Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). ( Foto: ebsedu.org )

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). ( Foto: ebsedu.org )

Penerapan AI Mampu Tingkatkan PDB Asia Tenggara Hingga US$ 1 T pada 2030

Jumat, 9 Oktober 2020 | 09:50 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA – Hasil riset terbaru EDBI dan Kearney menunjukkan bahwa penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Asia Tenggara mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) di kawasan Asia Tenggara hingga US$ 1 triliun pada 2030.

Dalam hasil riset yang berjudul “Racing towards the future: artificial intelligence in Southeast Asia”, terungkap, meskipun penerapan AI masih dalam tahap awal di seluruh kawasan Asia Tenggara, tetapi lebih dari 70% responden yang terdiri dari pengguna, penyedia, dan investor telah memandang AI sebagai hal yang penting bagi masa depan Asia Tenggara. Para responden pun menyatakan penerapan AI perlu dipercepat.

AI adalah kesempatan dan juga tantangan bagi Asia Tenggara. Kendati AI dapat meningkatkan 10% hingga 18% PDB kawasan, hasil riset menunjukkan masih ada lima tantangan yang harus diatasi untuk meningkatkan ekonomi, mengatasi kesenjangan keterampilan di bidang AI, fragmentasi dan belum matangnya ekosistem AI, keterhambatan pengelolaan data, serta resistensi perusahaan dalam penerapan AI.

“Riset ini mengungkapkan bahwa Asia Tenggara dapat meraih keuntungan ekonomi yang signifikan apabila para pengguna dan penyedia di bidang AI dapat mempertajam fokus mereka dalam penggunaan contoh kasus tertentu. Selain itu, mereka juga harus fokus pada penggunaan dan pengembangan aplikasi yang dapat memberikan dampak bisnis secara positif serta berkelanjutan. Terbentuknya minat dan terciptanya lapangan pekerjaan di sektor ini akan menjadi sebuah momentum di masa yang akan datang. Disisi lain, para investor juga berperan sebagai katalisator efektif untuk mengendalikan pengembangan, penerapan, dan pertumbuhan AI di setiap wilayah,” demikian pemaparan CEO dan President EDBI Chu Swee Yeok, yang dikutip dari siaran pers Kamis (8/10).

AI sendiri sering diperlakukan sebagai solusi terefektif dalam suatu permasalahan, dan hasil riset ini mengungkapkan pentingnya fokus serta penggunaan kasus bisnis yang jelas sebelum menerapkan AI. Hal itu dibuktikan dari 80% potensi nilai AI yang diperoleh berdasarkan kurang dari 20% penggunaan kasus. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk dapat memprioritaskan kasus yang akan menerapkan AI. Mereka juga harus melibatkan seluruh stakeholders guna memastikan bahwa solusi AI yang diterapkan telah sesuai untuk menangani prioritas bisnis, dan mampu membawa dampak dalam waktu dekat.

Hasil riset juga mengindikasikan, bahwa Asia Tenggara tertinggal antara 2 hingga 3 tahun dari negara-negara maju dalam investasi AI. Negara di kawasan Asia Tenggara hanya menerima investasi untuk pengembangan AI sebesar US$ 2 per kapita antara 2015 dan 2019. Investasi ini tentunya sangat rendah apabila dibandingkan dengan investasi per kapita milik Amerika Serikat (AS) yang mampu mencapai nilai US$ 155, dan Tiongkok yang mencapai US$ 21.

Bahkan Singapura menjadi negara paling unggul di kawasan Asean yang mampu mencapai nilai investasi AI sebesar US$ 68 per kapita. Penerapan digitalisasi ekonomi dan pengembangan bisnis pada sektor jasa menjadikan Singapura sebagai negara yang dilihat sangat mampu memanfaatkan potensi penuh dari AI.

Selain itu, riset juga mengungkapkan pemanfaatan AI dalam bidang management revenue memperoleh perhatian 2-3 kali lebih banyak daripada management cost. Penerapan AI mampu memberikan pengaruh yang tinggi pada bidang marketing, sales dan supply chain. Hal ini berbeda dengan kawasan lain, yaitu Eropa dimana sekitar 70% perusahaannya lebih fokus menerapkan AI untuk produktivitas dan efisiensi. Masalah perbedaan fokus penerapan AI di setiap negara dipengaruhi oleh perbedaan kondisi sektoral, kematangan relatif infrastruktur AI, dan kesiapan suatu wilayah dalam penerapan AI.

Meskipun kesenjangan keterampilan dianggap sebagai penghalang dalam penerapan AI di Asia Tenggara, hasil riset menunjukkan bahwa persepsi tersebut terlalu berlebihan. Kesenjangan dapat segera tertutupi dengan tersedianya model dan penyedia yang cakap di bidang AI saat ini. Saat ini pun sudah banyak talenta sumber daya manusia (SDM) yang mampu meningkatkan keterampilan di bidang bisnis secara relevan.

Untuk mengoptimalisasi manfaat AI yang diperoleh di kawasan Asia Tenggara, riset ini memberikan rekomendasi bagi lima kelompok pemangku kepentingan yaitu pemerintah, perusahaan pengguna AI, penyedia dibidang teknologi dan AI, investor, dan akademisi. Penerapan rekomendasi ini diharapkan membantu mempercepat pengembangan AI serta memajukan 5 sektor utama yaitu manufaktur, ritel, jasa finansial, pemerintah, dan kesehatan di kawasan Asia Tenggara.

“Nilai AI tidak terletak pada teknologi, tetapi pada bagaimana AI dapat membantu bisnis untuk memecahkan suatu masalah dan menciptakan perubahan dalam waktu dekat. Hasil riset kami menekankan perlunya sebuah agenda perbaikan yang komprehensif baik dalam tingkat perusahaan maupun tingkat nasional untuk memperoleh rewards ekonomi jangka panjang yang menarik,” kata Nikolai Dobberstein, partner Kearney dan penulis hasil riset.

Sebagai informasi, riset dilakukan melalui sebuah survei terhadap lebih dari 110 pengguna, penyedia, dan investor yang bergerak dalam bidang AI. Selain itu, riset ini juga menuangkan hasil wawancara terhadap lebih dari 25 perusahaan dan lembaga pemerintah yang tersebar di Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN