhawatirkan sebelumnya. Ratusan juta lapangan pekerjaan telah hilang dan para pekerja mengalami penurunan pendapatan secara besar-besaran.

Dalam studi baru, ILO menemukan bahwa pada pertengahan tahun jumlah jam kerja global mengalami penurunan 17,3% dibandingkan Desember tahun lalu. Angka ini setara dengan hampir 500 juta pekerja purna waktu.

Angka tersebut juga hampir setara 100 juta lapangan pekerjaan dibandingkan prediksi ILO pada Juni, yakni saat ILO memperkirakan kehilangan 14% jam kerja di akhir periode tiga bulan kedua pada tahun ini.

“Dampaknya telah menjadi bencana besar. Itu berarti penurunan sekitar US$ 3,5 triliun, atau 5,5% dari keseluruhan produk domestik bruto (PDB) global,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) ILO Guy Ryder kepada wartawan dalam jumpa pers virtual, Rabu (23/9), seperti dikutip AFP.

Dia menambahkan, pendapatan tenaga kerja global telah menyusut sebesar 10,7% selama sembilan bulan pertama pada tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Sejak muncul di Tiongkok akhir tahun lalu, virus corona Covid-19 telah merenggut hampir satu juta jiwa di seluruh dunia, dan lebih dari 31 juta kasus terinfeksi.

Selain tantangan kesehatan, karantina atau lockdowns, dan pembatasan perjalanan; tindakan-tindakan lain yang diambil untuk mengendalikan virus corona juga berdampak buruk pada lapangan pekerjaan dan pendapatan di seluruh dunia.

Memburuk Signifikan

ILO telah memperingatkan bahwa sejak laporan terakhirnya pada Juni, prospeknya selama tiga bulan terakhir pada 2020 terus memburuk secara signifikan.

Organisasi tersebut sebelumnya memperkirakan jam kerja global bakal menjadi 4,9% lebih rendah pada Kuartal IV dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi kini ILO memprediksi penurunan 8,6% atau sesuai dengan 245 juta pekerjaan purna waktu.

Menurut ILO, para pekerja di negara berkembang dan negara maju, terutama yang bekerja di pekerjaan informal lebih terpengaruh pandemi Covid-19 dibandingkan krisis sebelumnya.

ILO juga menunjukkan meskipun penutupan tempat-tempat kerja telah dilonggarkan, sebanyak 94% pekerja global mengalami pembatasan untuk bekerja di negara-negara yang masih memberlakukan aturan karantina atau lockdowns.

Sangheon Lee, kepala divisi kebijakan ketenagakerjaan ILO, memperingatkan bahwa situasi yang dialami para pekerja dapat semakin memburuk.

“Jika gelombang kedua infeksi mendorong pembatasan yang lebih ketat dan lockdowns baru maka dampak pada pasar tenaga kerja bisa sebanding dengan besarnya yang kita lihat pada Kuartal II tahun ini,” katanya.

Ryder sendiri menentang tindakan pihak-pihak yang mendorong para pembuat kebijakan untuk fokus pada ekonomi dibanding kesehatan dalam menanggapi pandemi.

“Sangat jelas bahwa kapasitas dan kecepatan ekonomi global untuk keluar dari keterpurukan pasar tenaga kerja terkait erat dengan kapasitas kita untuk mengendalikan pandemi. Kedua hal ini saling terkait sangat erat, dan kita harus bertindak berdasarkan pemahaman itu,” ujarnya.

Di samping itu, laporan ILO menunjukkan kehancuran pasar tenaga kerja bisa lebih buruk tanpa paket stimulus fiskal lebih banyak yang disediakan oleh pemerintah.

“Tanpa upaya stimulus semacam itu – sejumlah sekitar US$ 9,6 triliun secara global – jam kerja global akan menyusut hingga 28% persen selama Kuartal II,” demikian pernyataan ILO.

ILO memperingatkan, bahwa stimulus fiskal telah diberikan dengan sangat tidak merata. Ini karena negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah hanya menerima lebih sedikit bantuan sekitar US$ 982 miliar daripada rekan-rekan negara mereka yang makmur.

Ryder mendesak adanya upaya-upaya internasional untuk menutup celah yang menganga tersebut, dengan menegaskan bahwa tidak ada kelompok, negara atau wilayah yang dapat mengatasi krisis ini sendirian. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN