Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala negosiator Brexit untuk Uni Eropa (UE), Michel Barnier. (Foto: YVES HERMAN / POOL / AFP )

Kepala negosiator Brexit untuk Uni Eropa (UE), Michel Barnier. (Foto: YVES HERMAN / POOL / AFP )

Penentuan bagi Hubungan Dagang Pasca-Brexit

Senin, 16 November 2020 | 07:41 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

BRUSSELS, investor.id – Inggris dan Uni Eropa (UE) pada Senin (16/11) akan meluncurkan putaran final negosiasi perdagangan pasca-Brexit. Setelah berbulan-bulan berunding secara sengit, kedua pihak harus bisa memupus kekhawatiran bahwa kesepakatan itu tidak akan tercapai.

Inggris sudah keluar dari UE pada Januari tahun ini. Tapi dampak ekonomi sepenuhnya akan dirasakan pada akhir tahun ini, seiring berakhirnya masa transisi selama 11 bulan.

Semua proses ini akan menggenapi hasil referendum rakyat Inggris pada 2016, yang memutuskan keluar dari UE. Sekaligus mengakhiri 47 tahun keanggotaan Inggris di blok tersebut, yang kian hari ditanggapi skeptis oleh golongan tua di Inggris.

Ke depannya, hubungan antara Inggris dan Eropa akan diatur dengan sebuah perjanjian dagang. Yang berarti perundingan saat ini harus berhasil. Yang belum dapat dipastikan karena masih banyak perbedaan dalam isu-isu kunci.

Para pejabat dari kedua pihak menganggap pertemuan puncak virtual para pemimpin UE pada Kamis (19/11) sebagai kesempatan terakhir bagi tercapainya kesepakatan.

Berarti ketua juru runding Michel Barnier dari UE dan David Frost dari Inggris hanya memiliki kesempatan empat hari lagi untuk menjembatani perbedaan. Yang tidak juga menunjukkan jalan keluar sejak perundingan dimulai pada Maret 2020.

Jika kesepakatan tercapai pekan ini, masih ada waktu bagi Parlemen Eropa untuk meratifikasinya sebelum akhir tahun.

“Semua pertimbangan menuju pada adanya kesepakatan. Tapi bila melihat apa yang terjadi selama tiga tahun terakhir, logika saja dan rasionalitas ekonomi pun tidak cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan Brexit ini,” kata seorang diplomat UE, seperti dikutip AFP, Minggu (15/11).

Jika tidak ada kesepakatan, hubungan ekonomi antara Inggris dan Eropa akan berdasarkan aturan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. Yang akan terjadi adalah kuota dan tarif tinggi serta hambatan-hambatan lain untuk perdagangan kedua pihak. Yang berpuluh tahun sebelumnya berjalan lancar.

Sementara ekonomi Inggris saat ini, yang keenam terbesar dunia, terbangun di atas keanggotaannya di UE. Pusat keuangan dunia di London, pabrik-pabrik mobil, dan perusahaan-perusahaan multinasionalnya menikmati akses tak terbatas ke 450 juta konsumen dan rantai pasokan di UE.

Karena semua itu terancam hilang, perusahaan-perusahaan besar di Inggris meminta pemerintah berkompromi dan mengulang manfaat-manfaat yang sudah dirasakan selama menjadi anggota UE. Sekalipun jika itu mengharuskan Inggris untuk menyesuaikan dengan aturan-aturan UE.

Tapi sejak Perdana Menteri (PM) Boris Johnson menjabat tahun lalu, Inggris menuntut kesepakatan tarif nol persen untuk barang dan jasa. Dan Inggris juga harus berdaulat penuh atas kebijakan-kebijakan yang mau diambil.

Perbedaan tajam di antara kedua pihak terpusat pada tiga isu. Penangkapan ikan menjadi isu paling panas secara politik walau paling tidak signifikan secara ekonomi.

UE ingin tetap mendapatkan kebebasan penuh untuk menangkap ikan di perairan Inggris. Nelayan Prancis, Belgia, Denmark, dan Belanda sudah berabad-abad menikmati itu. Tapi Inggris akses tersebut memprioritaskan masyarakat pesisir Inggris, yang sepenuhnya mendukung Brexit.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN