Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita melewati toko pakaian di Beijing, Tiongkok pada 14 Oktober 2019. ( Foto: AFP / WANG Zhao )

Seorang wanita melewati toko pakaian di Beijing, Tiongkok pada 14 Oktober 2019. ( Foto: AFP / WANG Zhao )

Pemulihan Sektor Konsumsi Tiongkok Masih Lambat

Kamis, 17 Juni 2021 | 06:13 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Data resmi Tiongkok pada Rabu (16/6) menunjukkan tingkat penjualan ritel naik 12,4% pada Mei 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu meleset dari ekspektasi karena para analis memperkirakan penjualan ritel Mei naik 13,6%. Data ini menunjukkan bahwa pemulihan di sektor konsumsi Tiongkok masih lambat dan tertinggal dari laju pemulihan ekonomi nasional.

Pencapaian angka tersebut seiring dengan pelonggaran permintaan yang tertahan dan catatan para analis yang memperlihatkan risiko-risiko akibat kekurangan chip global serta kebangkitan virus corona Covid-19 di dalam negeri.

Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu termasuk yang pertama di dunia yang bangkit kembali dari pandemi Covid-19 setelah melakukan pengujian massal dan karantina (lockdown) ketat.

Tetapi sejalan dengan kegiatan sehari-hari yang sebagian besar kembali normal, tingkat permintaan konsumen yang masih tertahan telah mendorong pudarnya pemulihan di hari-hari awal.

Biro Statistik Nasional melaporkan bahwa penjualan ritel tahunan naik 12,4% pada bulan lalu, tetapi angka ini merupakan penurunan tajam dari pertumbuhan 17,7% pada April dan di bawah perkiraan 14 % dalam jajak pendapat analis Bloomberg News.

Menurut Biro Statistik Nasional (NBS), meskipun Tiongkok mempertahankan pemulihan yang stabil, masih ada ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi global saat ini juga pencegahan dan pengendalian epidemi.

“Fondasi untuk pemulihan ekonomi domestik yang berkelanjutan masih perlu dikonsolidasikan,” kata laporan NBS, yang dikutip AFP pada Rabu (16/6).

Kelemahan penjualan ritel semakin diperparah dengan kurangnya semikonduktor yang merupakan komponen utama dalam sejumlah produk termasuk mobil, ponsel, peralatan rumah tangga, dan komputer. Isu ketersediaan pasokan disebabkan oleh beberapa masalah termasuk lonjakan permintaan, cuaca dingin di Amerika Serikat (AS), kekeringan di Taiwan dan kebakaran di pabrik Renesas Jepang.

Sebagai informasi, anggaran belanja Mei adalah yang paling lambat sejak awal tahun. Sementara itu, produksi industri Tiongkok meningkat 8,8% pada tahun ini, juga lebih lambat dari April dan di bawah ekspektasi.

Beberapa wabah lokal Covid-19 telah mendorong penguncian baru dan pembatasan perjalanan, termasuk gejolak baru-baru ini di pelabuhan utama dan pusat industri Guangdong.

Di sisi lain, indikator-indikator ekonomi lainnya juga berada di bawah ekspektasi. Produksi industri naik 8,8% dari tahun lalu pada Mei, namun kurang dari pertumbuhan 9% yang diprediksi para analis. Investasi aset tetap selama lima bulan pertama tahun ini naik 15,4% dari tahun lalu, meleset dari pertumbuhan 16,9% yang diperkirakan para analis yang disurvei oleh Reuters.

Juru bicara biro statistik Tiongkok mengatakan kepada wartawan bahwa Negeri Tirai Bambu sedang menghadapi situasi baru di dalam dan luar negeri pada Mei. Dia mencatat, aktivitas-aktivis bisnis di sektor jasa, yang juga mengalami pemulihan secara keseluruhan, membaik dan industri akan mampu menyerap lebih banyak pekerja.

Selain itu, tingkat pengangguran untuk keseluruhan kota turun menjadi 5% pada Mei, tetapi untuk kelompok usia 16 hingga 24 tahun naik tipis menjadi 13,8%.

“Tiongkok masih melihat pemulihan yang tidak seimbang yang disebabkan lapangan kerja, pendapatan rumah tangga, konsumsi, investasi manufaktur, sektor jasa, dan perusahaan swasta belum kembali ke tingkat sebelum pandemi,” demikian pernyataan Bruce Pang, kepala penelitian makro dan strategi di China Renaissance, yang dikutip CNBC. (afp/sumber lain)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN