Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kontainer pengiriman terlihat di Pelabuhan Keelung, Taiwan. (FOTO: Sam Yeh / AFP / Getty Images)

Kontainer pengiriman terlihat di Pelabuhan Keelung, Taiwan. (FOTO: Sam Yeh / AFP / Getty Images)

Tiongkok-Taiwan

Pembatasan Perdagangan Taiwan Sekadar Politis

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:25 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Pembatasan dagang baru yang dilakukan Tiongkok terhadap produk-produk Taiwan disebut hanya memengaruhi sekitar 0,04% dari perdagangan kedua pihak. Sehingga isu pembatasan itu terlihat lebih politis ketimbang ekonomi.

Pemerintah Tiongkok dilaporkan telah mengambil langkah-langkah terhadap Taiwan pasca kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi – yang sebelumnya sempat diperingatkan konsekuensi-konsekensinya oleh Tiongkok.

Ada pun langkah-langkah pembatasan yang diambil otoritas Tiongkok, termasuk penghentian impor jeruk Taiwan, ikan beku, permen dan biskuit, serta ekspor pasir alam ke Taiwan.

Baca Juga: Perdagangan Taiwan dengan Tiongkok Jauh Lebih Besar dari AS

Sebagai informasi, Taiwan adalah negara demokrasi yang memiliki pemerintahan sendiri. Tetapi Tiongkok menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya dan provinsi yang memisahkan diri. Menurut Tiongkok, Taiwan tidak memiliki hak untuk melakukan hubungan luar negeri dan mereka merilis peringatkan selama berminggu-minggu soal kunjungan Pelosi.

Berdasarkan catatan Biro Perdagangan Taiwan, ekspor Taiwan ke Tiongkok daratan pada tahun lalu bernilai US$ 113 miliar. Sementara itu, impornya dari Tiongkok berjumlah sekitar US$ 82 miliar, belum termasuk ekspor dan impor ulang.

Sebagian besar kegiatan ekspor-impor itu terdiri atas mesin listrik, komponen elektronik dan teknologi, yang belum ditargetkan Tiongkok.

Baca Juga: Tiongkok Tidak akan Mentolerir Separatisme Taiwan

Namun ketika menyangkut tentang impor Taiwan dari Tiongkok daratan, lebih dari setengah dari US$ 82 miliar yang diperdagangkan pada 2021 adalah mesin listrik, komponen elektronik dan teknologi serta reaktor nuklir dan boiler.

Sedangkan ekspor Taiwan ke Tiongko, 65% di antaranya merupakan barang serupa pada bidang mesin listrik, elektronik, dan suku cadang teknologi.

Volume Dagang Kecil

Di sisi lain, volume perdagangan barang-barang di kawasan yang ditargetkan Tiongkok relatif kecil.

Data Biro Perdagangan Taiwan menunjukkan, ekspor pasir alam ke Taiwan – yang menjadi target Tiongkok – tergolong bernilai sangat rendah dibandingkan angka-angka tersebut di atas. Di mana jumlahnya sekitar US$ 3,5 juta pada tahun lalu.

Nilai perdagangan itu termasuk kecil dibandingkan dengan ekspor pasir alam dari Australia dan Vietnam – sebagai pemasok pasir alam terbesar ke Taiwan tahun lalu. Menurut biro perdagangannya, mereka memasok sekitar US$ 64 juta bahan mentah yang digunakan dalam konstruksi dan industri lainnya, yang mana 70% berasal dari pembelian Taiwan.

Baca Juga: Taiwan Tuding Tiongkok Persiapkan Serangan

Demikian halnya dengan perdagangan jeruk yang ditargetkan juga memiliki nilai relatif kecil, yakni US$ 10 juta pada tahun lalu. Data perdagangan Taiwan menunjukkan, Tiongkok daratan pun merupakan pembeli jeruk terbesar Taiwan,

Barang-barang lain yang ditargetkan untuk ditangguhkan ekspornya, di antaranya seperti roti, kue kering, kue, dan biskuit Taiwan ke Tiongkok daratan dengan nilai total lebih dari US$ 50 juta pada tahun lalu. Namun, menurut Biro Perdagangan Taiwan ada penangguhan khusus Tiongkok untuk dua jenis ikan beku, yaitu horse mackerel dan largehead hairtail yang nilainya mencapai lebih dari US$ 3 juta pada 2021.

“Pembalasan ekonomi Tiongkok terhadap Taiwan merupakan strategi lama dalam buku pedoman diplomatiknya. Meskipun demikian, keputusannya untuk menargetkan barang-barang perdagangan bernilai relatif rendah mencerminkan batasan strategi tekanan ekonominya. Sudah ada pembatasan pengunjung Tiongkok ke Taiwan selama beberapa tahun, yang menimbulkan lebih banyak signifikansi ekonomi. Kemudian produk-produk pertanian yang sekarang menjadi berita utama hanyalah sebagian kecil dari kelompok ekspor Taiwan. Jadi dampak utama di Taiwan tidak akan terlalu terlihat,” tutur analis utama perdagangan global di Economist Intelligence Unit, Nick Marro, yang dilansir CNBC.

Preseden

Sebagai informasi, penangguhan perdagangan Tiongkok terhadap Taiwan sendiri bukanlah fenomena baru. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya, ketegangan antara kedua negaraa bertetangga dekat itu telah menyebabkan larangan pelancong asal Tiongkok daratan ke Taiwan.

Tahun lalu, Tiongkok menghentikan impor nanas Taiwan, dengan alasan aturan terhadap keberadaan “mahluk berbahaya” yang menyertai buah tersebut. Padahal Tiongkok adalah pembeli nanas terbesar Taiwan hingga saat itu.

Menurut Bank Investasi Natixis, pembatasan perdagangan Tiongkok baru-baru ini difokuskan ke produk-produk makanan yang sangat dapat diganti, bukannya menyasar ke sektor teknologi informasi dan komunikasi di mana kedua mitra dagang memiliki volume dagangan paling banyak.

Baca Juga: Riset: Perdagangan Tiongkok Menguntungkan Barat Daripada Rusia

Natixis juga menambahkan, Tiongko daratan bakal terus mengimpor dari Taiwan selama mereka membutuhkan barang tersebut, Hal ini serupa dengan apa yang telah dilakukan dalam konflik perdagangan lain, seperti yang terjadi dengan Australia dan Amerika Serikat.

Seperti diberitakan, dalam pertikaian perdagangan Tiongkok-Australia yang dimulai pada 2020, Tiongkok membatasi pembelian beberapa barang seperti jelai dan batu bara. Namun terus membeli bijih besi dari Australia – bahan utama untuk produksi baja Tiongkok dan landasan perdagangan negara-negara tersebut.

Mungkin juga ada dampak lain dari kunjungan Pelosi yang dapat merugikan perdagangan regional yang lebih luas. Misalnya, kata para analis, latihan militer yang meningkat di Selat Taiwan dapat menunda proses pengiriman.

“Penutupan rute-rute transportasi ini – bahkan untuk sementara – memiliki konsekuensi tidak hanya bagi Taiwan, tetapi juga arus perdagangan yang terkait dengan Jepang dan Korea Selatan. Ini bukan hanya cerita untuk Taiwan dan Tiongkok, melainkan juga bagi tetangga-tetangga mereka,” kata Marro.

Baca Juga: Taiwan Kecam ‘Tetangga Jahat’ Tiongkok atas Latihan Perang

Analisis dari platform logistik Container xChange menuturkan, setiap perubahan rute jalur pelayaran untuk menghindari latihan militer dapat menimbulkan masalah bagi dunia perdagangan saat memasuki musim pelayaran puncak.

Namun, Chief Executive Officer (CEO) Container xChange Christian Roeloffs menyampaikan bahwa rantai pasokan menjadi jauh lebih tangguh selama pandemi.

Umpan balik pelanggan menunjukkan setiap pengalihan rute kapal dari Selat Taiwan akan menambah beberapa hari untuk pelayaran kapal, meskipun Roeloffs tidak mengantisipasi risiko besar pada biaya logistik. 


 


 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com